Toko kelontong merupakan salah satu alat untuk menjaga kestabilan rupiah dalam bingkai mikro. Hampir setiap RT/RW di sekitar kita terdapat toko kelontong. Biasanya toko yang menjual kebutuhan harian ini dikelola oleh pribadi. Harga barang di toko kelontong juga lebih hemat jika dibandingkan dengan minimarket.
Produk Pojok Lokal (Dokpri)
Meski profit toko kelontong terbilang kecil, keberadaannya berdampak pada kenaikan pendapatan negara. Indonesia memiliki sekira 3 juta toko kelontong aktif yang bergerak melancarkan peredaran
ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Menangkap potensi besar dari toko kelontong, sejak tahun 2008,
SRC memberikan pendampingan bagi 110.000 mitra toko.Terbukti logo SRC pada banner toko kelontong mudah ditemui di sekitar kita. SRC merupakan toko kelontong masa kini yang tergabung dalam program kemitraan untuk meningkatkan daya saing para pemilik toko kelontong melalui pendampingan usaha yang berkelanjutan.
Tidak sebatas pendampingan, toko kelontong yang bekerja sama dengan SRC menyediakan space khusus produk lokal. Namanya Pojok Lokal. Berbagai olahan makanan dari produsen lokal ditampilkan dengan rapi. Sebelum masuk ke toko SRC, produk lokal harus dibuat dengan kebersihan dan keamanan yang terjamin. Pun kemasan dibuat semenarik mungkin guna memikat konsumen.
Kompasiana Onloc mengunjungi beberapa toko kelontong dan Usaha Kecil Menengah (
UKM) di Yogyakarta pada 27 November 2019. Kegiatan ini diikuti oleh 10 Kompasianer dan beberapa rekan media.
SRC Rukun, Toko Kelontong Ramah WisatawanOrang tua Pak Purwanto membuka toko kelontong sederhana tahun 1980-an. Awalnya mereka hanya menjual kebutuhan pokok dengan stok minim. Dengan berbagai perti bangan, akhirnya tahun 2017 memutuskan bergabung dengan SRC. Bukan hanya kebutuhan harian, kini produk yang dijual lebih beragam. Bahkan stoknya ditingkatkan.
Toko kelontong yang kini dikelola oleh Pak Wanto ini menyediakan pojok lokal berisikan produk makanan produksi UKM. Hal ini membuat wisatawan Pantai Parangtritis seringkali memborong oleh-oleh di SRC Rukun. Lokasi toko Pak Wanto juga mudah diakses lantaran ada pada jalan utama. SRC Rukun juga berada di kawasan penginapan di sekitar pantai.
Bawang goreng Bu Rina (Dokpri)
Bawang Goreng BURINA Berkembang Bersama SRCBerta Rinawati yang akrab disapa Bu Rina merintis usaha bawang goreng sejak 12 tahun yang lalu. Awalnya hanya kemasan plastik kecil yang dipasarkan di sekitar rumah. Namun demikian rasa bawang gorengnya sudah menjadi idola lidah konsumen. Perempuan asal Prawirodirjan, Gondomanan, Yogyakarta ini merasa harus berbuat lebih agar produksinya meningkat.
Sejak menjadi mitra SRC, produknya bisa menjangkau pasar lebih luas. Kini Bu Rina rutin mengirim bawang goreng ke beberapa toko kelontong SRC di Jogja, Jakarta, dan Surabaya. Permintaan terus naik lantaran harga terbilang bersahabat.
Jika dulu melakukan produksi secara mandiri dibantu suami, kini Bu Rina menggandeng tetangga. Beliau sengaja mengandalkan tetangga membantu kegiatan produksi agar permintaan terpenuhi. Beberapa ibu rumah tangga sekitar rumahnya kini memiliki penghasilan sampingan dari mengupas bawang merah.
"Mengupas bawang tanpa menggunakan alat biar pendapatan merata juga ke tetangga."---Bu Rina
Bu Sukma dan produsen camilan (Dokpri)
SRC ACDC Sukses Menggandeng UKM Camilan di JogjaSebelum mengenal SRC toko kelontong milik Bu Sukma terbilang kurang menarik. Ruangannya sempit, kurang rapi, dan gelap. Hal ini bertolak belakang dengan standar RBT (Rapi Bersih Terang) yang harus dipenuhi oleh mitra SRC. Setelah bergabung menjadi dengan SRC, Bu Sukma mulai memperhatikan penampilan tokonya. Kini ruangan diperlebar, penerangan maksimal, dan etalase disusun rapi.
"Saya senang, omset meningkat 3-4 kali lipat setelah bergabung dengan SRC. Omset produsen produk makanan lokal juga naik."---Bu Sukma
SRC ACDC menyediakan rak khusus produk lokal. Salah satunya adalah stik pangsit milik Pak Jalal. Usaha sampingan beliau awalnya selalu ditolak masuk toko dengan alasan rasa kurang enak. Berbagai eksperimen pengolahan dilakukan hingga Bu Sukma dan penikmat tester berkata "OK".
Sebelum masuk ke ACDC, Pak Jalal hanya memproduksi 2-3 kilogram dalam satu bulan. Sekarang beliau memenuhi permintaan dengan produksi satu karung per bulan. Hal ini mencerminkan bahwa keberadaan SRC dapat meningkatkan kesejahteraan toko kelontong dan produsen UKM.