"Kita hidup di zaman di mana kesetiaan mudah diucapkan... tapi paling cepat ditinggalkan."
Ada tempat... yang tidak ramai, tidak juga megah...
tapi menyimpan jejak kesetiaan yang jarang kita temui hari ini.
Hari itu, saya dan istri sampai di sebuah lokasi yang mungkin tidak banyak dikenal orang...
Makam Sentot Ali Basyah.
Tempat peristirahatan terakhir seorang tokoh yang pernah berdiri di garis depan sejarah...
Sentot Ali Basyah.
Ia bukan raja.
Bukan pula tokoh yang sering disebut dalam buku-buku populer.
Tapi perannya... tidak bisa dianggap kecil.
Sebagai tangan kanan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa, Sentot Ali Basyah adalah simbol keberanian, strategi, dan yang paling langka kesetiaan.
Kami berjalan perlahan di area makam. Suasananya tenang... cenderung sunyi. Tidak banyak pengunjung. Tidak ada hiruk pikuk. Hanya angin pelan... dan rasa hormat yang muncul dengan sendirinya.
Di tempat seperti ini, kita tidak sekadar berkunjung... tapi diajak untuk mengingat.
Dan di titik itu, saya mulai berpikir...
Hari ini, kata "loyalitas" sering diucapkan...
tapi semakin jarang dijalankan.
Sedikit perbedaan, kita mudah berbalik arah.
Sedikit tekanan, kita cepat menyerah.
Padahal dulu... dalam situasi yang jauh lebih sulit, orang-orang seperti Sentot Ali Basyah tetap berdiri. Tetap berjuang. Tetap setia... bahkan ketika risikonya adalah kehilangan segalanya.
Ironis, ya...
Kita hidup di zaman yang lebih nyaman...
tapi justru lebih mudah goyah.
Saya dan istri sempat diam sejenak. Tidak banyak yang bisa dikatakan. Karena di tempat seperti ini... kata-kata seringkali terasa kurang.
Yang ada hanya satu perasaan:
Hormat.
Bengkulu sekali lagi mengingatkan... bahwa sejarah tidak selalu berada di tempat yang ramai dan terkenal.
Kadang, ia tersembunyi di sudut-sudut sunyi... menunggu untuk kita pahami.
Dan sebelum kami melangkah pergi, satu hal terasa jelas...
Bahwa perjuangan tidak selalu diukur dari seberapa besar nama kita dikenal...
Tapi dari seberapa kuat kita berdiri...
dan seberapa setia kita bertahan.