Isti  Yogiswandani
Isti Yogiswandani Lainnya

Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Sekelumit Komedi Pagi di Wulung Gunung: Salah Paham Jadi Berkah

15 September 2026   13:08 Diperbarui: 15 September 2026   13:10 270 5 4

Berpose bersama Pak Tulus dan Bu Narti yang menjamu kami dan memberi banyak oleh-oleh (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Berpose bersama Pak Tulus dan Bu Narti yang menjamu kami dan memberi banyak oleh-oleh (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Liburan minim gadget dan budget seperti nya harus dinikmati. Selain asyik camping, ada cara lain untuk mengisi liburan Minim Gadget dan budget, treking menuju pemukiman penduduk untuk menikmati suasana alam dan menikmati keunikan budaya dan kebiasaan penduduk nya.

Berhenti sejenak di lokasi camping, mengabadikan keindahan sekitar, lanjut menghirup udara pagi dan menikmati kesegaran nya.

Jalan santai menjelajahi jalan yang menanjak cukup menguras tenaga. Sepertinya ada pemukiman penduduk yang bisa didatangi. Bisa cari sarapan atau warung yang buka pagi hari.

Berjalan sekian kilometer, nafas mulai ngos-ngosan, tapi tidak ketemu warung makan. Duh, masih merasa seperti di Madiun, setiap beberapa ratus meter ada warung nasi pecel. Hehehe...

"Dek, ada warung kopi. Tapi kopinya membuat sendiri!"

"Wah, unik nih kayaknya. Yuk kita ke situ!"

"Itu ngikut Ibu yang di depan, katanya mau beliin susu anaknya juga!"

"Weh, warung kopi sedia susu juga? Keren nih!" Aku terus melangkah di jalan yang menanjak. Wah, semakin lapar saja. Butuh sarapan banyak nih sepertinya!" Batinku sambil nyengir.

"Dek, kamu mau kopi apa? Pilih sendiri!" Kata Ayah dari atas, sudah sampai lokasi sepertinya. Alhamdulillah!

" Katanya kopinya membuat sendiri. Kopi murni?"

"Bukan. Cepat sini. Pilih sendiri!"

Aku mempercepat langkah. Dan sampai di lokasi, tapi justru membuat bengong. Ternyata warung kelontong dengan kopi renceng yang tersampir di semacam tali. Ada bermacam-macam kopi saset.

Jalan pagi ke pemukiman penduduk saat camping(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Jalan pagi ke pemukiman penduduk saat camping(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Ayah memilih kopi hitam. Sambil masih bingung, aku pilih capuccino saset. Walah. Kalau kopi saset seperti ini, di tenda juga tersedia lengkap. Aku bawa sekotak besar bermacam-macam kopi saset, dari capuccino, mochacinno kopi hitam, coklat bahkan teh. 

Ini nanti kita buat sendiri," kata Ayah.

"Nanti saya buatkan, Pak. Silakan duduk dulu!" Seorang perempuan muda, pemilik warung mengambil kopi saset yang kami pilih dan membawa masuk ke dalam rumah. Sementara kami dipersilahkan duduk, dan ada seorang bapak yang sudah duduk di kursi yang lain di meja yang sama dengan kami.

"Cari sarapan juga, Pak?" Tanya Ayah.

"Saya Pak Tulus, tuan rumah!" Sang Bapak memperkenalkan diri. Kami juga memperkenalkan diri. Tak lama ada seorang perempuan yang keluar membawa beberapa toples berisi kue kering. Aku masih belum ngeh.

Lanjut perempuan muda yang tadi, mengikuti dari belakang sambil membawa 2 gelas kopi pilihanku dan ayah.

"Silakan diminum!" Si perempuan muda yang akhirnya kami tahu nama nya Mbak Sinta(bukan nama sebenarnya) mempersilakan kami minum 

"Kuenya dicicipi juga, silakan!" Ibu yang sepuh ikut mempersilakan. Sampai di sini Aku mulai menerka-nerka. Sepertinya kami disambut sebagai tamu, bukan seperti pembeli. Membuat Aku canggung dan sungkan.

