Saya memulai hidup ini dengan menulis puisi dan cerita pendek, kemudian jadi wartawan, jadi pengelola media massa, jadi creative writer untuk biro iklan, jadi konsultan media massa, dan jadi pengelola data center untuk riset berbasis media massa. Saya akan terus bekerja dan berkarya dengan sesungguh hati, sampai helaan nafas terakhir. Karena menurut saya, dengan bekerja, harga diri saya terjaga, saya bisa berbagi dengan orang lain, dan semua itu membuat hidup ini jadi terasa lebih berarti.
Selasa, 12 Desember 2023 ini, Debat Capres digelar. Dimulai pukul 19.00 WIB di panggung debat, di halaman Kantor KPU RI, Jalan Imam Bonjol No. 29, Menteng, Jakarta Pusat. Debat Capres pertama ini dihadiri secara langsung oleh 800 orang undangan. Bagaimana kita menyikapinya?
Tanpa Keadilan, Tak Ada Perdamaian

Publik bisa menyaksikan debat tersebut, karena sejumlah stasiun televisi menyiarkannya secara live. Apa yang mereka perdebatkan? Debat pertama ini, temanya Hukum, Hak Asasi Manusia (HAM), Pemberantasan Korupsi, dan Penguatan Demokrasi.
Tentu, beragam janji akan bertaburan di panggung debat, yang akan berlangsung 2 jam tersebut. Apakah ketiga Calon Presiden (Capres) itu akan menepati janji mereka, jika terpilih? Semua terpulang kepada ketiga pasangan Capres tersebut: Anies-Muhaimin, Prabowo-Gibran, dan Ganjar-Mahfud.
Mereka adalah politisi, yang didukung oleh Partai Politik. Janji mereka adalah janji politik. Dari penelusuran saya, janji politik bukan janji perdata dan tidak bisa digugat ke pengadilan, jika mereka tidak menepati janji. Percuma dong mendengarkan janji mereka? Atau, percaya janji mereka?
Meski demikian, tak bisa diingkari, saat ini ketiga pasangan tersebut adalah calon Pemimpin Bangsa kita. Salah satu pasangan, kelak akan terpilih melalui Pemilihan Presiden, sebagai Presiden Republik Indonesia (RI) ke-8, yang akan dilantik pada Minggu, 20 Oktober 2024 mendatang.
Sebagai warga, banyak cara yang bisa dilakukan, agar pasangan Presiden Terpilih nanti, benar-benar menepati janji-janji mereka. Cara tersebut bisa disesuaikan dengan profesi serta minat kita masing-masing. Jose Rizal Manua, misalnya. Sebagai seniman, ia menulis puisi dan membacakannya, kemudian mem-publish-nya di berbagai media.
Itu petikan puisi karya Jose Rizal Manua, Wahai Pemimpin Bangsaku. Puisi itu ia bacakan pada Selasa, 26 April 2022, pukul 18:42 WIB di Ruang Rapat Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Jalan Kuningan Barat, Jakarta Selatan. Saya pikir, substansi puisi tersebut, relevan dengan tema Debat Capres yang dimaksud Hukum, Hak Asasi Manusia (HAM), Pemberantasan Korupsi, dan Penguatan Demokrasi.
Seni Mengelola Keberagaman
Pada Selasa, 26 April 2022 itu, Iwan Henry Wardhana selaku Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) DKI Jakarta, menginisiasi pertemuan dengan para seniman di kantornya. Yang hadir, antara lain, Jose Rizal Manua selaku Pimpinan Teater Tanah Air, Octavianus Masheka selaku Ketua Umum Komunitas Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI), Fatin Hamama selaku pengurus Komunitas Sastrawan Indonesia (KSI), Ireng Halimun selaku Koordinator Sastra Semesta, dan Eki Thadan selaku Pendiri Komunitas Indonesia Kreatif (KEPIK).
Pertemuan itu sengaja dilakukan oleh Iwan Henry Wardhana, untuk merawat keguyuban sesama seniman. Ia agaknya menyadari, hiruk-pikuk politik menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, tentulah berdampak kepada para seniman. Baik secara langsung maupun tidak langsung.
Di kesempatan itu, Iwan Henry Wardhana -antara lain- membahas tentang ekosistem berkesenian di DKI Jakarta. Ada banyak venue yang bisa digunakan untuk menggelar berbagai aktivitas seni. Ada beragam aktivitas seni yang diakomodir oleh Disbud DKI Jakarta, mengingat Jakarta adalah kota multi kultural.
Secara keseluruhan, saya menilai, pertemuan tersebut merupakan langkah antisipatif Iwan Henry Wardhana selaku KaDisbud DKI Jakarta, menjaga kerukunan sesama seniman. Artinya, ia sejak jauh-jauh hari, sudah berupaya mengelola segala bentuk keberagaman di kalangan pegiat seni budaya. Merangkul para pegiat seni, sebagaimana pesan Jose Rizal Manua dalam petikan lain puisi Wahai Pemimpin Bangsaku:
Boleh jadi, dalam Debat Capres nanti, kata-kata bahu-membahu, keadilan, perdamaian, lebih maju, lebih sejahtera, dan sejenisnya, akan berhamburan di panggung debat di halaman Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) tersebut. Sebagai janji politik ya memang demikian para politisi mengumbar janji.
Tapi, harap diingat, sejak jauh-jauh hari, seniman Jose Rizal Manua sudah menyampaikan pesannya melalui puisi Wahai Pemimpin Bangsaku. Ia adalah Sarjana Seni dari Fakultas Teater, Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Ia kemudian melanjutkan ke jenjang Magister Bidang Film, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Solo. Ia lantas menjadi Dosen Teater dan Film di IKJ.
Tentu bukan hanya Jose Rizal Manua yang sudah berpesan ke Pemimpin Bangsa. Barangkali, sudah berjuta anak-anak bangsa yang juga sudah melakukannya. Di alam demokrasi, suara serta sikap warga, tentulah berarti. Sekecil apa pun itu. Tiap orang memiliki kesempatan untuk berkontribusi demi kemajuan bangsa ini, dengan cara masing-masing.
Jose Rizal Manua dalam petikan lain puisi Wahai Pemimpin Bangsaku mengingatkan:
Jakarta, 12 Desember 2023