Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Kisah Omjay: Dunia Terbalik Selama Berada di China Tahun 2019

2 Agustus 2026   03:23 Diperbarui: 2 Agustus 2026   15:34 166 6 2

Kerinduan terhadap bacaan Al-Qur'an akhirnya saya obati dengan memutar murattal Syekh Mishary Rashid Alafasy melalui internet. Alunan ayat-ayat suci yang memenuhi kamar sederhana di asrama menghadirkan ketenangan di tengah suasana yang sangat berbeda dari tanah air.

Tantangan berikutnya datang dari akses internet. Di Indonesia, kita begitu mudah membuka Google, YouTube, maupun WhatsApp. Di China, kenyataannya tidak demikian. Banyak layanan digital yang biasa digunakan ternyata dibatasi. 

Untuk mengakses beberapa aplikasi, kami harus menggunakan VPN. Masyarakat China sendiri lebih banyak menggunakan WeChat sebagai sarana komunikasi sehari-hari. 

Pengalaman ini mengajarkan bahwa setiap negara memiliki kebijakan digital yang berbeda sesuai dengan sistem yang mereka terapkan.

Hal sederhana lain yang sempat membuat kami kebingungan adalah menentukan arah kiblat. Di kamar asrama tidak tersedia penunjuk arah kiblat sebagaimana lazim ditemukan di hotel-hotel di Indonesia. 

Beruntung, teknologi telepon pintar membantu kami menemukan arah yang tepat melalui aplikasi penunjuk kiblat. Pengalaman ini kembali menunjukkan bahwa perkembangan teknologi dapat menjadi solusi dalam menjalankan ibadah di mana pun berada.

Di balik berbagai perbedaan tersebut, saya juga melihat banyak hal yang patut dipelajari dari China. Negara dengan jumlah penduduk lebih dari satu miliar jiwa ini mampu membangun sistem transportasi yang tertata, lingkungan yang bersih, serta pendidikan yang berkembang sangat pesat. 

Selama 21 hari mengikuti program pembelajaran di CUMT, kami tidak hanya mempelajari pendekatan STEAM dan sistem pendidikan mereka, tetapi juga menyaksikan bagaimana budaya disiplin diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah melihat penggunaan kendaraan listrik. Di dalam kampus maupun di berbagai sudut kota, suara sepeda motor hampir tidak terdengar. 

Mayoritas masyarakat menggunakan motor listrik yang diisi ulang dayanya seperti mengisi baterai telepon seluler. Suasana jalan menjadi lebih tenang, polusi udara berkurang, dan lingkungan terasa lebih nyaman. 

Sebagai orang Indonesia, saya membayangkan betapa menyenangkannya jika suatu hari kota-kota di Indonesia juga dapat menikmati udara yang lebih bersih melalui penggunaan kendaraan ramah lingkungan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5