Jandris_Sky
Jandris_Sky Mahasiswa

Kompasianer Terpopuler 2024 - 2025 Kompasiana Award Pelestari 2025

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Pilah Sampah Plastik Mu! Solusi Sederhana Mengatasi Krisis Lingkungan

1 Agustus 2026   02:48 Diperbarui: 1 Agustus 2026   02:48 148 9 2



Stop Asal Buang! Memilah Sampah Plastik adalah Kunci Mengurangi Krisis Sampah

Masih banyak orang yang menganggap sampah plastik sebagai urusan sepele. Setelah digunakan, bungkus makanan, botol minuman, kantong plastik, atau gelas sekali pakai langsung dibuang begitu saja ke tempat sampah tanpa dipilah. Padahal, kebiasaan sederhana ini justru menjadi salah satu penyebab semakin besarnya persoalan sampah di Indonesia, khususnya di DKI Jakarta.

Sampah plastik dari tutup botol. (Sumber foto: Jandris_Sky)
Sampah plastik dari tutup botol. (Sumber foto: Jandris_Sky)

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup, timbulan sampah plastik di DKI Jakarta mencapai sekitar 22,95% dari total volume sampah. Sementara itu, total timbulan sampah di Jakarta mencapai sekitar 3.171.247,45 ton per tahun atau setara dengan 8.664,61 ton per hari. Angka tersebut menunjukkan bahwa plastik menjadi salah satu penyumbang terbesar timbulan sampah di ibu kota.

Sampah plastik dari tutup botol. (Sumber foto: Jandris_Sky)
Sampah plastik dari tutup botol. (Sumber foto: Jandris_Sky)
Kondisi km ini tentu tidak bisa dibiarkan terus-menerus. Jika masyarakat masih membuang sampah plastik tanpa dipilah, maka proses daur ulang akan semakin sulit dilakukan. Akibatnya, lebih banyak sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir dan mempercepat penumpukan sampah.

Karena itu, mulai 1 Agustus 2026, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi menerapkan sistem pengelolaan sampah baru, yaitu pilah-angkut-olah dari rumah. Dalam sistem ini, masyarakat diharapkan memilah sampah sejak dari sumbernya. 

Bahkan, TPST Bantargebang kini hanya menerima sampah jenis residu atau sampah yang memang sudah tidak dapat dimanfaatkan kembali. Kebijakan ini sekaligus mengubah pola lama kumpul-angkut-buang menjadi sistem yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Langkah tersebut sebenarnya menjadi pengingat bahwa pengelolaan sampah bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab seluruh masyarakat. Rumah tangga menjadi titik awal keberhasilan sistem baru ini.

Hasil cacahan sampah plastik dari tutup botol. (Sumber foto: Jandris_Sky)
Hasil cacahan sampah plastik dari tutup botol. (Sumber foto: Jandris_Sky)

Sebenarnya sangat mudah. Pisahkan botol plastik, gelas plastik, kemasan deterjen, kantong plastik, dan wadah makanan dari sampah organik seperti sisa nasi, sayuran, atau buah-buahan. Sebelum disimpan, usahakan plastik dalam keadaan bersih dan kering agar tidak tercampur dengan sisa makanan yang dapat menurunkan kualitas bahan daur ulang.

Mesin pencacah sampah plastik dari tutup botol. (Sumber foto: Jandris_Sky)
Mesin pencacah sampah plastik dari tutup botol. (Sumber foto: Jandris_Sky)

Langkah sederhana ini memberikan manfaat yang luar biasa. Sampah plastik yang bersih memiliki nilai ekonomi karena dapat dijual ke bank sampah atau pengepul untuk kemudian didaur ulang menjadi berbagai produk baru, seperti pot tanaman, ember, papan plastik, kursi, tas, hingga bahan bangunan ramah lingkungan.

Sebaliknya, plastik yang tercampur dengan sampah organik sering kali tidak dapat dimanfaatkan lagi. Akibatnya, sampah tersebut hanya akan menjadi residu yang akhirnya dikirim ke TPST Bantargebang. Semakin banyak residu yang dihasilkan, semakin berat pula beban tempat pemrosesan akhir.

Selain membantu proses daur ulang, memilah sampah plastik juga mampu mengurangi pencemaran lingkungan. Kita tentu sering melihat saluran air tersumbat oleh plastik. Saat hujan deras, kondisi ini memicu banjir di berbagai wilayah. Plastik yang terbawa ke sungai juga dapat berakhir di laut dan membahayakan kehidupan biota laut.

Tidak sedikit hewan laut yang salah mengira plastik sebagai makanan. Akibatnya, mereka mengalami gangguan pencernaan bahkan kematian. Pada akhirnya, mikroplastik dapat kembali masuk ke tubuh manusia melalui rantai makanan. Oleh sebab itu, memilah sampah plastik bukan hanya menjaga lingkungan, tetapi juga menjaga kesehatan kita sendiri.

Kebiasaan memilah sampah juga dapat menjadi sarana pendidikan bagi anak-anak. Ketika orang tua membiasakan memilah sampah di rumah, anak-anak akan belajar bahwa setiap jenis sampah memiliki tempat dan penanganannya masing-masing. Budaya peduli lingkungan pun akan tumbuh sejak usia dini.

Agar kebiasaan ini semakin mudah diterapkan, setiap rumah cukup menyediakan beberapa tempat sampah terpisah, misalnya untuk sampah organik, plastik, kertas, kaca, logam, dan residu. Tidak harus mahal, bahkan ember bekas atau kardus yang diberi label sudah cukup membantu proses pemilahan.

Keberhasilan sistem pilah-angkut-olah tentu sangat bergantung pada partisipasi masyarakat. Sebagus apa pun kebijakan pemerintah, hasilnya tidak akan maksimal jika kita masih mencampur semua sampah dalam satu kantong. Perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Plastik bukan sekadar limKini saatnya mengubah cara pandang terhadap sampah plastik.bah yang harus dibuang, tetapi juga sumber daya yang masih memiliki nilai apabila dikelola dengan benar. Memilah sampah hanya membutuhkan beberapa menit setiap hari, tetapi manfaatnya dapat dirasakan oleh lingkungan selama bertahun-tahun.

Mari jadikan kebijakan baru ini sebagai momentum untuk membangun budaya baru dalam mengelola sampah. Stop asal buang, mulai pilah dari rumah. Dengan langkah sederhana tersebut, kita ikut mengurangi krisis sampah, menjaga kebersihan Jakarta, sekaligus mewariskan lingkungan yang lebih sehat bagi generasi mendatang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2