Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025

Usai makan malam bersama, Kami melanjutkan perjalanan ke lokasi air terjun Parijotho. Tapi akan berhenti dan menginap dulu di rumah penduduk yang paling dekat hutan pamongan yang akan kita lewati saat perjalanan menuju Air Terjun Parijotho.
Mas Mul dan Tante Etik paling depan, memandu perjalanan kami. Aku dan suami di tengah, sedang Om Kelik dan Tante Monik di belakang.
Posisi yang ideal, dan kami merasa aman di tengah, sebab Mbah Mul selalu bisa menyesuaikan laju kendaraan. Kalau kami tidak kelihatan, menurunkan laju kendaraan sampai kami terlihat.
Sedang Om Kelik juga bisa menyesuaikan. Melajukan kendaraan kalau kami tidak terlihat, dan menurunkan kecepatan kalau laju kendaraan kami melambat karena Medan yang sulit.

Perjalanan menuju Desa terakhir sebelum nanti nya kami harus jalan kaki menuju lokasi air terjun cukup bagus karena sudah beraspal, tapi butuh ekstra hati-hati, karena Medan cukup berat. Ada beberapa tikungan yang berbatasan dengan jurang, dan menjelang sampai lokasi ada tikungan dan tanjakan sekaligus yang cukup ekstrem.
Akhirnya kami sampai di halaman sebuah rumah yang luas, cukup untuk parkir 8-10 mobil. Ini adalah rumah Pak Jumangin, penduduk setempat yang akan menjadi tempat kami bermalam di sini.
Kami disambut Mas Nanang dan Pak Jumangin. Mas Nanang adalah mantan murid almarhum Mas Arif, teman Mas Mul dan teman suami di Biologi Natural Club(BNC ).

Mas Nanang ini yang menghubungkan kami dengan penduduk, dan akan memandu perjalanan menuju lokasi air terjun Parijotho bersama teman-temannya besok pagi.
Perjalanan menuju air terjun parijotho bukan rute yang mudah, butuh pengenalan medan, kehati-hatian, dan waspada tentunya.
Mas Nanang yang memintakan ijin pada penduduk untuk kami numpang parkir dan numpang ke kamar mandi. Sedang untuk tidur, kami bisa tidur di mobil. Sebagai camper Van, mobil Mas Mul dan Mas Kelik sudah disetting untuk tidur dengan nyaman. Sedang mobil suami masih original, tapi di atas ada tenda RTT yang bisa dibuka dan dimanfaatkan untuk tidur.
Setelah berkenalan dan ngobrol sejenak bersama keluarga Pak Jumangin, kami mohon ijin untuk tidur agar besok pagi lebih fit saat harus melakukan perjalanan ke air terjun parijotho. Kata Mas Nanang kita berangkat sekitar pukul 07.30, usai sarapan biar nggak lemes di perjalanan.

Suami malah masih ingin melanjutkan mengobrol, ya sudah terserah. Aku agak bingung mau tidur di mana.sementara suami malah melanjutkan mengobrol, tidak berpikir besok kita harus bangun pagi dan butuh istirahat tidur yang cukup.
Akhirnya aku menyetting kursi depan menjadi tempat tidur dengan sedikit menidurkan kursi. Lumayan empuk dan nyaman. Ada bantal leher juga. Aku terlelap.
"Dek, bantu Aku mindahin barang ke belakang semua. Aku mau tidur di mobil juga!"
Aku terjaga, kulirik jam di hape menunjuk pukul 00.37. Sudah hampir dini hari, nyuruh Aku angkut-angkut barang seabrek. Sungguh terlalu!

