Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Dunia Terbalik Selama Berada di China. Inilah Kisah Omjay untuk pembaca kompasiana tercinta. Tahun 2019 adalah tahun dimana Omjay berangkat dan belajar di china selama 21 hari. Sebuah perjalanan yang akan sellau dikenang.
"Perjalanan bukan hanya membawa kita ke tempat baru, tetapi juga mengubah cara kita memandang dunia."
Hari-hari pertama berada di China memberikan pengalaman yang benar-benar berbeda. Hampir setiap aktivitas terasa seperti berada di "dunia yang terbalik". Bukan karena semuanya aneh, melainkan karena begitu banyak kebiasaan yang selama ini dianggap biasa di Indonesia ternyata berbeda ketika dijalani di Negeri Tirai Bambu. Inilah kisah Omjay Pindah negara.

Perasaan itu mulai muncul sejak rombongan kami meninggalkan Bandara Nanjing menuju China University of Mining and Technology (CUMT) di Kota Xuzhou.
Perjalanan darat selama hampir enam jam menjadi kesempatan pertama untuk mengamati kehidupan masyarakat China dari dekat. Di sepanjang jalan, saya terus memperhatikan berbagai hal yang tampak sederhana, tetapi justru meninggalkan kesan mendalam.
Hal pertama yang langsung menarik perhatian adalah posisi pengemudi bus. Jika di Indonesia sopir berada di sebelah kanan dengan kendaraan berjalan di lajur kiri, di China justru sebaliknya.
Sopir duduk di sebelah kiri dan seluruh kendaraan melaju di sisi kanan jalan. Bagi kami yang baru pertama kali datang, pemandangan ini terasa begitu asing. Seolah-olah dunia benar-benar sedang diputar balik.
Perbedaan lain yang langsung terasa adalah cuaca. Saat itu China masih berada pada musim dingin. Udara di luar sangat menusuk hingga mencapai suhu di bawah nol derajat Celsius.
Namun, begitu memasuki bus atau gedung, tubuh langsung disambut kehangatan dari sistem pemanas ruangan. Pengalaman ini sangat kontras dengan Indonesia.
Di tanah air, kita justru mencari kesejukan dari pendingin ruangan karena cuaca di luar cenderung panas. Di China, justru heater menjadi penyelamat dari dinginnya musim.
Perbedaan tidak hanya terasa pada kondisi alam, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Setiap menjelang Subuh di Indonesia, suara azan berkumandang dari berbagai masjid.
Suasana pagi dipenuhi lantunan ayat suci Al-Qur'an yang menenangkan hati. Namun, selama berada di Xuzhou, suasana itu tidak saya temukan. Yang terdengar justru suara kereta cepat yang melintas di dekat kampus.
Keheningan pagi menghadirkan pengalaman baru sekaligus rasa rindu terhadap kampung halaman. Omjay sangat rindu dengan suasana rumah bersama keluarga tercinta.
Kerinduan itu semakin terasa ketika tiba waktu salat. Di Indonesia, masjid atau musala mudah ditemukan di hampir setiap sudut kota. Di Xuzhou, kami harus mencari masjid yang letaknya cukup jauh untuk menunaikan Salat Jumat.
Bahkan saat transit di bandara, kami tidak menemukan ruang ibadah khusus bagi umat Islam sehingga terpaksa melaksanakan salat di area kosong di bawah eskalator. Pengalaman sederhana itu membuat saya semakin bersyukur atas kemudahan fasilitas ibadah yang tersedia di Indonesia.
Pengalaman menarik lainnya terjadi saat makan malam pertama di asrama kampus. Kami disuguhi semangkuk nasi dengan lauk dan sayuran dalam porsi yang sangat besar.
Bagi sebagian peserta dari Indonesia, jumlah tersebut cukup untuk dua bahkan tiga orang. Banyak teman yang kesulitan menghabiskan makanan karena tidak terbiasa dengan porsi sebesar itu.
Akhirnya muncul usulan kepada panitia agar sistem penyajian makanan diubah menjadi prasmanan sehingga setiap peserta dapat mengambil makanan sesuai kebutuhannya. Dengan begitu, makanan tidak terbuang sia-sia dan setiap orang dapat menikmati hidangan secukupnya.
Perbedaan budaya juga terasa dalam kehidupan religius. Di Indonesia, kajian agama, pengajian, dan lantunan ayat suci Al-Qur'an begitu mudah dijumpai. Selama berada di China, suasana tersebut tentu tidak saya temukan.
Kerinduan terhadap bacaan Al-Qur'an akhirnya saya obati dengan memutar murattal Syekh Mishary Rashid Alafasy melalui internet. Alunan ayat-ayat suci yang memenuhi kamar sederhana di asrama menghadirkan ketenangan di tengah suasana yang sangat berbeda dari tanah air.