"Silakan!" Pak Tulus ikut mempersilakan, dan mengajak kami ngobrol. Sampai di sini Aku mulai ragu, dan berusaha menjelaskan bahwa kami sedang mencari sarapan. Tapi kuurungkan, karena sepertinya ini bukan warung nasi. Tapi kami sedang dijamu sebagai tamu. 

Tak lama, Bu Narti(Ibu yang sepuh) keluar lagi dan membawa kue-kue basah. Duh, Aku semakin nggak enak. "Gimana ini?"

"Ayo dicicipi. Ini ada getuk, jemblem, onde-onde..!"

"Waduh, sampun Bu. Ini sudah banyak banget!" Kataku semakin nggak enak.

Akhirnya kucobain juga kuenya, dan ku habiskan kopiku. Eh, tak lama Bu Narti masuk dan keluar lagi membawa seteko teh dan setoples gula. Ya ampun...!" Sepertinya kita harus cepat pamit nih.

Tapi obrolan masih asyik, ngobrol tentang sayuran yang banyak ditanam penduduk. Ada bunga kol, buncis, cabe, tomat, bawang prey.

"Ini ada sayuran kalau mau dimasak di tenda!" Bu Narti kembali membawa satu tas kresek berisi sayuran. Bunga kol, buncis, cabe, tomat dan daun bawang.

"Sampun Bu. Wah, jadi ngerepotin nih. Kami nggak enak!"

"Nggak papa. Di sini biasa kok seperti ini!"

"Ini ada kerupuk gendar juga, digoreng sendiri ya ..!" Bu Narti kembali membawa se tas kresek kerupuk mentah.

Waduh. Kalau kita nggak pamit, jangan-jangan nanti ada lagi yang dibungkusin, hihihihi..

Ayah kucubit dan paham kalau aku mengajak pamit. Ayah membuka tas dan mengambil selembar uang, sayang nya nggak bawa amplop. 

" Pak Tulus, Bu Narti, terima kasih sekali kami sudah dijamu. Ini sedikit sebagai tanda sayang dan terima kasih.

"Eh, jangan! Tidak usah. Kalau di desa seperti ini biasa. Tidak! Kami tulus kok!" Pak Tulus dan Bu Narti menolak pemberian kami. Akhirnya kami mengalah, dan mengucapkan beribu terima kasih sambil pamit.

Tumis buncis dan kembang kol pemberian penduduk lokal di watu gunung(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Tumis buncis dan kembang kol pemberian penduduk lokal di watu gunung(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Sungguh pengalaman yang tak terlupakan dan memalukan buat kami. Hihihi...Mau cari sarapan malah dijamu penduduk.

Kembali ke lokasi camping dengan 2 tangan menenteng oleh-oleh. Bersyukur sekaligus merasa beruntung, memperoleh oleh-oleh ganda, berinteraksi dan menyatu dengan penduduk, mempelajari kebiasaan nya, sekaligus memperoleh oleh-oleh sayuran gratis dan kerupuk.

Akhirnya sayuran dari Bu Narti kumasak di tenda, menjadi tumis buncis kembang kol. Sayur segar dari kebun penduduk.

Kebetulan kami juga membawa telur yang bisa didadar untuk lauk. Aroma dadar rupanya menarik camper lain yang buka tenda di lokasi yang sama dan berdekatan.

"Besok lagi, kalau camping harusnya kita juga membawa bekal telur, bisa buat lauk!" Camper yang tak jauh dari kami berkata pada camper lainnya. Sebenarnya kami masih ada persediaan telur, tapi sepertinya mereka keluarga besar, kalau telurnya kami beri nggak cukup, jadi Aku terpaksa cuek. Eh...

Semoga lain kali kami bisa camping lagi di sini, dan kembali mengunjungi Pak Tulus dan keluarga nya untuk bergantian berbagi oleh -oleh.


HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4