Aku pura-pura nggak dengar. Suami masih teriak-teriak. Aku diam saja. Hihihi...
Salah sendiri, kenapa waktu tadi tidak segera menata tempat untuk tidur, malah ngobrol SKSD.
"Om, buka RTT saja. Saya bantu!" Om Kelik yang peka dan penuh pengertian membantu membuka tenda atas/RTT. Aku diam saja. Melanjutkan tidur. Eh... sungguh terlalu diriku. Hihihi...
Akhirnya semua beres dan suami sepertinya sudah tertidur. Aku melanjutkan tidur.
Aku terbangun menjelang subuh. Pukul 04.07. Terasa ingin buang air kecil, sementara rumah Pak Jumangin masih terkunci. Karena waktu numpang pipis lewatnya dari dalam, Aku nggak paham kalau lokasi kamar mandi sebenarnya di luar rumah, dan bisa dimasuki dari belakang.
"Mas!" Kupanggil suami, tapi tak menyahut. Duh, balas dendam ini seperti nya. Padahal Aku sudah kebelet pipis. Piye Iki? Aku panik.
Berhubung hari masih gelap, sepertinya ngumpet di bawah pohon pisang nggak kelihatan. Kusambar botol berisi air yang masih penuh dan segera nyungsep di balik pohon menuntaskan hajad. Alhamdulillah aman. Nggak sampai ngompol. Eh...
Tak lama azan subuh berkumandang. Suami tak juga bangun. Harus cari cara nih.
"Mas, mau ikut nggak. Aku mau subuhan ke Musala!" Teriakku agak keras. Padahal biasanya Aku salat subuh di rumah. Tapi kl nggak digitukan nanti suami ku nggak bangun-bangun.
"Iya, tunggu!"
Alhamdulillah, akhirnya bangun juga dan menjawab. Hihihi..
"Krek!" Ternyata Pak Jumangin juga sudah bangun dan sudah berpakaian rapi dan bersarung, siap ke Musala.
"Pak, Musala nya sebelah pundi?" Tanyaku.
"Mrika!" Pak Jumangin menunjuk arah timur kalau nggak salah. Aku agak disorientasi arah di sini.
"Nggih Pak. Matur nuwun!" Pak Jum sudah bergegas, sementara suami tidak turun- turun juga.
"Mas, jadi ke Musala nggak?" Aku mulai tak sabar.
Akhirnya suami turun juga dengan wajah kuyu, pucat dan kusut
"Kepala ku pusing!" Katanya.
"Lha terus mau gimana? Mau tidur lagi atau ke Musala?"
"Iya, ke Musala."
"Ya, sudah, cepat turun, nanti keburu qomat!"
Akhirnya turun juga, tapi masih bingung nyari sandal, lupa naruhnya. Akhirnya nekat, mencomot sandal Pak Jumangin di teras.
"Eh, sandal siapa tuh?"
"Alah, pinjam sebentar!"
"Kok nggak bilang sama yang punya!"
"Ya nanti, orang nya masih tidur!"
"Itu Pak Jumangin sudah berangkat Musala!"
"Ya sudah, Ayuk berangkat. Nanti wudhu di musala saja!"
"Oke!"
Pulang salat Aku berjalan bersama Ibu yang rumahnya dekat Musala. Saat Aku bilang mau ke air terjun Parijotho, beliau memandang ku dengan wajah aneh.
" Parijotho tebih lho Bu. Kula mawon dereng nate mrika(Parijotho jauh lho Bu. Saya saja belum pernah ke sana)."

Lhadalah! Aku cuma nyengir. Kode keras nih kalau lokasinya jauh dan susah dicapai.
Air terjun parijotho memang belum resmi jadi tempat wisata. Mungkin nanti nya bisa menjadi pariwisata berkelanjutan dengan tetap mempertahankan keaslian dan kelestarian nya.
Kembali ke rumah Pak Jumangin, Aku segera menata meja dan mempersiapkan untuk memasak sarapan.
Kami bersiap-siap berangkat menuju air terjun parijotho. Selain kami berenam, ada Mas Nanang dan teman-temannya yang dengan sukarela akan memandu dan mengawal perjalanan kami.
Mereka bertujuh, tapi kemarin sebagian sudah menuju lokasi untuk mempersiapkan rute yang akan kami lewati dengan menebas semak belukar dan memastikan lokasi aman.
Jadilah kami bersepuluh, kami berenam, 3 orang dengan semangat Kartini dan 3 orang dengan semangat Kartono. Mas Nanang berempat bersama teman-teman nya. Mas Nanang, putranya, Pak Kim, dan Pak Seger.
Kami berdoa dulu sebelum berangkat dan mengikrarkan kekompakan.
Bismillahirrahmanirrahim...

Titik awal perjalanan jalan desa yang lumayan bagus dan kering, beruntung hari cerah. Sesekali kami harus menepi memberi jalan pada penduduk yang naik motor membawa rumput gajah untuk pakan ternak.
Cuaca cerah menyuguhkan pemandangan indah. Langit biru dan hijaunya pepohonan membuat perjalanan terasa nyaman dan menyenangkan.
Yuk simak video nya dulu sebelum kita lanjutkan dengan perjalanan yang semakin seru dan penuh tantangan di Trip to Parijotho 2.