Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil OMJAY. Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, Menulis lah di blog Kompasiana Sebelum Tidur. HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Oleh: Wijaya Kusumah (Omjay), Guru Blogger Indonesia, Blog https://wijayalabs.com
Ada banyak hal yang bisa kita pelajari ketika berkunjung ke sebuah kegiatan internasional. Bukan hanya bertemu orang-orang dari berbagai negara, bukan pula sekadar mendengarkan presentasi dalam bahasa Inggris.
Lebih dari itu, kita bisa membuka wawasan, memperluas pergaulan, dan memahami bagaimana dunia yang kita tinggali ini bekerja.
Itulah yang saya rasakan ketika mengikuti kegiatan ICANN87 Annual General Meeting di Bali, Indonesia. Sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, saya merasa bersyukur mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung dari sebuah forum internasional yang membahas tata kelola Internet.
Selama ini, kita mungkin menganggap Internet sebagai sesuatu yang biasa. Setiap hari kita membuka Google, mengunjungi situs web, mengirim pesan melalui WhatsApp, mengikuti pertemuan daring, atau menulis artikel di blog. Semuanya terasa mudah. Tinggal mengetik alamat situs, menekan tombol, lalu informasi yang kita butuhkan muncul di layar.
Namun, pernahkah kita bertanya, siapa yang memastikan agar nama domain dan sistem pengalamatan Internet dapat bekerja dengan baik? Siapa yang ikut merumuskan kebijakan agar Internet tetap berjalan secara global? Dan bagaimana masyarakat dari berbagai negara dapat ikut menyuarakan kepentingannya?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat saya semakin tertarik mempelajari ICANN.
Di tengah kegiatan ICANN87 di Bali, perhatian saya tertuju pada sebuah poster berjudul ICANN 2027 Nominating Committee. Poster tersebut menjelaskan tentang Komite Nominasi ICANN atau yang biasa disebut NomCom.
Sekilas, poster itu tampak seperti media informasi biasa. Ada judul besar, penjelasan singkat, sejumlah posisi kepemimpinan, dan informasi kontak. Namun, bagi saya yang setiap hari mengajar Informatika, poster tersebut menyimpan banyak pelajaran penting.
Saya pun mencoba membacanya dengan saksama.
NomCom merupakan komite independen yang bertanggung jawab memilih sejumlah pemimpin untuk menduduki posisi penting dalam struktur ICANN. Proses pemilihan ini mencakup beberapa posisi di Dewan Direksi ICANN, Komite Penasihat At-Large atau ALAC, serta Dewan Organisasi Pendukung Nama Kode Negara atau ccNSO dan Nama Generik atau GNSO.
Dari poster tersebut, saya belajar bahwa pengelolaan Internet bukan hanya persoalan teknis. Ada tata kelola, kebijakan, kepemimpinan, dan proses pengambilan keputusan yang harus berjalan dengan baik.
Internet yang kita gunakan setiap hari ternyata memiliki ekosistem yang kompleks. Di balik kemudahan mengakses informasi, ada banyak pihak yang bekerja untuk menjaga agar sistem Internet dapat terus berfungsi sesuai dengan peran dan tanggung jawab masing-masing.
Sebagai guru, saya merasa pengetahuan semacam ini penting untuk dibagikan kepada peserta didik. Anak-anak jangan hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka juga perlu memahami bagaimana teknologi bekerja, siapa yang mengelolanya, serta nilai-nilai yang harus dijaga dalam penggunaannya.
Poster ICANN 2027 NomCom menjelaskan sembilan posisi kepemimpinan yang dibuka melalui proses nominasi. Posisi tersebut terdiri atas tiga posisi di Dewan Direksi ICANN, tiga posisi di ALAC, satu posisi di Dewan ccNSO, dan dua posisi di Dewan GNSO.
Dewan Direksi ICANN memiliki peran penting dalam mengawasi kegiatan dan menjalankan kewenangan organisasi untuk memenuhi misinya. Para anggotanya diharapkan bertindak demi kepentingan terbaik ICANN, bukan sekadar mewakili kepentingan organisasi atau perusahaan tempat mereka bekerja.
Sementara itu, ALAC berperan memberikan masukan mengenai kebijakan dan operasional ICANN dengan memperhatikan kepentingan pengguna akhir Internet. Keberadaan komite ini mengingatkan saya bahwa pengguna Internet harus mendapat perhatian dalam pembahasan kebijakan.
Selanjutnya, ccNSO berkaitan dengan kebijakan nama domain tingkat atas kode negara, seperti domain yang menggunakan akhiran negara tertentu. Adapun GNSO berperan dalam pengembangan kebijakan terkait nama domain tingkat atas generik.
Saya menyadari bahwa setiap bagian memiliki tanggung jawab yang berbeda. Ada yang berfokus pada pengawasan organisasi, ada yang menyuarakan kepentingan pengguna, dan ada pula yang terlibat dalam pengembangan kebijakan nama domain.
Bagi saya, pembagian peran tersebut merupakan pelajaran tentang pentingnya kerja sama. Sebuah sistem yang besar tidak mungkin dikelola dengan baik apabila semua orang hanya ingin menjadi pemimpin tanpa memahami tanggung jawabnya.
