Hanya seorang pribadi yang suka menulis | Tulisan lain bisa dibaca di www.ikromzain.com
Setelah bertemu rekan di kawasan Pakem, Sleman. Yogyakarta, saya memutuskan untuk berwisata ke Candi Kedulan.

Berbekal peta integrasi transportasi umum Yogyakarta, saya memutuskan untuk menuju ke sana menggunakan Trans Jogja. Mulanya rekan saya berinisiatif untuk mengantarkan. Namun, ia baru bisa melakukannya saat sore hari. Sementara, saya diburu waktu untuk kegiatan lainnya.
Walau masih bisa menggunakan Trans Jogja, tetapi saya harus melanjutkan perjalanan menggunakan ojek online dari halte terdekat. Alasannya, belum ada rute Trans Jogja yang melintasi daerah Kalasan, tempat candi ini berada. Kalau pun ada, bus penjelajah andalan ini hanya melintasi jalan utama menuju Prambanan yang dilayani oleh rute favorit wisatawan, rute 1A.
Dari arah Pakem, saya menggunakan rute 14 menuju Bandara Adisucipto dan akan beralih ke rute 1A arah Prambanan. Kalau dari peta sih, paling dekat saya harus turun di portable RS Bhayangkara. Saya hitung jarak dari portable ke candi sekitar 4 km. Jauh lebih dekat dibandingkan dengan pemberhentian lain.
Singkat cerita, saya naik rute 14 lanjut rute 1A dan turun di RS Bhayangkara. Setelah melakukan order ojek online, driver pun tiba. Saya segera diantarkan ke candi melewati beberapa situs bersejarah penting seperti Candi Sari. Candi ini pernah saya datangi sehingga saya memutuskan tidak ke sana.
Perjalanan saya berlanjut ke Jalan Raya LPMP dan berbelok di Jalan Raya Kalimati. Tak jauh dari perempatan kedua jalan tersebut, saya pun tiba di jalan sempit menuju candi. Saking sempitnya jalan, akhirnya driver ojek online menyerah untuk mengantarkan saya sampai ke pintu masuk candi. Sudah susah digunakan untuk lalu lintas kendaraan bermotor.
Setelah berterima kasih kepada driver, saya pun berjalan ke pintu masuk candi. Suasana sangat sepi. Hanya ada beberapa petugas kebersihan yang akan pulang karena tugasnya telah usai. Sambil berjalan, saya melihat Gunung Merapi yang begitu gagah mengeluarkan asap. Pantas saja, candi ini pernah terkubur dan menjadi genangan air sebelum ditemukan tahun 1993.

Suara burung dan desahan angin menemani perjalanan saya menuju ke pintu masuk. Ada seorang petugas yang mempersilakan saya mengisi buku tamu. Walau ada tulisan tiket masuk candi sebesar 6.000 rupiah, tapi ternyata saya tidak ditarik bea masuk. Walhasil, kaki saya pun segera saya langkahkan menuju bagian samping candi.

Sepintas, candi ini mengingatkan saya pada Candi Sambisari. Berada di bawah permukaan tanah di sekitarnya, candi ini juga dikelilingi oleh tembok megah. Mengingatkan saya pula pada gim jadul red alert untuk melindungi bagian dalamnya.
Ada satu buah candi utama dan tiga candi perwara atau candi pendamping. Berbeda dengan candi lain, untuk candi ini, saya malah tertarik dengan relief daun yang didominasi oleh motif sulur-suluran (floral), kalpalata (pohon kalpataru), dan roset. Cerita relief daun ini pernah saya baca pada sebuah majalah mengenai Negeri Tiga Daun.

Negeri ini diceritakan dalam Candi Kedulan dan Prasasti Tlu Ron yang ditemukan tak jauh dari candi. Dalam prasasti ini diceritakan bahwa dulu Raja Mataram memungut pajak dari pertanian. Hasil pajak tersebut nantinya digunakan untuk pembiayaan saluran irigasi dan pemeliharaan bangunan suci di daerah tersebut. Konon, pajak ini ditarik setiap tiga hari sehingga disebut pajak tiga harian atau Tlu Ron.
Saya memaknai keberadaan pajak ini sebagai upaya untuk menyejahterakan rakyat. Sayang, saat ini keberadaan pajak belum bisa dirasakan oleh penduduk sekitar dengan maksimal. Contohnya, akses transportasi umum seperti Trans Jogja belum menjangkau daerah ini. Padahal, daerah ini cukup ramai penduduk, menghubungkan banyak tempat penting, dan terdapat aneka situs bersejarah serta tempat wisata.
Sepinya candi ini yang berbanding terbalik dengan padatnya pengunjung wisata di sekitar Jogja membuktikan bahwa memang akses yang mudah dan promosi berimbang belum maksimal. Padahal candi ini amat indah dengan latar Gunung Merapi yang memagarinya.
Saya kembali berkeliling ke tiga candi perwara. Walau sempat kaget dengan patung Nandi di bagian tengah, tetapi saya makin terkesima dengan candi ini. Benar-benar dirancang seestetik mungkin.
Patung Nandi ini makin menyiratkan kesetiaan rakyat pada pemimpinnya. Sama halnya dengan warga Jogja yang amat setia pada raja dan pemerintahnya. Nah kalau sudah setia seperti itu, harusnya pemerintahnya juga bekerja untuk rakyatnya. Untuk yang satu ini, tolong jangan ditanya saya KTP mana, ya.

Pada candi perwara bagian utara, saya melihat lingga yoni yang berada di bagian tengah. Adanya lingga yoni ini makin menyiratkan bahwa candi ini adalah untuk pemujaan Dewa Siwa. Sementara, saya tidak menemukan apapun di candi perwara bagian selatan. Hanya ada umpak yang diyakini sebagai landasan atau tiang yang menyangga candi.


Umpak ini juga saya temukan dengan jumlah yang cukup banyak di candi utama. Di sini, ada lingga yoni pula di ruangan dalam. Di sekeliling ruangan utama, ada beberapa arca seperti Ganesha (anak Dewa Siwa), Rsi Agastya (Mahaguru agama Hindu), dan Dewi Durga (istri Dewa Siwa). Dari candi utama ini, saya bisa melihat patung nandi di candi perwara dengan jelas. Bukti bahwa pembangunan candi ini memang dirancang sedemikian rupa.

Setelah puas berkeliling, saya pun berpamitan pada petugas jaga. Sepertinya, tak ada lagi pengunjung yang datang hari itu lantaran dari buku tamu yang saya isi, saya membaca kunjungan terakhir ada sekitar 4 hari sebelum kunjungan saya. Saat meninggalkan candi menuju jalan raya, saya sempat mengingat kembali bagaimana leluhur kita saat itu mengambil peripih atau jiwa dari candi ini. Mereka meninggalkan bangunan candi ini untuk terkubur abu Gunung Merapi sebelum meninggalkan daerah ini menuju tempat kelahiran saya, Jawa Timur.