Video Pilihan

Bulan Tidak Kelihatan, Curug Ciampea Jadi Sasaran

13 Oktober 2026   05:51 Diperbarui: 13 Oktober 2026   05:51 1183 20 8


A Day in My Life

Bulan Tak Kelihatan, Curug Ciampea Jadi Sasaran

Selamat pagi, kompasianer...

Tiga malam sudah kami menunggu Bulan Purnama dari Saung APA, 620 MDPL.

Maklum, beberapa hari terakhir media sosial ramai sekali membicarakan bulan yang katanya bakal terlihat cantik selama beberapa malam.

Sebagai orang yang tinggal di pegunungan, tentu kami tidak mau ketinggalan.

Malam pertama...

Bulan tidak kelihatan.

Malam kedua...

Bulan masih tidak kelihatan.

Malam ketiga...

Bulan tetap tidak kelihatan.

Yang kelihatan cuma awan tebal.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Kami sudah pakai jaket tebal, duduk menikmati udara malam yang dinginnya lumayan menusuk tulang. Sesekali kepala mendongak ke langit, berharap awan bergeser.

Tapi mungkin bulan sedang malu.

Atau mungkin...

bulan tidak mau difoto.

Hehehe...

Akhirnya kami menyerah.

Daripada terus menunggu sesuatu yang tidak jelas kapan munculnya, kami pun masuk.

Saya kira malam itu selesai.

Ternyata belum.

Karena tiba-tiba istri saya berkata,

"Pah..."

Nah!

Kalau sudah diawali dengan "Pah...", biasanya ada sesuatu.

Saya menoleh.

"Kenapa?"

Dia bilang,

"Di medsos ramai lagi nih Curug Ciampea. Kita besok pagi ke sana yuk..."

Saya diam sebentar.

Bukan karena berpikir.

Tapi karena sedang memastikan apakah saya salah dengar.

Tiga malam menunggu bulan, sekarang malah diajak trekking.

Akhirnya saya jawab:

"BERANGKAT!"

Tidak ada diskusi.

Tidak ada voting.

Tidak ada rapat keluarga.

Kalau istri sudah bilang "yuk", bagi saya itu bukan pertanyaan.

Itu surat tugas.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Pagi-Pagi Sudah Mikirin Perut

Besok paginya kami berangkat.

Tapi sebelum sampai lokasi, ada satu hal yang jauh lebih penting daripada curug.

Apa?

Sarapan!

Kita boleh punya semangat petualangan, tetapi jangan lupa bahwa tubuh ini bukan motor Honda yang tinggal isi bensin lalu jalan.

Usia sudah tidak muda lagi.

Jadi sebelum trekking, kami mampir menikmati bubur ayam.

Setelah perut terisi, kami beli gorengan.

Tahu isi.

Tempe.

Saya mulai merasa perjalanan ini sudah cukup menjanjikan.

Kemudian kami mampir ke Indomart membeli permen dan dua botol Aqua.

Persiapan lengkap.

Bubur aman.

Gorengan aman.

Air minum aman.

Permen aman.

Tinggal satu yang belum pasti:

lutut.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Curug Ciampea, Kami Datang!

Curug Ciampea berada di kaki Gunung Salak, tepatnya di Desa Tapos I, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Kawasan ini masih sangat terasa nuansa alamnya.

Untuk menuju lokasi, kendaraan bisa diarahkan melalui kawasan Curug Luhur, kemudian menuju arah Curug Ciputri hingga sampai ke kawasan Curug Ciampea.

Dan jangan berharap motor bisa membawa kita sampai ke depan air terjun.

Karena setelah parkir...

perjalanan justru baru dimulai.

Kami masih harus berjalan kaki sekitar 1,5 kilometer.

Waktu tempuh sekitar 45--60 menit, tergantung kondisi jalur dan tentu saja...

berapa kali berhenti untuk foto.

Nah, kalau yang jalan saya dan istri, angka 45--60 menit itu jangan terlalu dipercaya.

Bisa lebih lama.

Kenapa?

Karena kami bukan sedang ikut lomba trekking.

Kami sedang jalan-jalan.

Kalau menemukan tempat bagus:

Berhenti.

Foto.

Kalau pemandangan bagus:

Berhenti.

Foto.

Kalau istri bilang:

"Pah, bagus nih..."

Berhenti lagi.

Kami Pilih Jalur Hutan Pinus

Ada dua pilihan jalur menuju Curug Ciampea.

Pertama, melewati persawahan.

Kedua, melewati hutan pinus.

Kami memilih jalur kedua.

Bukan karena takut sawah.

Bukan juga karena hutan pinus lebih pendek.

Tapi karena sepanjang perjalanan hutan pinus menawarkan banyak pemandangan yang menarik untuk diabadikan.

Pohon-pohon pinus berdiri tinggi.

Udara terasa sejuk.

Suasana hutan begitu asri.

Dan yang paling penting...

banyak spot foto.

Ini penting, Om bro.

Karena kalau sudah sampai usia tertentu, bukti perjalanan bukan cuma cerita.

Harus ada fotonya.

Kalau tidak ada foto, nanti anak-anak bilang:

"Ah, paling Bapak cuma ke warung."

"Koleksi: Misbah Moerad"

Trekking Pelan-Pelan, Yang Penting Sampai

Jalurnya cukup menantang.

Naik turun.

Berkelok.

Kadang harus mengatur langkah supaya tidak terlalu cepat menghabiskan tenaga.

Maklum...

Dulu mungkin kaki kita yang mengajak jalan.

Sekarang kadang-kadang lutut ikut memberikan pendapat.