Dalam dunia pendidikan pun demikian. Sekolah membutuhkan kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, orang tua, dan masyarakat. Semuanya memiliki peran yang saling melengkapi.

Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah keberadaan At-Large Advisory Committee atau ALAC.
Komite ini berkaitan dengan kepentingan pengguna akhir Internet. Artinya, pembahasan tentang Internet tidak boleh hanya berpusat pada kepentingan teknis atau kepentingan penyedia layanan. Suara masyarakat yang menggunakan Internet setiap hari juga perlu diperhatikan.
Saya membayangkan jutaan guru, siswa, mahasiswa, orang tua, pelaku usaha, dan masyarakat umum yang menggunakan Internet untuk berbagai keperluan. Mereka mungkin tidak mengetahui bagaimana tata kelola Internet berlangsung, tetapi kehidupan mereka sangat dipengaruhi oleh kebijakan dan perkembangan teknologi digital.
Guru membutuhkan Internet untuk mencari sumber belajar. Siswa memanfaatkannya untuk mengerjakan tugas. Penulis menggunakannya untuk menerbitkan artikel. Pelaku usaha memerlukan Internet untuk memperkenalkan produk dan menjangkau pelanggan.
Karena itu, kepentingan pengguna perlu menjadi bagian dari percakapan tentang masa depan Internet.
Pelajaran ini sangat relevan dengan pengalaman saya sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta. Ketika mengajarkan teknologi kepada siswa, saya tidak ingin mereka sekadar hafal istilah atau mahir mengoperasikan aplikasi. Saya ingin mereka memahami bahwa teknologi harus digunakan untuk membantu manusia.
Teknologi yang baik bukan hanya teknologi yang canggih, tetapi juga teknologi yang bermanfaat, aman, dapat diakses, dan memperhatikan kebutuhan penggunanya.
Mengenal ccNSO dan GNSO: Belajar dari Nama Domain
Poster tersebut juga menjelaskan peran ccNSO dan GNSO. Kedua organisasi pendukung ini memiliki perhatian terhadap pengembangan kebijakan nama domain, tetapi dengan cakupan yang berbeda.
ccNSO berkaitan dengan nama domain tingkat atas kode negara atau country-code Top-Level Domains (ccTLD). Sementara itu, GNSO berfokus pada kebijakan nama domain tingkat atas generik atau generic Top-Level Domains (gTLD).
Bagi sebagian orang, istilah tersebut mungkin terdengar rumit. Namun, sebagai guru Informatika, saya melihatnya sebagai kesempatan untuk menjelaskan Internet melalui sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ketika kita mengetik alamat situs web, kita sedang menggunakan salah satu bagian dari sistem penamaan Internet. Nama domain membantu pengguna mengenali dan menemukan layanan di Internet tanpa harus mengingat alamat IP numerik yang digunakan dalam komunikasi jaringan.
Sistem penamaan tersebut perlu dikelola melalui proses dan kebijakan yang terkoordinasi. Di sinilah pentingnya organisasi yang mempunyai peran sesuai dengan bidangnya.
Saya membayangkan suatu hari nanti saya bisa membawa pengalaman dari ICANN87 ke ruang kelas. Saya ingin mengajak siswa membuka situs web, memperhatikan nama domainnya, kemudian mendiskusikan bagaimana sistem Internet membantu mereka mengakses informasi.
Belajar Informatika tidak harus selalu dimulai dari buku teks. Kadang-kadang, sebuah pengalaman nyata dari forum internasional justru bisa membuat pelajaran lebih menarik dan mudah dipahami.
Ada satu pelajaran yang terus saya renungkan setelah membaca poster tersebut: kepemimpinan membutuhkan integritas.
Orang yang diberi amanah dalam sebuah organisasi tidak boleh hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri atau kelompok yang mendukungnya. Ia harus memahami tujuan organisasi dan menjalankan tanggung jawabnya secara sungguh-sungguh.
Dalam tata kelola Internet, keputusan yang diambil oleh berbagai pihak dapat berkaitan dengan kepentingan komunitas global. Karena itu, transparansi, tanggung jawab, dan kemampuan bekerja sama menjadi hal yang penting.
Saya teringat dunia pendidikan di Indonesia. Guru juga memiliki amanah yang tidak ringan. Setiap hari, kita berhadapan dengan anak-anak yang sedang tumbuh dan membangun masa depannya.
Murid bukan sekadar angka dalam daftar hadir. Mereka adalah manusia yang mempunyai mimpi, potensi, dan karakter yang perlu dikembangkan.
Guru yang baik tidak hanya mengajar demi menyelesaikan materi. Ia juga mendidik dengan hati, memberikan teladan, serta membantu murid belajar mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Nilai-nilai tersebut sebenarnya berlaku di mana saja, termasuk dalam organisasi internasional seperti ICANN.
Saya percaya pengalaman belajar akan lebih bermakna apabila dibagikan kepada orang lain.
