Isti  Yogiswandani
Isti Yogiswandani Lainnya

Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Sekelumit Komedi Pagi di Wulung Gunung: Salah Paham Jadi Berkah

15 September 2026   13:08 Diperbarui: 15 September 2026   13:10 266 5 4

"Bukan. Cepat sini. Pilih sendiri!"

Aku mempercepat langkah. Dan sampai di lokasi, tapi justru membuat bengong. Ternyata warung kelontong dengan kopi renceng yang tersampir di semacam tali. Ada bermacam-macam kopi saset.

Jalan pagi ke pemukiman penduduk saat camping(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Jalan pagi ke pemukiman penduduk saat camping(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Ayah memilih kopi hitam. Sambil masih bingung, aku pilih capuccino saset. Walah. Kalau kopi saset seperti ini, di tenda juga tersedia lengkap. Aku bawa sekotak besar bermacam-macam kopi saset, dari capuccino, mochacinno kopi hitam, coklat bahkan teh. 

Ini nanti kita buat sendiri," kata Ayah.

"Nanti saya buatkan, Pak. Silakan duduk dulu!" Seorang perempuan muda, pemilik warung mengambil kopi saset yang kami pilih dan membawa masuk ke dalam rumah. Sementara kami dipersilahkan duduk, dan ada seorang bapak yang sudah duduk di kursi yang lain di meja yang sama dengan kami.

"Cari sarapan juga, Pak?" Tanya Ayah.

"Saya Pak Tulus, tuan rumah!" Sang Bapak memperkenalkan diri. Kami juga memperkenalkan diri. Tak lama ada seorang perempuan yang keluar membawa beberapa toples berisi kue kering. Aku masih belum ngeh.

Lanjut perempuan muda yang tadi, mengikuti dari belakang sambil membawa 2 gelas kopi pilihanku dan ayah.

"Silakan diminum!" Si perempuan muda yang akhirnya kami tahu nama nya Mbak Sinta(bukan nama sebenarnya) mempersilakan kami minum 

"Kuenya dicicipi juga, silakan!" Ibu yang sepuh ikut mempersilakan. Sampai di sini Aku mulai menerka-nerka. Sepertinya kami disambut sebagai tamu, bukan seperti pembeli. Membuat Aku canggung dan sungkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4