"Pah, jangan cepat-cepat..."

Tetapi justru di sinilah nikmatnya.

Kami berjalan santai.

Sesekali berhenti.

Menikmati udara.

Melihat pepohonan.

Mengabadikan pemandangan.

Dan tentu saja tetap saling menunggu.

Saya dan istri memang sudah terbiasa jalan seperti ini.

Tidak harus cepat.

Tidak harus menjadi yang pertama sampai.

Yang penting...

sampai bersama.

Ada Camping Ground di Tengah Hutan

Sekitar 600 meter sebelum lokasi curug, kami menemukan area camping.

Tempatnya cukup keren.

Berada di tengah kawasan hutan, tetapi fasilitasnya sudah lumayan lengkap.

Ada listrik.

Ada Wi-Fi.

Saya sampai berpikir...

ini camping atau pindah kantor?

Bayangkan.

Pagi-pagi bangun di tengah hutan.

Udara dingin.

Suara alam.

Pemandangan hijau.

Lalu buka HP:

"Password Wi-Fi-nya apa, Pak?"

"Koleksi: Misbah Moerad"

Memang zaman sudah berubah.

Dulu orang camping mencari tempat yang jauh dari sinyal.

Sekarang kalau sinyal hilang lima menit saja, yang panik bukan cuma anak muda.

Bapak-bapak juga.

Pulangnya Malah Dapat Bonus Durian

Nah, ini bagian yang hampir saja lupa saya ceritakan.

Setelah puas menikmati Curug Ciampea, kami pun pulang.

Di pinggir jalan, kami melihat ada orang yang sedang menjual durian dari Tenjolaya.

Kami berhenti.

Namanya juga durian...

susah untuk pura-pura tidak melihat.

Apalagi harganya lumayan murah.

Kata penjualnya, durian seperti ini kalau sudah sampai Bogor bisa dihargai sekitar Rp100.000, sementara di sini kami mendapatkannya sekitar Rp50.000.

Wah!

Ini bukan lagi godaan.

Ini namanya rezeki setelah trekking.

Akhirnya saya dan istri masing-masing makan sekitar 2,5 biji.

Berarti...

5 biji!

Kalau dihitung-hitung...

Rp50.000 5 = Rp250.000.

Tapi jangan salah paham.

Kami bukan sedang menghitung berapa uang yang kami keluarkan untuk durian.

Kami sedang menghitung...

berapa banyak kebahagiaan yang masuk ke perut.

Habis jalan kaki di hutan, badan capek, keringat keluar, lalu ditutup dengan durian Tenjolaya yang manis.

Itu baru namanya healing versi kami.

Bukan healing ke hotel mahal.

Bukan spa.

Bukan staycation.

Cukup:

jalan kaki capek durian pulang bahagia.

Dan saya baru sadar...

Mungkin memang ada alasan kenapa malam sebelumnya bulan tidak mau muncul.

Kalau bulan muncul, mungkin kami hanya duduk-duduk melihat langit.

Karena bulan tidak muncul...

kami malah dapat Curug Ciampea dan durian Tenjolaya.

Saya rasa bulan malam itu sedang memberikan rekomendasi wisata:

"Sudahlah, jangan lihat saya. Besok makan durian saja."

Dari Bulan Purnama ke Curug

Kalau dipikir-pikir, perjalanan kami ke Curug Ciampea ini sebenarnya tidak pernah direncanakan.

Awalnya hanya ingin menikmati Bulan Purnama.

Sudah tiga malam menunggu.

Tidak kelihatan karena tertutup awan.

Malam itu saya kira kami hanya akan kecewa.

Ternyata tidak.

Justru dari bulan yang tidak terlihat itu muncul sebuah perjalanan baru.

Istri tiba-tiba punya ide.

Saya langsung setuju.

Pagi harinya kami berangkat.

Sarapan bubur ayam.

Beli tahu isi dan tempe.

Mampir Indomart.

Bawa dua botol Aqua.

Lalu trekking menyusuri hutan pinus menuju Curug Ciampea.

Dan saat pulang...

ditutup dengan durian Tenjolaya.

Begitulah hidup.

Kadang sesuatu yang kita tunggu tidak datang.

Tetapi ternyata Tuhan menggantinya dengan sesuatu yang tidak pernah kita rencanakan.

Bulan tidak memperlihatkan dirinya malam itu.

Tapi pagi harinya...

Gunung Salak memperlihatkan pesonanya.

Dan sore harinya...

durian Tenjolaya memperlihatkan isinya.

Kalau Istri Bilang "Yuk", Jangan Banyak Tanya

Buat saya dan istri, perjalanan seperti ini bukan lagi soal mengejar tempat wisata terkenal.

Kami hanya ingin menikmati waktu yang masih diberikan.

Jalan berdua.

Menikmati alam.

Makan sederhana.

Foto-foto.

Sesekali ngos-ngosan.

Sesekali tertawa.

Dan tentu saja...

saling menunggu.

Karena semakin bertambah usia, kita akhirnya sadar:

Yang paling menyenangkan bukan selalu tempat yang kita tuju.

Tetapi siapa yang berjalan bersama kita.

Dan bagi saya...

selama istri masih bilang,

"Pah, besok kita ke sini yuk..."

maka jawabannya tetap:

"BERANGKAT!"

Soal kuat atau tidak trekkingnya...

itu urusan lutut belakangan.

Soal durian...

itu urusan perut.

Salam dari perjalanan kami berdua.

Saung APA, 620 MDPL.

Bulan boleh ngumpet.

Curug jangan!

Durian jangan dilewatkan!

Hehehe... 



HALAMAN :