Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025

"Allahu Akbar.... Allahu Akbar... Allahu Akbar walillah Ilham!
Suara takbir yang cukup jelas meski tidak terlalu keras membuat ku meletakkan sendok yang sedang ku pegang.
Berbuka lanjutan dengan makan besar yang belum selesai kutinggal dan kusambar gawai di atas meja.
"Dek...ke mana?" Tanya suami yang sedang asyik mengetik di depan laptop nya.
"Mau lihat takbir keliling!"
"Ya, ampun. Kenapa pintu sudah dikunci, pintu pagar juga!" Aku sedikit dongkol. Dari tergesa jadi malas-malasan. Rombongan takbir keliling pasti sudah lewat karena suaranya sudah sayup terdengar.

Benar saja, di jalan raya Dolopo-Gantrung di seputaran Buluh, dekat rumah ku sudah kembali lengang. Rombongan takbir sudah berlalu. Ya sudahlah!
Aku kembali ke rumah, dan lanjut menghabiskan makan berbuka dan kolak yang sempat tertunda.
"Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar walillah Ilham!"

Suara takbir kembali jelas terdengar. Kali ini Aku sudah lebih siap, langsung melesat ke jalan raya yang kira-kira berjarak 100 m dari rumah.
Beruntung kali ini masih ada rombongan yang bisa kurekam. Tapi habis itu sepi lagi.

Kali ini Aku bersabar menunggu. Benar saja, tak lama ada lagi rombongan takbir keliling yang lewat.
Sepertinya takbir keliling saat ini adalah takbir mandiri yang tidak dikoordinir baik waktu maupun rutenya. Tapi justru takbir keliling seperti ini lebih efektif. Setiap rombongan menjaga diri sendiri dalam memanfaatkan jalan yang dilalui.

Tak perlu pengawalan dan pengaturan dari petugas lalu lintas, meski kulihat ada mobil polisi yang lewat berpatroli.
Setiap rombongan biasanya terdiri dari truk, mobil bak terbuka, diiringi puluhan sepeda motor. Cukup tertib dan meriah meski tidak ada yang mengatur. Pengguna jalan bertanggung jawab menjaga keselamatan masing-masing.

Bisa jadi dalam 1 rombongan ada pemotor yang ikut takbir keliling dengan mengikuti rute salah satu rombongan.
Takbir kali ini seperti berjalan spontan. Tidak ada banner atau dekorasi yang sengaja dibuat. Hanya mobil bak terbuka yang diisi oleh peserta takbir keliling. Kemudian melintasi jalan dengan rute tertentu. Tapi justru dengan begitu, takbir terasa lebih syahdu.

Ada juga kereta kelinci atau odong-odong yang ikut jadi moda takbir keliling.
Suasana meriah terasa. Meski agak sayang, jarang pemotor yang menggunakan helm. Semoga semua aman dan baik-baik saja.
Peserta takbir keliling ini berjalan sendiri -sendiri, tapi kemeriahan nya cukup terasa.
Suara takbir terdengar lembut dengan suara yang disetel sedang. Terdengar jelas, tapi tidak memekakkan telinga. Meski banyak yang membawa kotak pengeras suara, tapi suaranya tidak sekeras sound horek.

Semakin malam, Semarak takbir keliling semakin terasa. Tapi Aku sudah mengantuk, jadi segera kembali ke rumah, dan melanjutkan beberapa pekerjaan yang tertunda, biar cepat usai. Semoga besok bangun tidak telat dan bisa ikut melaksanakan salat Ied.
Selamat idul Adha 1447 H. Mohon maaf lahir dan batin.