Hanya seorang pribadi yang suka menulis | Tulisan lain bisa dibaca di www.ikromzain.com
Peraturan pun terpampang di sana tentu mewajibkan pengunjung menggunakan masker. Kapasitas angkut dalam satu ruang bianglala pun hanya 50%. Jika biasanya terisi 4 orang kini hanya 2 orang saja. Pengunjung pun wajib mencuci tangan di tempat yang disediakan selepas turun dari bianglala.
Harga tiket bianglala masih sama yakni 5.000 rupiah. Pengunjung juga harus melewati jalur antrean. Tanda silang pun kembali memenuhi jalur antrean. Petugas yang mengecek tiket akan selalu menyemprotkan hand sanitizer selepas mereka melakukan kegiatan itu. Tidak bisa dibayangkan jika ada 1.000 pengunjung, maka ia pun harus 1.000 kali melakukannya.
Nah yang unik, hampir semua pengunjung tidak mencuci tangan selepas menaiki bianglala. Secara otomatis, banyak yang berfoto di bawah bianglala. Ini juga tak ada petugas yang mengingatkan para pengunjung di pintu keluar bianglala. Saya lebih memilih mengusapkan hand sanitizer, baik saat di dalam bianglala maupun saat turun.
Semakin siang, pengunjung semakin banyak dan bergerumbul. Banyak diantara mereka yang juga mulai melepaskan masker untuk berfoto. Tak ada petugas yang mengingatkan juga menjadi salah satu alasannya. Tetapi sebenranya, kesadaran harus timbul dari diri sendiri. Meski demikian, biasanya sebelum covid-19 mewabah, ada suara imbauan dari speaker agar mereka menjaga kebersihan dan ketertiban. Seyogyanya, fasiitas ini juga bisa dipergunakan untuk mengingatkan para pengunjung memakai masker.
Fasilitas yang juga jadi perhatian adalah fasilitas bermain anak. Sebenarnya, fasilitas ini sudah baik dengan adanya tempat mencuci tangan serta pembatasan pengunjung. Tetapi, lagi-lagi beberapa anak kecil tampak tidak mengenakan masker dan malah ada yang sedang disuapi oleh orang tuanya. Sungguh, banyak orang masih berpikir bahwa new normal bisa kembali sedia kala.
Secara keseluruhan, sebenarnya ada beberapa hal yang membuat alun-alun ini belum siap untuk dibuka. Kurangnya petugas adalah salah satunya. Tipe orang Indonesia yang butuh diingatkan secara berkala membuat keberadaan petugas haruslah cukup banyak.
Lantas, bagaimana menurut Anda?