A Day in My Life
Niagara Cipamingkis: Katanya Mirip Niagara, Istrinya yang Jadi Model, Suaminya yang Jadi Fotografer
Catatan dari Saung APA, 620 MDPL
Bogor memang tidak pernah kehabisan cerita kalau soal wisata alam.
Dari curug, sungai, bukit, perkebunan, sampai tempat-tempat yang tiba-tiba viral di media sosial, semuanya seperti berlomba mengajak orang meninggalkan sejenak hiruk-pikuk kota.
Salah satunya adalah tempat yang beberapa waktu lalu cukup ramai diperbincangkan, yaitu Wisata Niagara Cipamingkis.
Namanya saja sudah membuat penasaran.
Niagara?
Wah... jangan-jangan Bogor sekarang punya Niagara sendiri.
He he he...
Tempat ini berada di Desa Sukanegara, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor. Air terjun yang sebenarnya dikenal sebagai Sungai Cadas Panjang ini memiliki aliran air yang cukup deras, dengan tebing-tebing batu di sekitarnya yang membuat pemandangannya terlihat dramatis.
Karena bentuk dan suasananya dianggap memiliki kemiripan dengan Air Terjun Niagara di Amerika Serikat, kemudian muncullah nama Niagara Cipamingkis.
Kalau soal mirip atau tidak, tentu masing-masing punya penilaian.
Saya sendiri tidak mau ikut membandingkan.
Namanya juga sedang jalan-jalan.
Yang penting bagus, fotonya bagus, dan pulangnya hati senang.
He he he...

Kami Datang Siang Hari
Saat kami berkunjung ke sini, suasananya cukup menyenangkan.
Saya dan istri menikmati pemandangan air yang mengalir deras melewati bebatuan. Suara gemuruh air membuat suasana terasa jauh dari kebisingan perkotaan.
Kami kemudian mampir makan di sebuah warung.
Namanya juga perjalanan suami istri.
Kalau sudah sampai tempat wisata, biasanya ada dua agenda penting:
pertama menikmati pemandangan, kedua mencari makanan.
He he he...
Sambil makan, kami sempat bertanya kepada penjaga warung tentang suasana tempat ini kalau malam hari.
Jawabannya malah membuat kami penasaran.
Katanya, kalau malam suasananya justru semakin asyik.
Tempat ini disebut buka sampai sekitar pukul 24.00, dan ketika malam tiba ada pencahayaan tambahan yang membuat kawasan air terjun terlihat berbeda.
Air yang mengalir deras, tebing batu, ditambah lampu-lampu...
Katanya memang bisa memberikan suasana yang lebih magis.
Saya dan istri hanya manggut-manggut.
Dalam hati mungkin sama-sama berpikir:
"Kapan-kapan saja kalau mau lihat suasana malam."
Karena untuk malam ini, sepertinya kami cukup menikmati versi siangnya saja.
Maklum...
Umur sudah tidak bisa diajak kompromi.
He he he...

Sedikit Bicara, Banyak Jepret
Ada satu hal yang mungkin sudah bisa kompasianer tebak kalau kami berdua sedang berada di tempat seperti ini.
Saya dan istri sebenarnya tidak terlalu banyak berbicara.
Bukan karena sedang marahan.
Bukan juga karena kehabisan bahan pembicaraan.
Kami sudah lama menikah, jadi kadang tidak perlu banyak bicara.
Satu lirikan saja sudah cukup.
He he he...
Dan kalau tempatnya bagus seperti ini, saya biasanya sudah tahu tugas saya.
Menjadi fotografer.
Istri melihat pemandangan.
Saya melihat istri.
Istri menikmati suasana.
Saya mencari sudut pengambilan gambar.
Istri berdiri di depan air terjun.
Saya mundur beberapa langkah.
"Sudah?"
"Belum."
"Yang tadi bagus?"
"Coba lagi."
He he he...
Begitulah kehidupan fotografer dadakan.
Tidak ada honor.
Tidak ada uang transport.
Tidak ada uang lembur.
Yang ada hanya satu kalimat:
"Nanti kirim ke HP ya..."
Hahaha...
Tapi sebenarnya saya senang.
Karena dari semua foto yang saya ambil, bukan cuma tempat wisatanya yang ingin saya simpan.
Ada wajah istri saya di dalamnya.
Dan mungkin beberapa tahun lagi, ketika kami membuka kembali foto-foto perjalanan ini, yang kami ingat bukan lagi apakah Niagara Cipamingkis benar-benar mirip Niagara di Amerika atau tidak.
Yang kami ingat adalah:
"Oh, dulu kita pernah ke sini."
Itulah mungkin fungsi foto yang sebenarnya.
Bukan sekadar gambar.
Tetapi cara kita menyimpan waktu.

Bogor dan Cerita yang Tidak Ada Habisnya
Setiap kali bepergian di sekitar Bogor, saya selalu merasa seperti sedang membuka halaman baru.
Kadang ke curug.
Kadang ke bukit.
Kadang menemukan tempat yang sebelumnya tidak pernah kami dengar.
Dan lucunya, sering kali tempat yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah justru baru kami ketahui setelah tempat tersebut viral.
Niagara Cipamingkis salah satunya.
Buat orang lain mungkin ini hanya sebuah air terjun.
Tetapi bagi kami, setiap perjalanan selalu punya cerita sendiri.
Ada perjalanan menuju lokasi.
Ada rasa penasaran.
Ada makan di warung.
Ada ngobrol dengan penjaga.
Ada informasi tentang suasana malam.
Dan tentu saja...
Ada istri yang menjadi model.
Serta suami yang kembali menjalankan profesi dadakannya sebagai fotografer keluarga.
He he he...

Tidak apa-apa.
Selama masih bisa jalan berdua, masih bisa menikmati alam, masih bisa makan bersama, dan masih bisa saling tersenyum...
Saya rasa itu sudah lebih dari cukup.
Karena pada akhirnya, wisata bukan hanya tentang ke mana kita pergi.
Tetapi tentang dengan siapa kita pergi dan cerita apa yang kita bawa pulang.
Dan hari itu, dari Niagara Cipamingkis, kami pulang membawa satu cerita lagi.
Serta beberapa puluh foto...
yang sebagian besar tentu saja...
foto istri.
He he he...