Video Artikel Utama

Dari Pontianak ke Singkawang: Perjalanan Penuh Rasa, Sejarah, dan Kenangan yang Tak Pernah Hilang

23 Juli 2026   06:01 Diperbarui: 23 Juli 2026   14:22 287 33 21


"Kalau perjalanan jauh itu diisi tidur, apakah tetap bisa disebut jalan-jalan?"

Pertanyaan itu saya lontarkan kepada istri sambil tersenyum sebelum mobil mulai meninggalkan Kota Pontianak menuju Singkawang.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Perjalanan memang cukup panjang. Kepada sopir, saya langsung berpesan, "Bang, kalau saya tiba-tiba merem, jangan khawatir. Saya memang suka tidur sebentar, bangun sebentar. Tapi kalau ada tempat yang menarik atau kuliner enak, tolong dibangunkan ya."

Untungnya, sopir hanya tertawa. Mungkin beliau sudah sering menghadapi penumpang seperti saya.

Setelah beberapa hari menikmati berbagai destinasi wisata dan kuliner di Pontianak, kini kami melanjutkan perjalanan menuju Singkawang, kota yang dikenal sebagai salah satu wajah keberagaman di Kalimantan Barat.

Sayangnya, perjalanan ini menyisakan sedikit penyesalan. Video yang kami rekam saat itu entah bagaimana terhapus. Yang masih tersimpan hanyalah foto-foto. Namun, terkadang foto justru mampu menghidupkan kembali kenangan yang nyaris terlupakan.

Belum jauh dari Pontianak, aroma makanan mulai menggoda. Kami pun beberapa kali meminta sopir menghentikan kendaraan ketika melihat warung yang ramai pengunjung.

"Koleksi Misbah Moerad"

Salah satu yang paling kami ingat adalah menikmati bikang yang disajikan bersama sambal udang.

Saya masih ingat ekspresi istri saat suapan pertama.

"Enak sekali..."

Kalimat itu diikuti dengan satu potong lagi, lalu satu lagi.

Saya hanya tersenyum melihatnya.

Biasanya kalau pulang ke Bogor, saya hanya bisa membawa oleh-oleh. Rasanya tentu berbeda dibanding menikmati makanan langsung dari tempat asalnya.

Hari itu istri saya benar-benar menikmati kuliner tersebut. Bahkan sampai empat potong habis tanpa terasa.

Saya hanya bisa bergurau, "Untung kita masih harus jalan lagi. Kalau tidak, mungkin pesan empat lagi."

Perjalanan kembali berlanjut. Di tengah perjalanan kami melewati sebuah jembatan yang pernah menjadi perhatian masyarakat karena sebuah musibah pada masa lalu. Saat berlangsung sebuah pesta rakyat, jembatan itu tidak mampu menahan beban ribuan pengunjung hingga akhirnya roboh dan menimbulkan banyak korban.

Kami melintasinya dengan perasaan yang berbeda.

Sebuah bangunan bisa dibangun kembali, tetapi setiap peristiwa selalu meninggalkan pelajaran agar keselamatan menjadi prioritas dalam setiap kegiatan yang melibatkan banyak orang.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Perjalanan kemudian membawa kami menuju Istana Amantubillah.

Bangunan bersejarah ini berdiri anggun, menjadi saksi perjalanan panjang Kesultanan Mempawah. Kami tidak berlama-lama di dalam kawasan istana. Cukup berjalan santai, menikmati suasana, lalu mengabadikan beberapa foto sebagai kenang-kenangan.

Bagi saya, setiap istana selalu memiliki cerita. Dindingnya mungkin diam, tetapi sejarah yang pernah terjadi di dalamnya seakan masih terasa.

Perjalanan kami berlanjut menuju kawasan Sambas.

Di sana kami mengunjungi Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas, salah satu peninggalan bersejarah yang masih terawat dengan baik.

Wilayah Sambas juga menyimpan catatan sejarah yang tidak selalu indah. Indonesia pernah mengalami konflik sosial yang menimbulkan luka bagi banyak orang. Beberapa tahun kemudian, konflik serupa kembali terjadi di wilayah Kalimantan lainnya.

Melihat kembali tempat-tempat yang pernah menjadi bagian dari sejarah tersebut membuat saya semakin menyadari betapa berharganya kerukunan.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Perbedaan suku, budaya, dan adat istiadat seharusnya menjadi kekayaan bangsa, bukan alasan untuk saling bermusuhan.

Semoga generasi sekarang dan yang akan datang dapat terus menjaga persatuan sehingga peristiwa-peristiwa menyedihkan seperti itu tidak pernah terulang lagi.

Menjelang sore kami tiba di Singkawang.

Kota ini memberikan suasana yang berbeda. Jalan-jalannya bersih, masyarakatnya ramah, dan nuansa keberagaman begitu terasa.

Malam harinya saya mengajak istri berjalan santai menyusuri kawasan Masjid Agung Singkawang yang berdiri megah. Tak jauh dari sana, kami juga menikmati keindahan klenteng yang menjadi salah satu ikon kota ini.

Pemandangan rumah-rumah ibadah yang berdiri berdampingan menghadirkan rasa damai. Rasanya indah melihat masyarakat yang hidup berdampingan dalam keberagaman.

Tentu saja, perjalanan malam belum lengkap tanpa wisata kuliner.

Kami kembali berhenti di beberapa tempat makan sepanjang jalan. Entah mengapa, setiap melihat makanan khas daerah, rasanya selalu muncul keinginan untuk mencicipi. Mumpung masih di Singkawang, pikir saya, kapan lagi?

Keesokan harinya perjalanan pulang menuju Pontianak dimulai. Namun seperti biasa, kami tidak pernah bisa langsung pulang begitu saja.

Masih ada beberapa tempat yang ingin kami singgahi. Kami mampir ke Singkawang Zoo, menikmati suasana yang sejuk dan rindang. Setelah itu perjalanan berlanjut menuju Pantai Pasir Panjang, menikmati semilir angin laut sebelum benar-benar meninggalkan Singkawang. Sore harinya kami kembali tiba di Pontianak dan bermalam di sana.

"Koleksi : Misbah Moerad"

Esok harinya perjalanan kami harus berpisah. Istri saya kembali ke Bogor, sementara saya masih melanjutkan petualangan menuju Sintang hingga ke kawasan perbatasan Indonesia--Malaysia di Entikong. Begitulah perjalanan kami.

Ada foto yang hilang, ada video yang terhapus, tetapi kenangan tetap tersimpan rapi di dalam ingatan.

Saya percaya, perjalanan bukan hanya tentang seberapa jauh kita melangkah, melainkan tentang seberapa banyak cerita yang kita bawa pulang.

Dan Singkawang telah memberi kami banyak cerita---tentang kelezatan kuliner, keindahan sejarah, keberagaman yang menyejukkan, serta harapan agar persatuan bangsa selalu menjadi kekuatan terbesar Indonesia.

Karena pada akhirnya, setiap perjalanan mungkin akan berakhir. Namun kenangan baik akan selalu menemukan jalannya untuk kembali hidup, setiap kali kita membuka album foto dan mulai bercerita.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5