Kisah PNS Asyik Bertani Di Sebuah Kebun Mini Miliknya, KS Garden Kuansing Namanya. (Kebun Buah Yang Disinari Matahari, Sayuran Yang Berwarna Cerah, Mimpi Yang Dipanen, Keranjang Berlimpah, Usaha Yang Membuahkan Hasil, Akar Yang Bersemangat, Panen Manis, Dari Ladang Ke Meja Makan😅)

Potret Kehidupan Episode 27
Tentang Pilihan Profesi
Ini tentang pilihan profesi.
Tak ada yang salah perihal pilihan profesi. Baik kamu laki-laki maupun perempuan. Antara bekerja kantoran atau ibu rumah tangga, mana yang lebih enak? Antara bekerja kantoran atau berwirausaha, mana yang lebih aman? Antara berdasi atau bertani, mana yang lebih nyaman? Bagaimana kalo kedua-duanya dijalani?
Ya coba dulu aja semuanya, baru ber pro-kontra.
Semua profesi baik kuq.
Kalo saya, semua pertanyaan itu sudah tak asing lagi di telinga saya. Karena saya sudah melewati fase ber pro-kontra tentang pilihan profesi ini. Sebanyak yang pro, sebanyak itu pula yang kontra.
Namanya juga hidup, kita yang jalanin orang lain yang ngomentarin.
Semua kembali ke diri masing-masing ajaah. Saya telah mencoba memilih salah satu, bahkan memilih kedua-duanya pun saya jalanin. Begini kisahnya.
2004, saya lulus kuliah di fakultas teknik disalah satu Universitas di Jogja. Pulang-pulang langsung bekerja di usaha keluarga. Tapi saya diam-diam melamar kerja di bank dan baru pamit pada keluarga setelah diterima saja. Sebagai generasi ketiga, entah kenapa saya pada waktu itu tidak mao mengabdi di usaha keluarga. Padahal, generasi pertama kedua sudah bertungkus lumus membangun usaha cipta lapangan kerja.
Dulutu, kita sama-sama tahu lah..., masyarakat Indonesia masih banyak yang beranggapan bahwa pekerja kantor perusahaan besar multinasional menjadi tolak ukur kesuksesan, bergengsi, dan membanggakan. Hehehe.
2005, saat orang-orang lebih memilih untuk ke kota bekerja di perusahaan-perusahaan besar multinasional. Saya malah memilih balik ke desa. Tahun segitu tu, orang-orang berbondong-bondong kerja ke kota, prestise. Biar bisa gaya-gayaan. Hah, saya beda-beda sendiri.
Cuba kita tanya pada diri sendiri!
"Mending mana? Muka ndeso rezekinya kota? Atau tampang-tampang kota, tapi ga ada yang bisa dibawa balik ke desa. Nyaris tak bersisa?". Euuyy, payah nak cakap. Cukuplah menjadi catatan tersendiri.
Evaluasi.
Hidup ini pilihan, bray! Kalo saya ya pada zaman itu, pas gaya kota, asal setiap pulang kampung, balik-balik ke kota membawa bekal untuk hidup. Serius, ga bohong saya mah. Iya. Pas balik lagi ke kota, saya dibekali emak saya kelapa sekian biji, ada nangka berbuah di belakang rumah, dikupasnya masuk dalam plastik. Cabe dan bawang merah di bekali sekilo-sekilo tiap minggu. Beras sekian liter dari hasil sawahnya bagian emak saya, ahhahah.
Klo diingat-ingat ya, ngenees. Hidup dikota rezeki kuq kampung. Malu saya pada diri sendiri, kok begini amat sih hidup. Ga cukup-cukup dek gaji do haa. Kena saya bos di gaya hidup. Ya gimana lah kan? Ngupi ke Excelco, cuma ngupi doang ke e mall. Habis dek kulineran je gaji saya.
Akhirnya saya sadar, bukan hidup begini yang saya ingin. Ga pentinglah waoww. Ga penting banget parlente. Buat apa sih kesohor tapi tekor. Lha. Mending ndeso gini to, tapi bisa tiap minggu healing-healing ke kota. Seperti sekarang.
Sekarang.
Biarlah muka-muka ndeso, yang penting gaya ga kampungan. Pagi sarapan di kampung, beko malam makan di e mall. Pas beli sepatu, adaaaa dari hasil uang jagung. Pas mao makan sama bigbos-bigbos, bisa mbayarin pake sisa-sisa uang cabe.
Kadang terpikir oleh saya. Kenapa yah, keluarga saya banyak memilih tinggal di kota? Apa saya aja yang merasa tidak cocok lagi tidak tinggal di kota? Saya iyah, ga ada yang suruh saya pulang kampung. Wong saya sendiri yang memilih.
Saya suka aneh-aneh memang, haha. Tapi kan...., saya juga tidak salah kan... dengan pilihan saya. 2006 awal, banyak yang menyesalkan keputusan saya. Banyak yang ngenyek. Keluarga sendiri, teman-teman sebaya, apalagi keluarga calon. Mereka berpro-kontra. Kenapa kok KS ga mao bekerja kantoran, baju sudah bagus-bagus merek executive, gaji sudah jelas setiap bulannya.
