Kisah PNS Asyik Bertani Di Sebuah Kebun Mini Miliknya, KS Garden Kuansing Namanya. (Kebun Buah Yang Disinari Matahari, Sayuran Yang Berwarna Cerah, Mimpi Yang Dipanen, Keranjang Berlimpah, Usaha Yang Membuahkan Hasil, Akar Yang Bersemangat, Panen Manis, Dari Ladang Ke Meja Makan😅)
Sederhana saja konsepnya. Tanpa disadari, KS telah memulai mempersiapkan Ara untuk meneruskan bisnis keluarga kelak. Ini hanya tentang bagaimana seni berdagang itu hendak diturunkan. KS melibatkan Ara dalam kegiatan bisnis apapun sejak kecil. Karena KS tau, Ara akan belajar dari apa yang ia lihat.
Dari kisah Ara, kita ambil hikmahnya.
Berbagai tahapan telah melibatkan anak-anak saya secara dini dalam bisnis keluarga. Sesuai fase usianya. Usia 8-12 tahun. Anak-anak, saya ajak untuk mengamati aktivitas di minimarket, gudang kelontong, gudang kayu, pabrik batu lalu aktivitas di rumah. Kantor, dan balik ke rumah lalu ke kebun. Gituu terus selama bertahun-tahun, hingga sekarang. Semua terdokumentasi dengan baik. Anak-anak saya belajar tentang produk, serta membantu dalam tugas-tugas administratif sederhana. Merapikan nota misalnya.
Usia 13-16 tahun, saya berikan anak-anak tanggung jawab yang lebih besar, seperti membantu dalam pencatatan keuangan, melayani pelanggan, atau terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Saya libatkan mereka dalam pekerjaan ringan di bisnis saya. Misalnya, membantu mengemas barang, menghitung stock, atau mencatat pesanan. Lalu saya berikan mereka upah kecil agar mereka memahami nilai usaha dan proses mendapatkan uang.
Selain itu, diusia 17 th keatas, mereka hanya akan mengenang masa-masa kecil itu. Maka saya tunjukkan pula foto-foto atau video pengalaman mereka yang sedang terlibat dalam aktivitas bisnis keluarga, mulai dari membantu di toko, dan aktivitas di kebun, atau berpanas-panasan di pabrik batu. Ini seru tauuk? Hal inilah yang membangun rasa memiliki dan tanggung jawab mereka terhadap kelangsungan bisnis keluarga.
Diusia anak saya yang sekarang, anak adalah teman. Teman berdiskusi. Saya latih Ara berdiskusi mengenai hal-hal sederhana seperti perbandingan harga barang atau cara mengambil keputusan. Diskusi dalam keluarga akan melatih kemampuan komunikasi, mengemukakan pendapat, berpikir logis, hingga memahami dasar-dasar ekonomi. Anak yang terbiasa berdiskusi, juga akan lebih percaya diri dalam menyampaikan ide-idenya.
Saya buat anak-anak saya agar mau mengemukakan idenya, kemudian tuliskan menjadi sebuah catatan yang harus mereka capai. Jangka waktunya bisa saya tentukan dalam hitungan hari atau minggu. Jika satu persatu target nya sudah tercapai, saya bisa memberikan anak penghargaan agar mereka lebih termotivasi dan semangat untuk mencapai target lainnya. Sehingga anak menjadi terbiasa untuk selalu berorientasi pada target, terutama ketika mereka terjun ke dalam bisnis keluarga.
Selain menanamkan nilai-nilai keluarga dan memberikan pengalaman praktis, saya juga perlu memastikan bahwa anak-anak saya memiliki kompetensi yang memadai untuk mengelola dan mengembangkan bisnis keluarga di masa mendatang. Pendidikan yang relevan.
Pendidikan bukan hanya persekolahan.
Cerita sedikit tentang pendidikan bukan hanya persekolahan ini. Saya, dulunya juga seorang ibu baru yang memulai bisnis baru. Sementara anak saya Ara baru saja beranjak usia 5 bulan, tiada saya bingung bagaimana mendidik anak kecil itu sambil berwirausaha. Padahal ya, saya sedang merintis sebuah bisnis yang super sibuk. Sebenarnya sederhana saja menjalaninya. Saya titipkan saja bayi saya dirumah Ibu saya dan dijaga oleh ibu saya. Lalu saya kan bolak balik ke rumah dari swalayan diganti kan Ayah. Sesekali, saya libatkan saja ananda yang sudah berusia di atas 1 tahun dalam bisnis keluarga, dengan peran yang sederhana. Namun bertahap sesuai usianya sampai kelak ia matang dan dewasa juga terampil se usia ini.
Saya menanamkan nilai-nilai keluarga sebagai pondasi utama bagi suksesnya regenerasi bisnis keluarga. Dengan penanaman nilai-nilai bisnis keluarga sejak dini, sebagai orang tua, saya perlu memastikan bahwa anak saya tumbuh dengan menghayati dan mempraktikkan nilai-nilai atau etika moral yang menjadi "nyawa" bisnis keluarga. Karena itu, saya ceritakan kepada anak-anak saya kisah perjuangan saya, bahkan orang tua saya. Tidak ada bisnis satu pun yang saya warisi dari orang tua. Namun dalam membangun bisnis yang ada, saya selalu menyoroti khusus nilai-nilai integritas, kerja keras, dan kepedulian terhadap sesama. Dan nilai-nilai keluarga itulah yang saya warisi dari orang tua saya. Orang tua saya, termasuk orangtua modern pada zamannya.