Penulis buku Wartawan Bangkotan (YPTD), Lika-Liku Kisah Wartawan (PWI Pusat), Mati Ketawa Ala Netizen (YPTD), Editor Harian Terbit, Owner www.nurterbit.com, Medsos: X @Nurterbit, @IniWisataKulin1, FB - IG: @Nur Terbit, @Wartawan Bangkotan, @IniWisataKuliner Email: nurdaeng@gmail.com, aliemhalvaima@yahoo.com

MELIHAT OGOH-OGOH DAN UPACARA MELASTI DI BALI
Kenangan tahun 2023 lalu ketika ada tugas dari Jakarta ke Makassar lanjut ke Bali, sempat menonton proses pembuatan "Ogoh-ogoh" di pelosok. daerah sebelum diarak malam hari.
Kini, setahun kemudian (2024), saudara kita umat Hindu di Bali kembali merayakan Hari Raya Nyepi. Termasuk upacara Melasti" dan arak-arakan Ogoh-ogoh yang menarik perhatian wisatawan mancanegara. Di antaranya saya sendiri, Bang Nur, sebagai turis lokal hehehe.... Sayangnya saya sudah kembali ke Jakarta sehingga tidak sempat lagi menyaksikannya dari dekat.
Ogoh-ogoh adalah patung yang mewakili hal-hal negatif, sifat buruk, dan kejahatan yang ada di dalam dalam kehidupan manusia.
Dari literatur yang Bang Nur pernah baca, patung Ogoh-ogoh ini sering kali menggambarkan sosok besar dan menakutkan, dalam wujud Raksasa atau makhluk mitologi lainnya, seperti naga, gajah, atau tokoh terkenal.
Ogoh-ogoh. Pawai ini diselenggarakan pada hari Pengrupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi. Hampir setiap banjar di Bali membuat dan menggelar pawai Ogoh-ogoh.
Selain itu, setiap Ogoh-Ogoh, setelah selesai dibuat, langsung didoakan sebagai tanda penghormatan terhadap entitas spiritual yang diwakili.
Menurut informasi yang Bang Nur kumpulkan, pawai Ogoh-ogoh pada malam pengrupukan atau sehari sebelum Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka tersebut, bertujuan agar bhuta kala atau roh jahat beserta segala unsur negatif lainnya musnah dan tidak mengganggu kehidupan manusia.
Ritual "Ngrupuk" yang biasa dilakukan bersamaan dengan arak-arakan Ogoh-ogoh ini, bertujuan agar buta kala beserta segala unsur negatif lainnya menjauh dan tidak mengganggu kehidupan umat manusia.
Kenapa patung Ogoh-ogoh harus dibakar?
Menurut Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali I Gusti Ngurah Sudiana, Ogoh-ogoh yang dibakar itu tak sekadar dibakar saja. Namun, memiliki makna dan harapan agar dunia kembali bersih dan bebas dari segala gangguan makhluk maupun roh jahat.
****
Selain Ogoh-ogoh, selama di Bali Bang Nur juga melihat dari dekat upacara "Melasti" di tepi pantai di wilayah Kuta, Kabupaten Badung, Provinsi Bali.
Pantai ini diberikan nama "Melasti" karena digunakan sebagai tempat untuk kegiatan upacara melasti/penyucian diri oleh warga sekitar. Biasanya dilakukan menjelang perayaan hari raya Nyepi di Bali.
Tidak seperti pantai Pandawa yang selalu dikunjungi oleh banyak wisatawan mapun pengunjung tiap harinya. Tapi Pantai Melasti bisa juga menjadi alternatif destinasi untuk Anda kunjungi di Bali.
Anda bisa mengunjungi Pantai Melasti setiap hari karena Pantai Melasti dibuka untuk umum selama 24 jam setiap hari.
Saat upacara "Melasti" berlangsung, tentu Pantai Melasti harus steril. Inj karena merupakan upacara pengambilan tirta suci di tengah samudera atau sumber mata air. Upacara itu dimaknai sebagai pembersihan alam semesta termasuk bumi pertiwi dan seisinya.
Juga upacara "Melasti" dilakukan sebelum perayaan Hari Suci Nyepi. Mengutip dari situs resmi Kebudayaan Kemdikbud, upacara Melasti adalah ritual ibadah penyucian diri yang dilaksanakan satu tahun sekali sebelum umat Hindu menyambut Tahun Baru.
Upacara "Melasti" sendiri, dilaksanakan di pinggir pantai dengan tujuan mensucikan diri dari segala perbuatan buruk pada masa lalu dan membuangnya ke laut. Dalam kepercayaan Hindu, sumber air seperti danau, dan laut dianggap sebagai air kehidupan (tirta amerta).
Saat upacara "Melasti" dan Ogoh-ogoh ini, tidak hanya Bang Nur yang datang mengabadikan. Banyak wisatawan asing dan domestik ikut hadir, termasuk Bang Nur yang bahkan berbaur, ikut mereka berjalan kaki usai upacara menyusuri jalan raya di Bali.
*****
Hampir dua minggu Bang Nur di sana difasilitasi oleh Mbak Eka, teman jurnalis, mantan fotografer harian Pos Kota Jakarta.
Saat itu menjelang perayaan Hari Suci Nyepi bagi umat Hindu di Pulau Dewata, namun sebagai umat Muslim saya harus meninggalkan Bali menuju Kota Makassar, berkumpul dengan keluarga untuk berpuasa di awal Ramadan 1444 H, sekalian mudik.
Berikut ini dokumentasi Bang Nur (Wartawan Bangkotan), sebagai reportase singkat berupa video YouTube di channel Nur Terbit.
Salam : Nur Terbit
#nurterbit #ogohogoh #bali #nyepi #ramadan #islam #hindu