Banyak yang bilang KS tu keras kepala. Saya cengar-cengir aja. Umur saya ketika itu masih 22 jalan 23 tahun. Malas saya ber pro-kontra tu dengan orang-orang dewasa, akhirnya saya undur jadwal pernikahan, karena perihal pilihan profesi ini agak sedikit konslet.
Dulu mana ada orang semudah itu berhenti kerja. Trus kan. Udah berhenti kerja, rencana kan mao nikah tuh. Tapi karena ada konslet -konslet sedikit dengan calon ipar. Malah ga ingin saja saya menikah waktu itu. Dirumah sering kena marah. Makan tidur-makan tidur saja. Ga betah saya.
Daripada -daripada. Akhirnya, januari 2006 godaan untuk bekerjapun datang lagi. Maju mundur maju mundur, kayak lagu Syahrini, xixixi. Saya putuskanlah untuk bekerja kembali, dibank berbeda. Padahal, niat hati mao buat usaha tu setelah resign pertama, sudah gondok-gondok'an debat sama mantan bos bank perihal pilihan profesi ini.
Katanya ya, "mao makan apa lu, jika berhenti bekerja". Ih, kayak yang ga yakin kali saya dalam menjalani hidup ni dibuatnya. Iya. Sakit kali hati awak dibuatnya. Itulah kenapa, sekarang waktunya bercerita panjang lebar.
Saya KS, waktu tu mencoba memberitahu perasaan saya kepada orang yang tak punya hati; -tentang rasa sakit dikata-katain, tentang rasa sesak ditertawakan, tentang luka ketika direndahkan-, Nah, sekarang akan ditanggapi.
Pernah hari tu ya, saya ketemu mantan bos pas saya lagi jualan di bagasi mobil Camry. Dan mantan bos satunya lagi ketemu diparkiran e mall pas saya markirin jazz orange. Tapi ya saya waktu itu juga pas pula pake baju dinas PNS. Hehehe. Saya tetap menyapanya dengan baik. Ga ada yang salah dengan perbedaan pandangan.
Perihal pilihan profesi,
PNS jualan baju dan sepatu di mobil? Ya ga apa-apa kali yaaa? Dulu tu ya, bisa kuq buat biaya saya bolak balik kuliah S2. Nah lho..., Sambil kerja, ya jualan baju, sepatu, dan tas. Sambil beli dagangan, ya kuliah. Sambil jaga anak, ya belajar. Saya emang gitu, suka sambil-sambilan. Sambil nunggu masak apa gitu yah, haa saya bisa pulak tu menulis cerpen wkkwk. Sambil menulis, kadang suami menggangu, suka tanya-tanya apa gitu tentang plan usaha. Saya mah ga repot, secepat kilat mengalihkan fokus saya. Malah yang ngeliat saya yang repot haha ha. Lawak.
Netizen yang baik;
"Hidup adalah siklus pasang surut, berkembang dan bertumbuh hingga akhirnya tiada. Maka isilah hidup sebaik yang kau bisa, sebermanfaat yang kau mampu, sebelum kehidupan itu pergi dan terlepas."
Note for Your self;
Segala sesuatu dalam hidup adalah sementara. Jika semuanya berjalan baik, nikmatilah karena itu tidak akan bertahan selamanya. Jika keadaan menjadi buruk, jangan khawatir karena itu juga tidak akan bertahan selamanya.Tak ada yang abadi. Saya pikir itu pelajaran termudah yang kita semua pelajari dengan cara yang paling sulit.
Tadi, saya pergi sendiri. Menyetir mobil dalam keadaan hening, hanya bertemankan lagu Cikini Ke Gondangdia. Belum ada konten baru. Jadi ini video pas saya jadi petani sayur.
Teringat saya sebuah kata, Now a normal person would say ; "People change, things change, time changes, priorities change." Beberapa orang memang seperti itu. Orang-orang bisa saja berubah, segalanya sangat bisa berubah, waktu bisa berubah..., prioritaspun berubah, rezekipun seringkali berubah.
Benar. Kadang saya tu ya, dari ada menjadi tak ada. Kadang, dari yang tak ada, menjadi ada. Tidak ada yang bertahan selamanya, tapi setidaknya saya tetap mendapatkan kenangan. Iya yang abadi memang hanya kenangan. Tidak ada yang bertahan selamanya bahkan bahagia dan sedihmu. Tidak ada yang bertahan selamanya..., termasuk rasa sakit dan masalah.
Intinya. Tak ada yang abadi. Semua bersifat sementara, termasuk emosi saya.
Noh, denger lagu ini, bener yaa.....
"Tak ada yang abadi. Suka dan duka memang datang silih berganti. Bahkan kuda yang mana...., kuda yang mana..... bisa terkalahkan oleh Cikini ke Gondangdia".
Bersambung.....
Inilah cara cari uang tambahan tanpa modal besar saat keadaan sulit
#KSStory #KSMotivasi #KSGarden
#Bertani #Beternak #Berkebun #TaniTernak
#Fyp #Reels #Fbpro #Vod #Viral