Hanya seorang pribadi yang suka menulis | Tulisan lain bisa dibaca di www.ikromzain.com

Tepatnya, beberapa hari yang lalu, wisata andalan Kota Batu ini dibuka kembali untuk umum. Lebih dulu dibandingkan wisata lain di kota ini seperti Jatim Park. Sebelum dibuka, para pedagang di alun-alun Batu menjalani Rapid Test dahulu agar memastikan tidak ada yang tertular covid-19.
Saya penasaran untuk menengok bagaimana suasana alun-alun setelah lama tutup. Kebetulan, saya juga sedang mengantarkan jeruk ke Pujon yang tak jauh dari Batu. Saya pun memilih jalan alternatif dari arah Kota Malang yakni melalui Tlekung. Ini untuk menghindari para pesepeda yang saat ini memenuhi jalanan utama. Selain lebih cepat tentunya.
Dalam perjalanan, saya menemukan banyak tempat wisata yang memang masih tutup. Sebut saja Fun Predator, BNS, dan Jatim Park 2. Dari informasi yang saya baca, tempat wisata tersebut baru buka pada akhir Juni ini. Bersamaan dengan tempat wisata lain yang dikelola oleh swasta.
Suasana jalan menuju tempat wisata tersebut sangat sepi. Padahal, jika pada kondisi normal, tentu akan dipenuhi oleh bus dari berbagai kota lantaran saat ini adalah masa liburan sekolah. Saya takjub melihat pertigaan Jalan Dewi Sartiksa yang menghubungkan Kota Malang dan Kota Batu begitu sepi. Padahal, biasanya jalan ini selalu macet.
Kondisi ini juga memaksa beberapa hotel vila tutup. Walau papan reklame dan banner yang menawarkan vila masih terlihat di sana-sini, tetapi seakan tak bisa berkata banyak. Keheheningannya tersapu angin dan beberapa pengendara lewat. Orang-orang yang biasanya duduk dan berdiri di pinggir jalan untuk menawarkan villa, kini beralih berjualan masker dan buah-buahan.
Saya sampai di alun-alun Kota Batu setelah menempuh perjalanan sekitar 40 menit. Kalau di beberapa sudut Kota Batu amat sepi, ternyata di alun-alun ini amat ramai. Terlebih, di sudut luar alun-alun, banyak kerumunan para pesepeda yang baru saja nggowes. Mereka bermanin ponsel dan banyak yang tidak memakai masker.
Keberadaan para penggowes ini sudah saya prediksi sebelumnya. Namun, pandangan saya teralih kepada banyaknya keluarga yang membawa anak kecil ke alun-alun ini. Entah, apa yang ada di benak para orang tua tersebut. Kalau sang anak sudah memasuki usia TK atau SD sih tidak masalah. Yang ngeri, banyak batita bahkan bayi yang masih digeret di kereta dorong dibawa serta. Apa tidak kasihan ya.
Untuk membatasi pengunjung, pintu masuk alun-alun hanya dibuka di sisi barat yang bedekatan dengan Pasar Laron. Sesuai protokol kesehatan, para pengunjung yang akan masuk ke alun-alun harus diukur suhu tubuhnya dan mencuci tangan. Serta bermasker tentunya. Ada satu orang petugas yang sudah stand by di sana.
Memasuki alun-alun, tanda silang pun bertebaran di berbagai sudut. Mulai dari bangku hingga tempat duduk di dekat rumput. Tetapi, tidak dijelaskan apa maksud dari tanda silang itu. Apakah pengunjung diperbolehkan duduk di sana atau bahkan sebaliknya. Maka, beberapa pengunjung pun ada yang duduk tepat di tanda silang itu dan beberapa yang lain malah menghindari tanda tersebut.
Fasilitas yang menjadi perhatian adalah bianglala. Fasilitas ini memang selalu menjadi jujugan para pengunjung. Dan, saya kaget bahwa fasilitas ini sudah dibuka. Saya kira menunggu beberapa saat. Semuanya memang sudah normal.