Isti  Yogiswandani
Isti Yogiswandani Lainnya

Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Camping di Dekat Air Terjun Ngargoyoso: Wow Amazing

1 Juni 2026   22:44 Diperbarui: 2 Juni 2026   04:59 206 6 1

Camping di Dekat Air Terjun Ngargoyoso: Wow Amazing(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Camping di Dekat Air Terjun Ngargoyoso: Wow Amazing(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Berawal dari woro-woro Om Cholis di Grup PKK CAF Mampiro, saya tertarik untuk ikut gabung di acara Camping and Grill Idul Adha tanggal 30-31 mei 2026 lalu.

Meski belum pernah ke Ngargoyoso waterfall, suami tidak ragu mengajak saya bersama Mbah Mul dan Tante Etik, teman camping dari Kediri.

Apalagi saat Tante Pur yang sudah sampai lokasi bersama Om Pur mengunggah suasana camping di depan tenda yang langsung menghadap view air terjun, semakin tak sabar untuk segera berangkat. Ruang hijau yang tersisa sungguh menghadirkan kedamaian.

Air terjun yang berlokasi di  Surodadi, Ngargoyoso, Kec. Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah 57793(Sumber: Google maps) ini sungguh menggoda dan membuat penasaran untuk dikunjungi.

Unggahan Tante Pur dalam tenda dengan view Ngargoyoso waterfall di grup komunitas CAF Mampiro (Dokumentasi Tante Pur)
Unggahan Tante Pur dalam tenda dengan view Ngargoyoso waterfall di grup komunitas CAF Mampiro (Dokumentasi Tante Pur)

Singkat cerita, saya dan suami berangkat dari rumah sekitar pukul 08.00 menuju parkiran terminal Tawang Mangu karena kita janjian dengan Mbah Mul dan Tante Etik di sana.

Mbah Mul dan Tante Etik sudah menunggu di sana sejak pukul 07.00. Duh, maaf ya, kita nggak tahu. Tahu gitu habis subuh langsung berangkat dari rumah.

Setelah ketemuan, ngobrol sebentar dan ke toilet, kita langsung ngemaps ke Ngargoyoso waterfall, yang waktu tempuhnya kira-kira 30 menit. Sepertinya sudah tidak terlalu jauh.

Tapi mengikuti arahan google maps, kita dilewatkan tempat sepi, arah pemukiman penduduk, tapi ini yang jarang ada rumahnya.

 Rutenya pun penuh tanjakan dan turunan terjal, serta tikungan ekstrem. Duh, seperti nya ada yang mengumpat tak karuan, tapi saya memilih khusyuk berdoa, menyerahkan diri pada sang pencipta. Ruang hijau yang tersisa di sepanjang perjalanan cukup menghibur dan menentramkan.

Gerbang loket utama menuju Ngargoyoso waterfall (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Gerbang loket utama menuju Ngargoyoso waterfall (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Alhamdulillah, akhirnya menjelang sampai di lokasi kita bertemu jalan raya yang sebenarnya bisa kita lewati tanpa perlu blusukan lewat rute yang huhuy dan membuat sport jantung.

Nggak apa-apa, pengalaman tak terlupakan, tentunya.

Sampai di lokasi, semua ketidak nyamanan terobati melihat view air terjun yang begitu dekat dan memancarkan aura kesejukan meski siang yang panas cukup menyengat. Ruang hijau yang tersisa benar-benar mewujudkan keasrian alam yang semakin langka.

Wisata air terjun Ngargoyoso waterfall ini adalah area camping ground, jadi untuk HTM sebesar 30 ribu/orang tidak lah mahal karena sudah termasuk sewa lahan untuk sehari semalam dan langsung sampai di air terjun. Sedang loket yang di atas, HTM cuma 20 ribu, tapi harus turun dulu lewat sekitar 200 anak tangga, baru sampai di air terjun.

Kalau tidak membawa perlengkapan berkemah/camping, kita bisa menyewa di lokasi wisata pada petugas yang jaga di basecamp masuk lokasi wisata ini.

Ada Mas Luky yang ramah dan santun melayani pertanyaan dan kebutuhan para wisatawan.

Tapi ujian ternyata belum berakhir.

"Pak, mobilnya silakan boleh turun ke area camping untuk menurunkan barang bawaan, kalau sudah, mobilnya dibawa naik dan parkir di sini!" Petugas dari tempat wisata memandu kami dengan ramah dan santun.

"Whats? Lha ini RTT sama auning nempel di mobil. Kalau mobilnya terpisah jauh bagaimana?"

Aku kaget setengah pingsan. Biasanya mobil nempel dekat tenda, jadi kalau perlu apa-apa tinggal buka pintu dan ambil barang yang dibutuhkan. 

