Ire Rosana Ullail
Ire Rosana Ullail Blogger

Content Writer | Sosial Budaya | Travel | Humaniora | Lifestyle | Bisnis | Sastra | Book Sniffer | Bibliophile | Bibliomania | Tsundoku | email : irerosana@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Video Artikel Utama

Masjid Cut Meutia, Saksi Sejarah Terbentuknya Kawasan Elit Era Kolonial

28 April 2024   10:12 Diperbarui: 30 April 2024   15:45 661 16 6


Dari pintu selatan Stasiun Gondang Dia, berjalanlah ke arah selatan, melewati barisan kios-kios penjual makanan lalu berbelok ke arah kiri. 

Sekitar 50 meter di seberang jalan kamu akan menemukan sebuah bangunan klasik bergaya era kolonial dengan dominasi warna putih yang masih berdiri kokoh hingga saat ini.

Di depan bangunan itu ada gapura melengkung bertuliskan "Masjid Cut Meutia". Hm, mungkin kamu akan berpikir, kenapa ada masjid namun bergaya arsitektur Kolonial? Mari kita cari tahu bersama!

Sumber : dokpri/irerosana
Sumber : dokpri/irerosana

Bangunan ini berdiri tahun 1912, tahun yang sama dengan tenggelamnya kapal pesiar nan megah, Titanic. Tepatnya 112 tahun yang lalu.

Bisa dikatakan juga bahwa bangunan ini adalah salah satu saksi sejarah berdirinya kawasan elit para petinggi Eropa di Menteng, Jakarta Pusat. Kala itu Belanda ingin mengadakan pemekaran wilayah di bagian selatan Weltevreden (daerah dari RSPAD Gatot Subroto hingga Museum Gajah). Tujuannya adalah untuk membatasi terbentuknya kawasan liar oleh penduduk pribumi.

Proyek ini dipimpin oleh seorang arsitek asal Belgia bernama P.A.J Moojen di bawah perusahaan yang bernama "Naamloze Vennootschap de Bouwploeg".

De Bouwploeg sendiri menjadi bangunan pertama yang dibangun untuk dijadikan kantor oleh biro arsitek tersebut. Setelahnya satu per satu bangunan lain juga dibangun termasuk Kunstkring, sebuah galeri seni sekaligus rumah prestisius bagi karya para seniman Hindia-Belanda.

Perumahan elit milik para petinggi kolonial itu memiliki luas hingga 69 hektar. Saking bagus dan miripnya dengan kawasan di Eropa, seorang arsitek dari Belanda yang bernama Berlage sampai-sampai memuji dan menyebutnya sebagai Europese Buurt (lingkungan Eropa).

Usai N.V de Bouwploeg kukut, gedung ini sempat difungsikan sebagai Provinciate Watastaat  sebuah departemen yang mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan irigasi, sungai dan kawan-kawannya namun, masih juga membawahi pembangunan dan pengawasan pembangunan untuk gedung umum.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2