Suprihadi SPd
Suprihadi SPd Penulis

Pendidikan SD hingga SMA di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Kuliah D3 IKIP Negeri Yogyakarta (sekarang UNY) dilanjutkan ke Universitas Terbuka (S1). Bekerja sebagai guru SMA (1987-2004), Kepsek (2004-2017), Pengawas Sekolah jenjang SMP (2017- 2024), dan pensiun PNS sejak 1 Februari 2024.

Selanjutnya

Tutup

Video

Berkunjung ke Sekolah Terdampak Banjir

2 Januari 2026   05:46 Diperbarui: 2 Januari 2026   05:46 60 6 2

            Tukang bengkel yang sekarang di depan saya, hanya menempelkan semacam plester atau koyo yang ditempelkan pada bagian ban dalam yang berlubang. Seperti kalau kulit tubuh kita kena luka kemudian ditempeli "tensoplas".

            "Barapa, Pak?" tanya saya setelah proses penambalan ban selesai.

            "Lima belas ribu!" ucapnya pelan.

            Untung saya siapkan uang pas sehingga tidak merepotkan tukang bengkel untuk mencarikan uang kembalian. Segera saya berpamitan dan mengucapkan terima kasih. Gerimis masih mengguyur. Saya bersyukur, satu persoalan sudah dapat diatasi.

            Pada pagi hari Senin ini saya berkunjung ke SMPN 1 PPU. Lokasi yang cukup dekat dengan rumah dapat mengurangi risiko kehujanan yang parah. Hujan yang turun cukup lama ternyata berdampak luar biasa. Sebagian teras di depan kelas SMPN 1 PPU terendam air. Ada beberapa kelas yang terasnya tergenang air hujan. Saya sempatkan untuk membuat rekaman video situasi saat anak-anak keluar dari kelas. Mereka tidak mengenakan sepatu. Alas kaki mereka itu dilepas di lorong atau koridor dekat ruang guru yang tidak terkena banjir.

            Kondisi seperti itu sudah berlangsung cukup lama. Belum ada penanganan khusus dari pihak kabupaten padahal SMP 1 PPU adalah sekolah paling tua dan berada di dekat keramaian (dekat pelabuhan penyeberangan: kapal feri, kapal klotok, dan speedboat). Setiap hujan turun agak lama dan cukup deras, halaman sekolah selalu tergenang air. Teras beberapa kelas juga terendam air. Bahkan, saat hujan turun lebih lama dan air laut sedang pasang, air hujan sering masuk ke kelas-kelas yang masih berada pada posisi rendah (bangunan lama). 

            Agak lama saya "ngetem" di ruang tamu SMPN 1 PPU. Saya sempat mengobrol dengan beberapa guru, termasuk kepseknya, Pak Edy Prayitno. Banyak hal kami bicarakan, misalnya masalah rotasi guru. Para guru akan dirotasi atau dimutasi dari satu sekolah ke sekolah yang lain.  Hal itu dilakukan untuk pemerataan mutu pendidikan.

            "Di Kota Malang dan Kota Batu, Jawa Timur sudah dilakukan dalam tiga tahun terahir ini," cerita Pak Edy Prayitno.  Percakapan itu muncul setelah kami melihat postingan kadisdikpora dalam grup DIKDAS di WA. Persoalan mutasi atau rotasi pegawai merupakan persoalan yang akan selalu muncul. Sebagian membuat senang dan sebagian membuat sedih. Pegawai yang dimutasi ke tempat yang cocok tentu akan merasa bahagia. Sebaliknya, pegawai yang kena mutasi ke tempat yang tidak disukai, tentu akan menimbulkan rasa duka.

(Bersambung)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4