Ia menanamkan rasa ingin tahu. Ia mengajarkan berpikir kritis. Ia memperlihatkan bahwa kegagalan adalah bagian dari proses. Ia menyampaikan bahwa anak-anak bisa menjadi pemecah masalah, bukan sekadar penonton.
Dalam dunia yang penuh distraksi, cerita STEM menghadirkan harapan: bahwa generasi muda bisa mencintai sains tanpa kehilangan empati.
Jadi, Sudahkah Cerita STEM-mu Mengaduk Perasaan?
Coba tanyakan pada dirimu sebagai penulis:
Apakah pembaca akan ikut tegang saat eksperimen hampir gagal?
Apakah mereka akan tersenyum saat tokoh akhirnya berhasil?
Apakah ada momen yang membuat mata berkaca-kaca?
Ataukah ceritamu hanya terasa seperti laporan praktikum?
Jika masih terasa seperti laporan, mungkin yang perlu ditambahkan bukan teori---melainkan hati.
Karena pada akhirnya, cerita anak bukan sekadar tentang apa yang dipelajari, tetapi tentang apa yang dirasakan.
STEM hanyalah pintu.