Kisah PNS Asyik Bertani Di Sebuah Kebun Mini Miliknya, KS Garden Kuansing Namanya. (Kebun Buah Yang Disinari Matahari, Sayuran Yang Berwarna Cerah, Mimpi Yang Dipanen, Keranjang Berlimpah, Usaha Yang Membuahkan Hasil, Akar Yang Bersemangat, Panen Manis, Dari Ladang Ke Meja Makan😅)

Potret Kehidupan Episode 52
Tentang Optimisme
Setiap manusia pasti memiliki cita-cita dan harapan, namun ada kalanya apa yang terjadi dalam hidup tidak sesuai dengan harapan kita. Seringkali kita merasa seediih..., putus aasa..., bahkan sampai menyerah. Jika hal ini dibiarkan terus menerus, jelas akan membuat kita terpuruk dan akhirnya kita menjadi pribadi yang tidak berkembang. Itulah kenapa, penting bagi kita untuk memiliki sikap optimisme ini.
Tentang Optimisme,
Ini nyaris bukan pemikiran baru dan malah menjadi topik yang dibahas dalam satu buku terlaris yang ditulis Martin Seligman, seorang psikolog. Dalam bukunya yang berjudul Learned Optmism, Seligman menunjukkan bahwa presentase individu sukses; mereka memiliki satu karakter kunci, yaitu kemampuan melihat segalanya akan berjalan dengan baik, bisa dibilang cukup tinggi. Dan ini, ternyata jauh lebih penting dari pendidikan lainnya, koneksi bisnis, atau sumber daya finansial. Yang menarik, ini bahkan jauh lebih penting daripada sekedar bersikap benar.Â
Orang pesimis...., mungkin mereka benar saat memikirkan bahwa sebagian besar upaya pasti berakhir buruk, tetapi ketepatan prediksi tentang masa depan yang seperti itu hanya mendorong mereka menjadi malas di masa kini. Dipihak lain, orang optimis...., menolak menerima jawaban tidak. Mereka pulih dengan cepat. Ketika situasi memburuk, mereka tidak percaya itu karena "memang seperti inilah alam semesta diciptakan". Alih-alih, mereka melihatnya sebagai kendala sementara.Â
So, apakah pelajaran tentang optimisme ini akan kita bawa ke setiap bidang kehidupan kita? Jika tidak, tolong perhatikan hal-hal yang saya tulis ini baik-baik dan optimislah bahwa sikap kita akan berubah setelah membacanya.
Menurut beberapa studi, menjadi pribadi yang optimis dapat membantu seseorang untuk bisa meraih pencapaian yang lebih besar dalam hidupnya. Orang yang memiliki sifat optimis percaya bahwa dirinya memiliki kemampuan yang akan membantu dalam melakukan upaya untuk mencapai kesuksesan di salah satu bidang. Tidak peduli apa yang terjadi kemarin. Hidup akan terus berjalan.
Ketika dirinya mengalami kesulitan atau kegagalan, mereka yang optimis akan memikirkan cara agar dapat melakukan yang lebih baik di kemudian hari dengan mengevaluasi faktor-faktor yang sekiranya bisa mengurangi kesalahan. Setelah dirinya berhasil, mereka akan menganggapnya sebagai pertanda baik pada hal-hal yang akan datang nanti.
Ada sebuah analogi yang dapat digunakan untuk menggambarkan tentang optimisme ini. Bayangkan saja! Ada sebuah gelas yang diisi air hingga setengahnya. Seseorang yang optimis akan memandang gelas itu setengah penuh, sementara seseorang yang pesimis memandang gelas itu setengah kosong. Kenapa berbeda?