Tantangan berikutnya datang dari akses internet. Di Indonesia, kita begitu mudah membuka Google, YouTube, maupun WhatsApp. Di China, kenyataannya tidak demikian. Banyak layanan digital yang biasa digunakan ternyata dibatasi.
Untuk mengakses beberapa aplikasi, kami harus menggunakan VPN. Masyarakat China sendiri lebih banyak menggunakan WeChat sebagai sarana komunikasi sehari-hari.
Pengalaman ini mengajarkan bahwa setiap negara memiliki kebijakan digital yang berbeda sesuai dengan sistem yang mereka terapkan.
Hal sederhana lain yang sempat membuat kami kebingungan adalah menentukan arah kiblat. Di kamar asrama tidak tersedia penunjuk arah kiblat sebagaimana lazim ditemukan di hotel-hotel di Indonesia.
Beruntung, teknologi telepon pintar membantu kami menemukan arah yang tepat melalui aplikasi penunjuk kiblat. Pengalaman ini kembali menunjukkan bahwa perkembangan teknologi dapat menjadi solusi dalam menjalankan ibadah di mana pun berada.
Di balik berbagai perbedaan tersebut, saya juga melihat banyak hal yang patut dipelajari dari China. Negara dengan jumlah penduduk lebih dari satu miliar jiwa ini mampu membangun sistem transportasi yang tertata, lingkungan yang bersih, serta pendidikan yang berkembang sangat pesat.
Selama 21 hari mengikuti program pembelajaran di CUMT, kami tidak hanya mempelajari pendekatan STEAM dan sistem pendidikan mereka, tetapi juga menyaksikan bagaimana budaya disiplin diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah melihat penggunaan kendaraan listrik. Di dalam kampus maupun di berbagai sudut kota, suara sepeda motor hampir tidak terdengar.
Mayoritas masyarakat menggunakan motor listrik yang diisi ulang dayanya seperti mengisi baterai telepon seluler. Suasana jalan menjadi lebih tenang, polusi udara berkurang, dan lingkungan terasa lebih nyaman.
Sebagai orang Indonesia, saya membayangkan betapa menyenangkannya jika suatu hari kota-kota di Indonesia juga dapat menikmati udara yang lebih bersih melalui penggunaan kendaraan ramah lingkungan.
Kebiasaan masyarakat dalam berolahraga pun berbeda. Jika di Indonesia banyak orang memilih berolahraga pada pagi hari, masyarakat Xuzhou justru lebih sering melakukannya menjelang sore atau malam.
Cuaca musim dingin membuat olahraga pagi bukan pilihan yang nyaman. Saya sendiri sempat merasakan bagaimana dinginnya udara pagi ketika keluar tanpa perlengkapan yang memadai.
Baru beberapa saat berada di luar, tubuh langsung menggigil hebat. Beruntung, seorang rekan perjalanan, Pak Sarno, meminjamkan sarung tangan kepada saya. Kebaikannya menjadi salah satu kenangan hangat di tengah suhu udara yang sangat dingin.
Semakin lama berada di China, saya semakin menyadari bahwa istilah "dunia terbalik" bukanlah sesuatu yang bernada negatif. Justru berbagai perbedaan itulah yang memperkaya pengalaman dan membuka wawasan.
Saya belajar bahwa setiap negara memiliki budaya, kebiasaan, dan sistem kehidupan yang dibangun berdasarkan sejarah serta nilai-nilai masyarakatnya masing-masing.
Tidak semuanya harus ditiru, tetapi banyak hal yang dapat dijadikan inspirasi untuk memperbaiki kehidupan di Indonesia.
Perjalanan selama 21 hari di China akhirnya mengajarkan satu pelajaran penting. Belajar tidak selalu berlangsung di ruang kelas. Jalan raya, kampus, transportasi umum, tempat makan, hingga kehidupan masyarakat sehari-hari dapat menjadi ruang belajar yang luar biasa.
Dari setiap perbedaan, saya belajar untuk lebih menghargai keberagaman. Dari setiap pengalaman, saya menemukan inspirasi baru sebagai seorang guru.
Baca Juga: https://wijayalabs.com/2019/03/04/hari-pertama-belajar-di-negara-china/
Saya pulang ke Indonesia bukan hanya membawa oleh-oleh atau foto perjalanan, melainkan membawa cara pandang yang lebih luas tentang pendidikan, kedisiplinan, teknologi, dan kehidupan.
Dunia memang terasa terbalik selama berada di China tahun 2019. Namun justru dari "dunia yang terbalik" itulah saya menemukan banyak pelajaran yang dapat diterapkan untuk membangun pendidikan Indonesia menjadi lebih baik.
Salam Blogger Persahabatan.
Omjay/Kakek Jay
Guru Blogger Indonesia

Berikut 6 tag SEO yang relevan untuk artikel "Dunia Terbalik Selama Berada di China":
Omjay Guru Blogger Indonesia