Lha ini, suruh bongkar muatan, mana lokasinya nun jauh di bawah di tepi sungai, sementara parkir mobilnya di atas di jalan raya. Seumur-umur Camper Van an, baru sekarang "diplokotho" menurut istilah orang Madiun.

"Bawa tenda bawah kan, Om?" Om Pur yang ikut menyambut kedatangan kami bertanya khawatir.

"Bawa kok!" Jawab suami. Padahal aku tadi bilang gitu biar dapat dispensasi boleh bawa mobil sampai area camping. Tapi ternyata tidak mungkin, karena kondisi jalan ke area camping penuh batu besar dan tidak ada akses ke area camping. Mobil cuma bisa masuk sampai jarak beberapa meter dari jalan yang sudah dibuat.

"Maaf ya, Pak. Aturannya begitu, Monggo silakan turun ke lokasi camping ground!"

Petugas wisata mempersilakan kami dengan sopan tapi tegas.

Berfoto bersama Mas Luki, petugas wisata yang ramah dan santun (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Berfoto bersama Mas Luki, petugas wisata yang ramah dan santun (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Sejenak rasa senang yang baru sekejap langsung berubah menjadi dongkol dan bete yang membuat putus asa.

Selain saya, ternyata Tante Etik juga nggak kalah dongkol. Speechless pokoknya. Mau balik, sudah terjebak di tempat. Mau lanjut kok situasinya membagongkan bahkan menggarengkan. Eh....ngomong apa sih? Intermezo lah, biar nggak semakin meledak nih emosi. Hehehe...

Bagaimana nggak dongkol kalau bawaan seabrek, sementara tidak ada privasi. Kalau ada mobil kan bisa buat nyimpan barang -barang privat. Lha ini semua diturunin kaya orang mau boyong diusir dari kontrakan. Eh! 

Tapi mau bagaimana lagi, kita terpaksa berdamai dengan keadaan, meski panas yang menyengat semakin membuat kepala mendidih, membuat Tante Etik diam dan cemberut. Eh...piss ya Nte. Aku juga gitu kok, bingung mau bagaimana dulu.

Akhirnya kita pasang tenda dulu, biar bisa buat berteduh dan menyimpan barang -barang privat. 

Akhirnya selesai berbenah, meski untuk komunitas camper Van, kondisi seperti ini enggak banget. Kami baru sadar, kali ini kita bersama komunitas Camping Adventure Family (CAF), bukan camper Van, jadi anggap saja ini sisi "adventure" nya. Jadi kita nikmati saja, dan tidak lupa sesuai semboyan CVI, selalu berpikir positif. Wokey lah!

Suasana panas berangsur meredup, seperti emosi kita yang berangsur turun kembali ke kondisi normal. 

Makan bersama untuk meredakan kedongkolan dan merecharge energi yang terkuras(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Makan bersama untuk meredakan kedongkolan dan merecharge energi yang terkuras(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Tante Etik merebus sayuran untuk pecel, kebetulan lauk dan nasinya sudah ada. Apalagi Tante Etik membawa sekresek peyek tholo dan teri yang sangat pas menjadi teman menikmati nasi pecel.

Kami menikmati makan siang yang agak telat, sudah sekitar pukul 14.00. Nikmat nya menikmati makan di alam, ditemani gemericik air sungai yang mengalir dan meluncur di antara batu-batu besar. 

Sementara kicau burung semakin kental menghadirkan suasana alam. Ruang hijau yang tersisa memberi oksigen yang berlebih dan meredam hati dan kepala yang sempat mendidih.

Duduk di tepi sungai, menikmati keindahan dan kedamaian alam yang masih asli(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Duduk di tepi sungai, menikmati keindahan dan kedamaian alam yang masih asli(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Usai berwudhu dan melaksanakan salat duhur yang agak mendekati waktu ashar, suasana semakin teduh. Baru bisa menikmati keindahan alam di depan tenda. 

Sungai yang masih alami, gemuruh aliran air, dan gemercik aliran kecil membawa suasana istimewa yang diam-diam menelusup ke dalam dada.

Foto rame-rame di depan air terjun(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Foto rame-rame di depan air terjun(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Dua ekor burung bergerak bebas mematuk makanan di rerumputan di depan tenda. Membuat Aku merasa benar-benar berada di alam. Menikmati ruang hijau yang tersisa di wisata dan camping ground Ngargoyoso waterfall.

Dua ekor burung asyik bermain di depan tenda di pinggir sungai (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Dua ekor burung asyik bermain di depan tenda di pinggir sungai (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Masih banyak yang bisa diceritakan di sini. Lain waktu kita lanjutkan. Mengeksplor air terjun yang terlihat dan bisa didengar aliran nya dari tenda. Kebetulan lokasi tendaku agak jauh, sekitar 100 meter dari air terjun. Tapi jangan khawatir, nanti kita bisa mendekat di bawah air terjun. Okay? Tunggu aku ke sana ya...

Yuk simak video nya dulu.


HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5