Kisah PNS Asyik Bertani Di Sebuah Kebun Mini Miliknya, KS Garden Kuansing Namanya. (Kebun Buah Yang Disinari Matahari, Sayuran Yang Berwarna Cerah, Mimpi Yang Dipanen, Keranjang Berlimpah, Usaha Yang Membuahkan Hasil, Akar Yang Bersemangat, Panen Manis, Dari Ladang Ke Meja Makanš )
Saya berikanlah Ara sesuatu yang menyenangkan untuk dia. Seperti ajak makan kebab atau burger di luar, membelikan hp terbaru, tambahan uang saku atau sesuatu yang diinginkannya. Bukan untuk mengajarkan perilaku boros tetapi sebagai bentuk menghargai jerih payah anak saja. Dengan demikian Ara akan merasa senang dan akan belajar menghargai sebuah capaian baik pada dirinya atau orang lain.
Saya membingkai kegiatan anak saya dengan bermain-main bisnis saja. Sedari kecil. Contohnya memanfaatkan kain flanel atau kain perca sehingga bisa bernilai ekonomis. Bisa juga dengan mengajak Ara membuat kue bersama. Dengan demikian anak saya akan ikut berkreasi sesuai keinginannya dan melakukannya tanpa beban.
Momen lebaran, saya ajarkan Ara berbagi. Selain menanamkan nilai mental wirausaha, tidak lupa saya ajarkan anak untuk perduli pada sesama. Saya mengajarkan anak saya menyisihkan rezekinya untuk sesama. Misalnya berbagi dengan teman atau memberikan sedekah kepada teman yang yatim piatu. Saya tanamkan pada anak bahwa di rezeki yang diperoleh, ada hak orang lain yang harus diserahkan. Diharapkan dengan penanaman sikap dermawan, kelak anak saya akan menjadi seorang wirausaha yang dermawan.Ā
Selain itu jika anak terjun langsung di lapangan dengan sendirinya tentu anak dapat melihat peluang apa yang akan dia jual atau diproduksi kelak. Misalnya Ara bisa melihat peluang berjualan alat tulis atau aneka jajan atau mainan dan sebagainya ketika kuliah nantinya. Tentu harapan KS, Ara akan cenderung peka dengan peluang bisnis di sekitarnya kelak.Ā
Ditengah-tengah candunya bisnis, ada juga yang bilang tu. Kejam sekali orang tuanya yaah? Hahaha. Sungguh. Tercengang Saya mendengarnya. Saya langsung bilang what? What's wrong? Saya hanya menyertakan anak saya dalam membuat kreativitas yang menyenangkan mereka.Ā
Bahkan, ada lagi yang enggak orang lain tahu. Selain berdagang, saya ajak terus Ara untuk ikut serta membuatĀ Luti Gendang, Risoles Mayo, Pastel dan Bolu Gulung untuk dijual. Al hasil. Hasilnya lebih memuaskan dari buatan tangan saya ahahaha.
Dan heyyy...
Saya juga memberikan Ara reward, kuq. Saya berikan Ara penghargaan untuk anak karena capaiannya yang tidak biasa. Dia selalu Ketua OSIS, entah itu dari SMP maupun SMA. Pun Ara selalu juara umum 1. Stylenya yang biasa, dan enggak gengsian. Ada juga Guru Kelas di SMA nya yang menganggap Ara yang enggak gengsian itu adalah anak orang susah. Guru itu baru pindah ke SMA Ara belum lama. Dibilang nya di kelas Wulan, klo Ara yang anak pintar itu susah hidup keliatannya. Kata ibu guru itu cerita di kelas Wulan, teman kecil Ara. Hehehe, Emak Wulan terjerembab mengatakan itu kepada Nenek Ara. Kamipun tertawa-tawa sekeluarga dirumah.Ā
Tu lah kan? "Sekarang ibu itu malu Ara rasa Nek", kata Ara tadi di Meja Makan. Ada hari tu, di depan ibu itu pulak, Ibu Epi sengaja bertanya kepada Ara. "Apa menu MBG tadi Ra? Enak-enak menu MBG Ara kata orang, dibilang orang sama ibu". "Ara senyum-senyum aja nyo, nek". Kata Ara. Ha, datang Bapak Rino, " Nah ini dia, CEO MBG yang pernah nyamar jadi tukang cuci ompreng". "Ibuk itu melihat sama Ara, Nek. Berubah memerah mukanya itu. Ara diam aja nyo, biarlah Mak lampir tu bilang gitu dalam hati Ara. Tetap peace ajalah pokoknya hahaha!Ā
Dari Ara kita belajar dewasa,
Berbisnis dalam ruang lingkup keluarga adalah sebuah proses berjalannya warisan yang berharga, tetapi tentu tidak terlepas dari berbagai tantangan. Salah satu kunci utama dalam menjaga keberlangsungan bisnis keluarga adalah mempersiapkan anak-anak sejak kecil untuk dapat meneruskan estafet kepemimpinan dan pengelolaan bisnis tersebut, agar pada waktunya kelak mereka menjalankannya dengan sama baiknya, bahkan lebih baik.Ā