Karena orang pesimisme menghindar dari hal-hal baru atau petualangan. Itulah yang menyebabkan mereka terpaku pada kemungkinan-kemungkinan negatif dan terperangkap oleh ketakutan akan kegagalan. Sedangkan orang optimisme, bagaimanapun, mereka membuka ide-ide baru, pengalaman baru dan kemungkinan baru. Mereka merasa bebas mempertimbangkan opsi baru dan mengubah bisnisnya barangkali, dan selalu ingin membuat kehidupan disekitarnya menjadi lebih baik. Orang optimisme lebih melihat ke masa depan dan menciptakan realitas yang luas dan berevolusi.
Pengalaman Pribadi. Saya yang sudah bersahabat dengan beberapa kegagalan di usaha yang berbeda, jarang sekali menyesali apapun yang sudah terjadi. Yang hilang biarlah hilang. Sehingga penonton yang biasanya nih, misuh-misuh, lucuu. Dan setiap saya mencoba hal-hal baru, ada saja pasti yang bilang....; eh tau nggak? Kegagalan sering terjadi pada orang-orang yang baru mencoba hal baru, lhoo. Saya tersenyum terlebih dahulu. Namun kemudian, tak lupa pula saya sambung; sebagian orang akan tertantang dengan kegagalannya dan sisanya akan tumbang dengan kegagalannya itu. Â Itulah optimisme. Manusia bebas memilih tindakannya. Hah, terdiam mereka.
Orang yang tidak ada niat apalagi tidak optimis, sekalipun di ceramahin Jeff Bezos 12 jam pun kagak bakal mau mencoba. Apalagi yang tidak punya keterampilan. Keterampilan lebih butuh effort dan lebih worth. Selain mengasah kemampuan untuk berpikir kreatif juga memiliki manfaat lebih banyak untuk diri sendiri maupun sekitar. Dan menebarkan getaran yang baik ini pun, jelas akan banyak memberi manfaat positif seperti amal jariyah karena pada dasarnya kita membagi apa yang sudah kita tahu kebenarannya secara lansung. Begini perumpamaan nya; kamu mengajarkan orang cara membuat Burger agar dia mampu berjualan burger, kan? Itu sama dengan kamu memotivasi orang itu untuk sukses juga seperti pengusaha Burger. Kek-kek gitulah pokoknya. Optimisme itu menular.
Sangat mudah mendeteksi apakah orang itu pesimis atau optimis. Orang yang pesimis cenderung fokus pada masalah, sedangkan orang optimis lebih perhatian pada mencari solusi. Mereka yang optimis, jarang sekali menyesali apapun yang sudah terjadi. Pun, jika masih ada permasalahan akibat peristiwa yang terjadi maka mereka akan segera mencari segala akar penyebab dan alternatif solusi, serta melaksanakan alternatif solusi yang telah dipilih. Mereka bersikap lebih proaktif dan merencanakan apa yang bisa dilakukan selanjutnya. Bukan yang banyak alasan.
Tidak ada alternatif yang lebih baik daripada optimisme. Tidak ada. Pesimisme tidak mencapai banyak hal, dan tidak memiliki manfaat dibandingkan dengan optimisme. Semuanya tidak akan selalu luar biasa. Tetapi sikap optimisme dapat membantu kita melihat peluang baru, belajar dari berbagai situasi, dan terus bergerak. Bergerak dan bergerak, dan bukan mengutuk.
Saya, KS (42th) memilih untuk menebarkan getaran yang baik, yaitu tentang optimisme. Optimisme itu menular. Memiliki sikap optimis, dapat menginspirasi semua orang di sekitar kita. Sikap adalah segalanya. Perempuan yang optimis dapat membantu memotivasi pasangannya dan melibatkan orang sekitarnya untuk menjadi tim yang positif, ia akan mendorong orang terdekatnya untuk mencapai tujuan dan bekerja bersama untuk memajukan berbagai hal.Â
Pun, optimis dapat melindungi diri dari kecemasan dan kekhawatiran tentang masa lalu dan masa depan, juga menjadi obat dari rasa putus asa, lebih merasa percaya diri dan tidak khawatir dalam menjalani kehidupan. Dan optimis juga dapat menghindarkan diri dari kondisi batin yang terpuruk dan hanyut pada kondisi buruk. Karena dengan optimisme, saya memiliki perlawanan yang kuat terhadap masalah dan keinginan yang kuat terhadap penyelesaiannya. Itulah modal pejuang.
