Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025
Lha ini, suruh bongkar muatan, mana lokasinya nun jauh di bawah di tepi sungai, sementara parkir mobilnya di atas di jalan raya. Seumur-umur Camper Van an, baru sekarang "diplokotho" menurut istilah orang Madiun.
"Bawa tenda bawah kan, Om?" Om Pur yang ikut menyambut kedatangan kami bertanya khawatir.
"Bawa kok!" Jawab suami. Padahal aku tadi bilang gitu biar dapat dispensasi boleh bawa mobil sampai area camping. Tapi ternyata tidak mungkin, karena kondisi jalan ke area camping penuh batu besar dan tidak ada akses ke area camping. Mobil cuma bisa masuk sampai jarak beberapa meter dari jalan yang sudah dibuat.
"Maaf ya, Pak. Aturannya begitu, Monggo silakan turun ke lokasi camping ground!"
Petugas wisata mempersilakan kami dengan sopan tapi tegas.

Sejenak rasa senang yang baru sekejap langsung berubah menjadi dongkol dan bete yang membuat putus asa.
Selain saya, ternyata Tante Etik juga nggak kalah dongkol. Speechless pokoknya. Mau balik, sudah terjebak di tempat. Mau lanjut kok situasinya membagongkan bahkan menggarengkan. Eh....ngomong apa sih? Intermezo lah, biar nggak semakin meledak nih emosi. Hehehe...
Bagaimana nggak dongkol kalau bawaan seabrek, sementara tidak ada privasi. Kalau ada mobil kan bisa buat nyimpan barang -barang privat. Lha ini semua diturunin kaya orang mau boyong diusir dari kontrakan. Eh!
Tapi mau bagaimana lagi, kita terpaksa berdamai dengan keadaan, meski panas yang menyengat semakin membuat kepala mendidih, membuat Tante Etik diam dan cemberut. Eh...piss ya Nte. Aku juga gitu kok, bingung mau bagaimana dulu.
Akhirnya kita pasang tenda dulu, biar bisa buat berteduh dan menyimpan barang -barang privat.