Ikrom Zain
Ikrom Zain Tutor

Hanya seorang pribadi yang suka menulis | Tulisan lain bisa dibaca di www.ikromzain.com

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Menengok Alun-alun Kota Batu yang Mulai Buka di Era Kenormalan Baru

21 Juni 2020   16:37 Diperbarui: 21 Juni 2020   16:33 1344 7 0

Pengunjung memenuhi alun-alun Batu. - Dokpri
Pengunjung memenuhi alun-alun Batu. - Dokpri
Selangkah lebih maju, Kota Wisata Batu sudah membuka alun-alunnya.

Tepatnya, beberapa hari yang lalu, wisata andalan Kota Batu ini dibuka kembali untuk umum. Lebih dulu dibandingkan wisata lain di kota ini seperti Jatim Park. Sebelum dibuka, para pedagang di alun-alun Batu menjalani Rapid Test dahulu agar memastikan tidak ada yang tertular covid-19.

Saya penasaran untuk menengok bagaimana suasana alun-alun setelah lama tutup. Kebetulan, saya juga sedang mengantarkan jeruk ke Pujon yang tak jauh dari Batu. Saya pun memilih jalan alternatif dari arah Kota Malang yakni melalui Tlekung. Ini untuk menghindari para pesepeda yang saat ini memenuhi jalanan utama. Selain lebih cepat tentunya.


Dalam perjalanan, saya menemukan banyak tempat wisata yang memang masih tutup. Sebut saja Fun Predator, BNS, dan Jatim Park 2. Dari informasi yang saya baca, tempat wisata tersebut baru buka pada akhir Juni ini. Bersamaan dengan tempat wisata lain yang dikelola oleh swasta.

Suasana jalan menuju tempat wisata tersebut sangat sepi. Padahal, jika pada kondisi normal, tentu akan dipenuhi oleh bus dari berbagai kota lantaran saat ini adalah masa liburan sekolah. Saya takjub melihat pertigaan Jalan Dewi Sartiksa yang menghubungkan Kota Malang dan Kota Batu begitu sepi. Padahal, biasanya jalan ini selalu macet.

Kondisi ini juga memaksa beberapa hotel vila tutup. Walau papan reklame dan banner yang menawarkan vila masih terlihat di sana-sini, tetapi seakan tak bisa berkata banyak. Keheheningannya tersapu angin dan beberapa pengendara lewat. Orang-orang yang biasanya duduk dan berdiri di pinggir jalan untuk menawarkan villa, kini beralih berjualan masker dan buah-buahan.

Saya sampai di alun-alun Kota Batu setelah menempuh perjalanan sekitar 40 menit. Kalau di beberapa sudut Kota Batu amat sepi, ternyata di alun-alun ini amat ramai. Terlebih, di sudut luar alun-alun, banyak kerumunan para pesepeda yang baru saja nggowes. Mereka bermanin ponsel dan banyak yang tidak memakai masker.

Keberadaan para penggowes ini sudah saya prediksi sebelumnya. Namun, pandangan saya teralih kepada banyaknya keluarga yang membawa anak kecil ke alun-alun ini. Entah, apa yang ada di benak para orang tua tersebut. Kalau sang anak sudah memasuki usia TK atau SD sih tidak masalah. Yang ngeri, banyak batita bahkan bayi yang masih digeret di kereta dorong dibawa serta. Apa tidak kasihan ya.

Untuk membatasi pengunjung, pintu masuk alun-alun hanya dibuka di sisi barat yang bedekatan dengan Pasar Laron. Sesuai protokol kesehatan, para pengunjung yang akan masuk ke alun-alun harus diukur suhu tubuhnya dan mencuci tangan. Serta bermasker tentunya. Ada satu orang petugas yang sudah stand by di sana.

Memasuki alun-alun, tanda silang pun bertebaran di berbagai sudut. Mulai dari bangku hingga tempat duduk di dekat rumput. Tetapi, tidak dijelaskan apa maksud dari tanda silang itu. Apakah pengunjung diperbolehkan duduk di sana atau bahkan sebaliknya. Maka, beberapa pengunjung pun ada yang duduk tepat di tanda silang itu dan beberapa yang lain malah menghindari tanda tersebut.

Fasilitas yang menjadi perhatian adalah bianglala. Fasilitas ini memang selalu menjadi jujugan para pengunjung. Dan, saya kaget bahwa fasilitas ini sudah dibuka. Saya kira menunggu beberapa saat. Semuanya memang sudah normal.

Peraturan pun terpampang di sana tentu mewajibkan pengunjung menggunakan masker. Kapasitas angkut dalam satu ruang bianglala pun hanya 50%. Jika biasanya terisi 4 orang kini hanya 2 orang saja. Pengunjung pun wajib mencuci tangan di tempat yang disediakan selepas turun dari bianglala.

Harga tiket bianglala masih sama yakni 5.000 rupiah. Pengunjung juga harus melewati jalur antrean. Tanda silang pun kembali memenuhi jalur antrean. Petugas yang mengecek tiket akan selalu menyemprotkan hand sanitizer selepas mereka melakukan kegiatan itu. Tidak bisa dibayangkan jika ada 1.000 pengunjung, maka ia pun harus 1.000 kali melakukannya.

Nah yang unik, hampir semua pengunjung tidak mencuci tangan selepas menaiki bianglala. Secara otomatis, banyak yang berfoto di bawah bianglala. Ini juga tak ada petugas yang mengingatkan para pengunjung di pintu keluar bianglala. Saya lebih memilih mengusapkan hand sanitizer, baik saat di dalam bianglala maupun saat turun.

Semakin siang, pengunjung semakin banyak dan bergerumbul. Banyak diantara mereka yang juga mulai melepaskan masker untuk berfoto. Tak ada petugas yang mengingatkan juga menjadi salah satu alasannya. Tetapi sebenranya, kesadaran harus timbul dari diri sendiri. Meski demikian, biasanya sebelum covid-19 mewabah, ada suara imbauan dari speaker agar mereka menjaga kebersihan dan ketertiban. Seyogyanya, fasiitas ini juga bisa dipergunakan untuk mengingatkan para pengunjung memakai masker.

Fasilitas yang juga jadi perhatian adalah fasilitas bermain anak. Sebenarnya, fasilitas ini sudah baik dengan adanya tempat mencuci tangan serta pembatasan pengunjung. Tetapi, lagi-lagi beberapa anak kecil tampak tidak mengenakan masker dan malah ada yang sedang disuapi oleh orang tuanya. Sungguh, banyak orang masih berpikir bahwa new normal bisa kembali sedia kala.

Secara keseluruhan, sebenarnya ada beberapa hal yang membuat alun-alun ini belum siap untuk dibuka. Kurangnya petugas adalah salah satunya. Tipe orang Indonesia yang butuh diingatkan secara berkala membuat keberadaan petugas haruslah cukup banyak.

Lantas, bagaimana menurut Anda?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2