Suprihadi SPd
Suprihadi SPd Penulis

Pendidikan SD hingga SMA di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Kuliah D3 IKIP Negeri Yogyakarta (sekarang UNY) dilanjutkan ke Universitas Terbuka (S1). Bekerja sebagai guru SMA (1987-2004), Kepsek (2004-2017), Pengawas Sekolah jenjang SMP (2017- 2024), dan pensiun PNS sejak 1 Februari 2024.

Selanjutnya

Tutup

Video

Berkunjung ke Sekolah Terdampak Banjir

2 Januari 2026   05:46 Diperbarui: 2 Januari 2026   05:46 60 6 2

            "Satu yang dua puluh ribuan! Kami khan hanya bertiga saja sekarang di rumah!"

            Dua kakak  Bintang sudah menikah. Bahkan masing-masing sudah memiliki anak. Berarti Bintang sudah punya kemenakan dan dipanggil "Om" atau paman, padahal baru kelas dua SMA. Eh, kemudian saya ingat Adib. Anak bungsu kami itu juga sudah mempunyai kemenakan. Anak pertama kami, Yunus, sudah mempunyai sepasang anak, Zaki dan Zakiah.

            Martabak pesanan kami sudah selesai diolah, padahal saya masih asyik membuat dokumentasi. Penjual yang menyerahkan bungkusan dalam tas kresek hitam.

            Saya menanyakan harga martabak yang saya pesan tersebut sebagai bentuk penegasan (karena saya sudah mengetahui jumlah uang yang harus dibayarkan).

            "Berapa, Bu?"

            "Empat puluh ribu!" jawab penjual itu.

            Sengaja saya beli dua porsi. Harapan saya, Adib dapat puas makan martabak istimewa yang cita rasanya memang berbeda dengan martabak telur di tempat lain. Sebelum meninggalkan tempat, saya merasakan keanehan pada sepeda motor saya. Dengan tenang, saya periksa ban motor bagian depan.

            Astagafirullah. Anginnya berkurang banyak. Ban agak kempes. Saya pun menoleh kiri dan kanan, mengingat-ingat bengkel terdekat dari tempat itu. Saya baru sadar, pada malam hari sangat jarang ada bengkel yang buka di Penajam.

            "Tapi, bisa dinaiki, khan, Pak?"

            Ban dalam kondisi kempes sangat riskan jika dinaiki. Apalagi berboncengan. Namun, kami nekat menaiki motor itu. Adib tetap membonceng. Baru beberapa meter motor berjalan, Adib merasa kurang nyaman. Akhirnya dia minta turun.

            "Jalan kaki pulang!" ucapku.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4