Video Pilihan

Curug Cibogo: Sarung Tangan Ketinggalan, Istri Jadi Google Maps

12 Oktober 2026   05:10 Diperbarui: 12 Oktober 2026   05:10 304 11 6


A Day in My Life

Catatan dari Saung APA, 620 MDPL

Curug Cibogo: Sarung Tangan Ketinggalan, Istri Jadi Google Maps

Selamat pagi, kompasianer!

Kalau sudah memasuki usia seperti kami, ada satu hal yang mulai harus diperhatikan dalam perjalanan:

jangan sok kuat!

Pagi itu udara Puncak lumayan dingin. Kami berdua melaju dengan kendaraan legend kesayangan, Supra X, perlahan menyusuri jalan.

Masalahnya cuma satu...

Saya lupa membawa sarung tangan!

Alhasil, baru beberapa kilometer, tangan mulai terasa seperti habis dicelupkan ke air es.

Angin pagi Puncak benar-benar menusuk sampai ke tulang.

Saya sebenarnya ingin mengeluh kepada istri.

Tapi gengsi.

Nanti malah ditanya:

"Katanya masih kuat?"

Waduh... daripada harga diri suami turun di atas Supra X, lebih baik diam saja.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Sarapan Dulu, Perjalanan Belakangan

Seperti biasa, sebelum melanjutkan perjalanan kami mampir dulu ke warung bubur ayam langganan.

Mungkin karena wajah kami sudah terlalu sering nongol di sana, si Mamang bubur langsung mengenali kami.

Tumben pagi itu dia bertanya sambil menyerahkan dua mangkok bubur ayam.

"Apa lagi yang mau dijajal pagi ini, Bapak dan Ibu?"

Saya belum sempat menjawab.

Istri sudah menyambar.

"Kami mau ke Curug Cibogo."

Sambil ngomong, sendok pertama bubur sudah masuk ke mulut.

Efisien sekali istri saya.

Ngomong sambil makan.

Mungkin kalau ikut lomba makan bubur sambil briefing perjalanan, bisa juara.

Si Mamang kelihatan penasaran.

"Di mana itu?"

Istri kemudian menjelaskan.

"Pernah ke Taman Safari?"

"Iya, pernah."

"Nah, begitu mau masuk pintu gerbang Taman Safari, lihat jalur di sebelah kanannya. Ikuti saja sampai mentok. Itulah pintu masuk Curug Cibogo."

Saya cuma mendengarkan.

Dalam hati saya berkata:

Ini istri saya sebenarnya mau jalan-jalan atau sedang melamar jadi pemandu wisata?

Mamang bubur pun manggut-manggut.

Saya sendiri memilih melanjutkan makan.

Karena dalam urusan arah perjalanan, saya sudah belajar satu prinsip penting:

Kalau istri sudah yakin, suami tinggal ikut.

Daripada debat di warung bubur, mending buburnya dihabiskan.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Jam 06.15 Sudah Nongkrong di Taman Safari

Selesai sarapan, kami kembali melanjutkan perjalanan.

Masih pagi sekali.

Sekitar pukul 06.15 WIB, kami sudah berada di depan pintu masuk utama Taman Safari.

Suasana masih cukup sepi.

Kami mengambil jalur sebelah kanan, kemudian mulai menanjak.

Supra X pun bekerja.

Pelan...

Naik...

Pelan lagi...

Naik lagi...

Saya mulai curiga, jangan-jangan yang tua bukan cuma saya.

Tapi ternyata Supra X masih kuat.

Motor legend ini memang luar biasa.

Selama bensin masih ada dan yang bawa belum menyerah, dia tetap jalan.

Kami terus mengikuti jalur sampai akhirnya tiba di kawasan Curug Cibogo.

Foto Dulu, Curug Belakangan

Setelah membayar tiket masuk, kami sampai di gerbang selamat datang Curug Cibogo.

Dan seperti biasa...

ritual wajib dilakukan.

Foto!

Belum masuk curug, foto dulu.

Karena kalau tidak difoto, nanti ketika sampai rumah ceritanya cuma:

"Tadi ke Curug Cibogo."

Lalu anak-anak bertanya:

"Mana fotonya?"

Nah!

Repot kan?

Jadi foto itu bukan sekadar gaya.

Foto adalah bukti bahwa bapaknya masih jalan-jalan.

Kami pun berfoto di bawah gerbang selamat datang.

Setelah itu baru berjalan kaki menuju lokasi curug.

Jaraknya tidak terlalu jauh.

Sekitar 10--15 menit berjalan kaki, kami sudah semakin dekat.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Jalan Sebentar, Foto Berkali-kali

Sebenarnya kalau mau cepat, perjalanan menuju curug ini tidak lama.

Tapi masalahnya...

Kami bukan sedang mengikuti lomba jalan cepat.

Sepanjang perjalanan ada saja pemandangan yang menarik.

Pohon-pohon hijau.

Suasana alam.

Jalur yang asri.

Pokoknya ada saja yang membuat tangan gatal ingin mengambil kamera.

Dan di sinilah nasib seorang fotografer kembali dipertaruhkan.

Saya yang membawa kamera.

Istri yang menjadi model.

Tugas saya:

motret.

Tugas istri:

senyum.

Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu.

"Pah, fotonya dari sini."

Saya pindah.

"Jangan dari situ, dari sana."

Saya pindah lagi.

"Coba ambil agak bawah."

Saya jongkok.

"Kurang bagus."

Saya berdiri lagi.

Begitulah kehidupan fotografer amatir.

Yang difoto bisa berkali-kali ganti gaya.

Yang motret cuma bisa ganti posisi.

Nasib fotografer memang begitu.

Akhirnya... Curug Cibogo!

Setelah berjalan sekitar 10--15 menit, sampailah kami di lokasi Curug Cibogo.

Dan ternyata...

cantik juga curugnya!

Air yang mengalir di antara bebatuan, pepohonan hijau di sekelilingnya, serta suasana yang masih tenang membuat tempat ini terasa menyenangkan.

Dingin pagi yang tadi menusuk tangan perlahan terlupakan.

Apalagi setelah melihat curugnya.

Capek?

Sedikit.

Kedinginan?

Sudah mulai lupa.

Lupa sarung tangan?

Masih!

Tapi justru hal-hal kecil seperti itulah yang membuat perjalanan menjadi cerita.

Hari itu kami tidak sedang mengejar destinasi yang jauh.

Tidak perlu kendaraan mahal.

Tidak perlu persiapan macam-macam.

Cukup istri, Supra X, kamera, dan semangkuk bubur ayam sebagai bahan bakar awal.

Lalu meluncur mencari tempat baru untuk dijadikan kenangan.

Karena menurut saya, menikmati masa tua itu bukan berarti harus duduk diam di rumah.

Selama kaki masih bisa melangkah...

Selama motor masih mau hidup...

Dan selama istri masih mau diajak jalan...

ya kita jalan!

Soal tangan kedinginan karena lupa sarung tangan?

Itu urusan belakangan.

Yang penting pulang membawa cerita.

Dan tentu saja...

membawa foto istri lebih banyak daripada foto suaminya.

Maklum...

fotografer memang sering tidak masuk frame.

Salam sehat dari kami.

Saung APA, 620 MDPL

Jangan tunggu tua untuk menikmati hidup.

Kalau sudah tua, tinggal menikmati sambil mengingat masa muda. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
  13. 13