JATIM INFO
JATIM INFO Freelancer

Zuliatin adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki ketertarikan besar pada dunia menulis dan informasi publik. Di tengah aktivitas sehari-hari, saya menemukan ruang untuk berkarya melalui tulisan, terutama dengan mengangkat berbagai cerita dan potensi yang ada di sekitar masyarakat. Saya senang menulis tentang pertanian, UMKM, potensi desa, kebijakan pemerintah, serta isu lingkungan. Bagi saya, setiap desa memiliki cerita dan potensi yang layak dikenal. Petani, pelaku UMKM, masyarakat desa, hingga berbagai program pemerintah memiliki sisi menarik yang perlu disampaikan kepada publik secara informatif dan berimbang. Melalui tulisan di Kompasiana, saya ingin ikut membuka ruang bagi masyarakat untuk berbagi informasi, memperkenalkan potensi daerah, mengangkat persoalan di lingkungan sekitar, sekaligus memberikan apresiasi kepada mereka yang terus berkarya dan membangun daerahnya. Saya percaya, menulis bukan hanya tentang menyampaikan informasi, tetapi juga tentang merekam kehidupan, mengangkat suara masyarakat, dan membuka mata terhadap potensi yang sering kali luput dari perhatian. Menulis dari sekitar, mengangkat potensi negeri

Selanjutnya

Tutup

Video

Menyelamatkan Ekosistem Telaga Lewat Tradisi Grobyak Gunungkidul

7 September 2026   03:29 Diperbarui: 7 September 2026   03:29 169 0 0


GUNUNGKIDUL --- Tradisi tidak selalu berhenti sebagai warisan budaya. Di Gunungkidul, tradisi grobyak menjadi salah satu gambaran bagaimana kearifan lokal dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga keberlanjutan ekosistem telaga.

Grobyak merupakan tradisi masyarakat yang berkaitan dengan aktivitas menangkap ikan secara bersama-sama di telaga. Namun, di balik kemeriahan tradisi tersebut terdapat pesan ekologis yang penting: telaga bukan sekadar tempat mencari ikan, melainkan bagian dari ruang hidup masyarakat yang harus dijaga.

Keterlibatan warga dalam tradisi ini memperlihatkan kuatnya hubungan antara masyarakat dengan sumber daya air. Telaga memiliki fungsi penting bagi lingkungan, mulai dari menjaga ketersediaan air hingga menjadi habitat berbagai organisme.

Karena itu, keberlangsungan tradisi membutuhkan kesadaran untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Pemanfaatan hasil telaga semestinya tidak mengorbankan keberadaan ikan dan organisme lainnya.

Di tengah tekanan terhadap lingkungan akibat perubahan penggunaan lahan, pencemaran, dan berkurangnya sumber air, pendekatan berbasis budaya menjadi semakin relevan. Tradisi lokal dapat menjadi ruang edukasi bahwa menjaga alam bukan semata tanggung jawab pemerintah, tetapi juga bagian dari kehidupan masyarakat.

Grobyak akhirnya bukan hanya tentang menangkap ikan. Ia dapat dimaknai sebagai pengingat bahwa ketika masyarakat menjaga telaga, sesungguhnya mereka sedang menjaga sumber kehidupan bagi generasi berikutnya.

Bagi Kompasioner, merawat tradisi berarti juga merawat lingkungan. Sebab, budaya yang hidup akan kehilangan makna jika alam yang menjadi ruang hidupnya tidak lagi terjaga.