Berjuang atau berhenti, adalah pilihan. Manusia tetap bebas memilih tindakannya. Kalo saya, saya selalu melihat kegagalan sebagai awal yang baru. Karena, kegagalan bukanlah akhir, bahkan seringkali merupakan awal dari sesuatu yang hebat. Ketika semuanya baik-baik saja, saya meluncur tanpa membuat lompatan kuantum. Ketika segalanya memburuk, dunia saya menjadi terguncang, yang mengharuskan saya untuk tumbuh, melihat hal-hal baru dan memulai dari awal. Optimisme ini pula yang memungkinkan saya belajar dari kegagalan, dan saya terus mengambil bagian atau bahkan beralih ke sesuatu yang lebih menantang.Â
Iyaalaah. Berpikir negatif itu tidak sehat kuq. Orang optimis umumnya lebih bahagia lhoo. Dan kurang stres, apapun kondisinya. Mereka juga cenderung memiliki hati yang lebih sehat, ciyuuss. Selain itu, konon kata dokter, orang optimis memiliki kadar gula dan kolesterol darah yang lebih baik ha-ha-ha. Dan itu benar.
Saya kurang berteman dengan orang pesimis. Aggh. Menghabiskan waktu bersama orang-orang negatif yang terus-menerus sama saja dengan melihat hal buruk dalam setiap situasi. Itu cara yang kurang baik, karena akan terus merasa diri negatif juga. Untuk membantu tetap merasa optimis dan positif..., maka saya perlu mengelilingi diri dengan orang-orang berpikiran positif yang dapat membantu menghargai kebaikan dalam situasi dan kehidupan secara umum; bahkan mungkin memilihkan solusi.
Oleh karena itu, mari mulai berpikir lebih positif tentang diri sendiri dulu, dengan perlu mengingatkan diri sendiri secara rutin tentang apa yang telah didapatkan atau dicapai selama ini. Yang telah hilang, biar saja hilang. Toh ga ada yang dibawa mati. Bukan peristiwanya yang membuat seseorang menjadi tidak bahagia atau kecewa, namun sudut padang dan penafsiran terhadap peristiwa tersebut. Jika tidak dapat merubah peristiwa, mungkin ada baiknya untuk merubah cara pandang terhadap peristiwa yang terjadi dengan berpikiran yang lebih positif. Bagaimanapun, setiap peristiwa yang terjadi telah memberikan pengalaman yang berharga.
Pemirsah,Â
Sekali lagi, kenapa harus optimis....?
Yaa, karena perasaan optimis membawa seseorang pada tujuan yang diinginkan, yakni percaya pada diri dan kemampuan yang dimiliki. Sikap optimis menjadikan seseorang keluar dengan cepat dari permasalahan yang dihadapi, karena adanya pemikiran dan perasaan memiliki kemampuan juga didukung anggapan bahwa setiap orang memiliki keberuntungan masing-masing.
Terbukti, optimis telah membuat banyak orang selalu percaya dan yakin pada kemampuan diri sendiri. Saat menghadapi masalah, seseorang yang memiliki sikap optimis akan terlihat mudah bangkit kembali dan memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan. Cayyaa deeh...., sikap optimis membuat kita fokus pada pencapaian diri di masa sekarang dan masa depan, tidak terjebak pada kesalahan masa lalu.
Okeyyy, friends.....
Tetaplah optimis, meski zaman telah berubah!
Waktupun telah berganti, bukaklah matamu lebar-lebar..., ___meski sinar matahari tak sesejuk masa kecilmu dulu!"
Senja, di Kebon Kita.