Best in Citizen Journalism dan People’s Choice Kompasiana Awards 2024. Nulis tentang keseharian.
DUA PEKAN ke depan, dari Rabu (8/4), AS-Iran menyepakati gencatan senjata bersyarat (bbc.com).
Menyembul harapan perdamaian, setelah perang 38 hari. Selat Hormuz kembali dibuka, kendati belum tentu menjamin kelancaran jalur pelayaran global di masa depan.
Harga minyak dunia pun cenderung turun. Bolehlah bernapas lega. Ancaman kelangkaan dan lonjakan harga BBM di Indonesia sepertinya perlahan surut.
Bukan berarti berhenti melakukan efisiensi penggunaan bahan bakar minyak, mengingat:
Dengan kata lain, lancarnya pasokan minyak dunia usai peredaan ketegangan kawasan tidak lantas mengendurkan semangat hematenergi.
Perilaku hemat energi dan BBM muncul tidak hanya lantaran makin terbatasnya ketersediaannya, tetapi karena turut menjaga ketahanan energi, mengurangi emisi karbon, dan --tentunya-- mengurangi biaya operasional usaha dan rumah tangga.
Mudah ditemukan melaui mesin perambah tentang saran-saran praktis hemat BBM. Menyadur ulang, berikut kiat-kiatnya:
Jika punya keleluasan rezeki, ganti kendaraan bermotor kapasitas besar ke yang ber-cc lebih kecil. Jangan kayak pejabat, menyeru masyarakat agar berhemat sementara dianya naik kendaraan berkapasitas 2.500-3.500 cc atau lebih.
Atau, pertimbangkan untuk menggantinya dengan kendaraan listrik atau hybrid.
Dengan penerapan kiat-kiat tersebut, berapa penghematan BBM yang bisa didapat?
Itu pertanyaan sulit. Saya tidak bisa menjawabnya, berhubung tidak melaksanakan saran-saran praktis di atas.
Lah, gimana sih ente ...? Ngasih tips, tapi tidak menjalankannnya. Mungkin demikian bunyi gugatan para pembaca.
Saat ini saya terbiasa berjalan kaki dan menggunakan transportasi umum. Bukan karena gaya-gayaan ikut tren hemat BBM.
Sudah lama sekali saya tidak mengendarai kendaraan bermotor. Naik sepeda pancal pun tak. Satu kondisi mengantar kepada kebiasaan berjalan kaki dan naik kendaraan umum.
Jadi saya tidak dapat membandingkan, berapa jumlah liter dan rupiah yang bisa dihemat. Sori, ye!
Paling yang bisa saya sampaikan adalah sebuah video, tentang kesibukan atau hilir mudik kendaraan bermotor di jalan dekat rumah. Saat malam pun, lalu lintas di sekitar Taman Air Mancur Kota Bogor masih ramai, bahkan macet di beberapa titik.

Sepertinya, mereka tidak tersentuh dengan isu kelangkaaan BBM. Mungkin mereka punya kepentingan masing-masing, sehingga sangat perlu menggunakan kendaraan bermotor:
Demikian seluk-beluk di sekitar hematenergi (terutama hemat BBM). Apa pun keperluannya, upayakan hemat BBM. Gencatan senjata AS Iran tidak lantas memastikan ketersediaan BBM menjadi lebih lancar.