Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025
"Om, buka RTT saja. Saya bantu!" Om Kelik yang peka dan penuh pengertian membantu membuka tenda atas/RTT. Aku diam saja. Melanjutkan tidur. Eh... sungguh terlalu diriku. Hihihi...
Akhirnya semua beres dan suami sepertinya sudah tertidur. Aku melanjutkan tidur.
Aku terbangun menjelang subuh. Pukul 04.07. Terasa ingin buang air kecil, sementara rumah Pak Jumangin masih terkunci. Karena waktu numpang pipis lewatnya dari dalam, Aku nggak paham kalau lokasi kamar mandi sebenarnya di luar rumah, dan bisa dimasuki dari belakang.
"Mas!" Kupanggil suami, tapi tak menyahut. Duh, balas dendam ini seperti nya. Padahal Aku sudah kebelet pipis. Piye Iki? Aku panik.
Berhubung hari masih gelap, sepertinya ngumpet di bawah pohon pisang nggak kelihatan. Kusambar botol berisi air yang masih penuh dan segera nyungsep di balik pohon menuntaskan hajad. Alhamdulillah aman. Nggak sampai ngompol. Eh...
Tak lama azan subuh berkumandang. Suami tak juga bangun. Harus cari cara nih.
"Mas, mau ikut nggak. Aku mau subuhan ke Musala!" Teriakku agak keras. Padahal biasanya Aku salat subuh di rumah. Tapi kl nggak digitukan nanti suami ku nggak bangun-bangun.
"Iya, tunggu!"
Alhamdulillah, akhirnya bangun juga dan menjawab. Hihihi..
"Krek!" Ternyata Pak Jumangin juga sudah bangun dan sudah berpakaian rapi dan bersarung, siap ke Musala.
"Pak, Musala nya sebelah pundi?" Tanyaku.