Karena itu, pengalaman mengikuti ICANN87 di Bali tidak ingin saya simpan sebagai kenangan pribadi semata. Saya ingin menuliskannya agar dapat dibaca oleh guru, mahasiswa, pelajar, dan masyarakat luas.
Sebagai guru Informatika, saya melihat banyak hubungan antara tata kelola Internet dan pembelajaran di sekolah. Siswa perlu mengenal jaringan komputer, Internet, nama domain, keamanan digital, etika berkomunikasi, serta dampak sosial teknologi.
Ketika membahas kecerdasan artifisial atau AI, misalnya, saya selalu mengingatkan bahwa teknologi merupakan alat bantu. Manusia tetap harus berpikir kritis, memeriksa kebenaran informasi, menjaga privasi, dan bertanggung jawab atas hasil pekerjaannya.
Begitu pula ketika membahas Internet. Siswa tidak cukup hanya mengetahui cara menggunakan mesin pencari atau membuat akun media sosial. Mereka perlu memahami risiko situs web palsu, pencurian data, penyalahgunaan informasi, dan pentingnya melindungi identitas digital.
Pengalaman di ICANN87 memberi saya tambahan perspektif untuk menjelaskan bahwa Internet bukan ruang tanpa aturan dan tanpa tanggung jawab. Ada tata kelola yang perlu dipahami, ada kepentingan yang harus diseimbangkan, dan ada kerja sama yang dibutuhkan agar Internet tetap bermanfaat bagi masyarakat.
Saya berharap pengalaman ini bisa menjadi bahan diskusi bersama rekan-rekan guru di Indonesia. Kita dapat membuat pembelajaran yang menghubungkan materi di kelas dengan perkembangan teknologi dunia.
Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar untuk menghadapi ujian, tetapi juga mempersiapkan diri menjadi warga digital yang cerdas dan bertanggung jawab.
Saya sudah lama percaya bahwa menulis merupakan cara sederhana untuk merawat ingatan.
Ketika sebuah pengalaman dituliskan, kita dapat membacanya kembali, mempelajari maknanya, dan membagikannya kepada orang lain. Pengalaman yang semula hanya diketahui oleh diri sendiri bisa menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang.
Itulah yang saya lakukan melalui blog dan tulisan-tulisan di Kompasiana. Saya berusaha mengabadikan perjalanan, pertemuan, pengalaman mengajar, dan berbagai pelajaran kehidupan yang saya temui.
Berada di Bali untuk mengikuti ICANN87 merupakan kesempatan belajar yang berharga. Dari sebuah poster tentang Komite Nominasi ICANN 2027, saya mendapatkan bahan untuk merenungkan kepemimpinan, partisipasi masyarakat, tata kelola Internet, dan tanggung jawab seorang pendidik.
Saya menyadari bahwa menjadi guru pada zaman sekarang menuntut kita untuk terus belajar. Dunia berubah dengan cepat. Teknologi berkembang, cara manusia berkomunikasi berubah, dan tantangan pendidikan semakin beragam.
Kalau guru berhenti belajar, bagaimana mungkin kita mengajak murid untuk terus berkembang?
Oleh sebab itu, saya ingin terus membuka diri terhadap pengalaman baru. Saya ingin membaca, berdiskusi, mengikuti kegiatan pendidikan dan teknologi, lalu membagikan pelajaran yang saya peroleh melalui tulisan.
Bagi saya, belajar tidak mengenal batas usia dan tempat. Bahkan ketika berada jauh dari ruang kelas di Jakarta, saya tetap bisa belajar sesuatu yang nantinya berguna bagi murid-murid saya.
Mengikuti ICANN87 di Bali memberikan pengalaman yang memperkaya wawasan saya tentang Internet. Poster ICANN 2027 Nominating Committee mengingatkan saya bahwa di balik sistem digital yang kita gunakan setiap hari, terdapat struktur organisasi, proses pemilihan pemimpin, serta tanggung jawab yang harus dijalankan.
Kita mungkin tidak semuanya akan terlibat langsung dalam tata kelola Internet global. Namun, kita semua adalah bagian dari masyarakat yang menggunakan Internet dan merasakan dampaknya.
Sebagai guru, saya ingin terus mengajak murid untuk menjadi pengguna teknologi yang cerdas, kritis, kreatif, dan bertanggung jawab. Sebagai penulis, saya ingin membagikan pengalaman agar semakin banyak orang memperoleh manfaat dari perjalanan belajar ini.
Saya, Omjay, guru blogger Indonesia, pulang dari setiap pengalaman dengan membawa satu pertanyaan sederhana: pelajaran apa yang bisa saya bagikan kepada orang lain?
Sebab bagi saya, ilmu akan semakin bermakna ketika dibagikan. Pengalaman akan semakin berharga ketika dituliskan. Dan teknologi akan semakin bermanfaat ketika digunakan untuk memajukan kehidupan manusia.
Mari terus belajar, terus menulis, dan terus menginspirasi. Sebab Internet menghubungkan dunia, sedangkan pendidikan membantu kita memahami bagaimana menggunakan hubungan itu untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.
Salam blogger persahabatan.
Omjay/Kakek Jay
Guru Informatika SMP Labschool Jakarta
Guru Blogger Indonesia
