Pendidikan SD hingga SMA di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Kuliah D3 IKIP Negeri Yogyakarta (sekarang UNY) dilanjutkan ke Universitas Terbuka (S1). Bekerja sebagai guru SMA (1987-2004), Kepsek (2004-2017), Pengawas Sekolah jenjang SMP (2017- 2024), dan pensiun PNS sejak 1 Februari 2024.
Catatan Ringan Pengawas Sekolah (95)

Gerimis turun sejak dini hari. Saya tidak tahu sejak pukul berapa gerimis mulai turun. Saat saya terbangun menjelang pukul dua dini hari, gerimis itu sudah terdengar. Sambil berjalan ke kamar mandi, saya mengingat-ingat peristiwa semalam.
Usai makan malam, Adib saya ajak menuju tempat penjual martabak, sekitar satu kilometer dari rumah kami. Saya merasa senang karena gerobak martabak dihiasi lampu menyala. Itu berarti sang penjual sudah mulai beraktivitas.

Ketika saya berangkat dari rumah, saya merasakan ada sesuatu yang kurang nyaman pada sepeda motor yang kami naiki. Berhubung fokus saya pada penjual martabak, saya kurang perhatikan kondisi itu. Terus saja saya jalankan motor hingga di depan masjid Ar-Rahman.
Ada seorang pemuda tersenyum kepada kami. Saya belum tahu, siapa dia. Saat saya lebih dekat barulah kukenali wajahnya. Dialah Bintang, anak bungsu Pak Suyono, bendahara masjid Al Muhajirin. Namanya memang Bintang. Saya bertanya kepadanya.
"Beli berapa?"
"Satu aja!"
"Satu? Yang berapaan?"
"Satu yang dua puluh ribuan! Kami khan hanya bertiga saja sekarang di rumah!"
Dua kakak Bintang sudah menikah. Bahkan masing-masing sudah memiliki anak. Berarti Bintang sudah punya kemenakan dan dipanggil "Om" atau paman, padahal baru kelas dua SMA. Eh, kemudian saya ingat Adib. Anak bungsu kami itu juga sudah mempunyai kemenakan. Anak pertama kami, Yunus, sudah mempunyai sepasang anak, Zaki dan Zakiah.
Martabak pesanan kami sudah selesai diolah, padahal saya masih asyik membuat dokumentasi. Penjual yang menyerahkan bungkusan dalam tas kresek hitam.
Saya menanyakan harga martabak yang saya pesan tersebut sebagai bentuk penegasan (karena saya sudah mengetahui jumlah uang yang harus dibayarkan).
"Berapa, Bu?"
"Empat puluh ribu!" jawab penjual itu.
Sengaja saya beli dua porsi. Harapan saya, Adib dapat puas makan martabak istimewa yang cita rasanya memang berbeda dengan martabak telur di tempat lain. Sebelum meninggalkan tempat, saya merasakan keanehan pada sepeda motor saya. Dengan tenang, saya periksa ban motor bagian depan.
Astagafirullah. Anginnya berkurang banyak. Ban agak kempes. Saya pun menoleh kiri dan kanan, mengingat-ingat bengkel terdekat dari tempat itu. Saya baru sadar, pada malam hari sangat jarang ada bengkel yang buka di Penajam.
"Tapi, bisa dinaiki, khan, Pak?"
Ban dalam kondisi kempes sangat riskan jika dinaiki. Apalagi berboncengan. Namun, kami nekat menaiki motor itu. Adib tetap membonceng. Baru beberapa meter motor berjalan, Adib merasa kurang nyaman. Akhirnya dia minta turun.
"Jalan kaki pulang!" ucapku.
Perlahan-lahan saya jalankan lagi sepeda motor. Mata saya tidak lepas dari lirikan ke kiri dan kanan jalan. Siapa tahu ada bengkel yang masih buka. Di dekat kantor inspektorat ada bengkel yang lampu depannya menyala. Saya berhenti sebentar untuk melihat aktivitas di sana. Saya perhatikan hanya ada orang yang duduk-duduk di sana. Saya ragu ada tukang bengkel yang bekerja.
Sepeda motor saya jalankan lagi. Tujuan saya hanya satu, segera ke rumah tukang bengkel yang berlokasi di perumahan kami. Ada satu bengkel yang berada di gang dekat masjid Al Muhajirin. Bengkel itu dioperasikan di teras rumahnya.
Saat saya tiba di depan rumahnya, klakson saya bunyikan. Pintu pagar sudah ditutup. Tidak lama kemudian si empunya rumah muncul dari balik pintu. Saya pun mengutarakan maksud kedatangan saya. Tampak orang bengkel itu agak ogah-ogahan melayani.
"Besok saja, bisa?"
"Bisa!"
Kemudian motor saya titipkan. Saya tidak mau membawa pulang. Saat ini mungkin udara dalam ban roda depan masih ada. Jika saya bawa pulang, semalaman, udara dalam ban dalam bisa-bisa sudah habis. Untuk menuntun sepeda motor dari rumah ke tempat bengkel itu, tentu perlu tenaga ekstra.
Tukang bengkel itu pun membuka pintu pagar. Saya segera memasukkan sepeda motor ke teras rumahnya. Saya lihat ada beberapa sepeda motor milik tukang bengkel dan mungkin pula milik orang lain yang sedang diperbaiki.
Hari Senin tanggal tujuh belas Juni 2019 ini saya harus berdebar-debar. Ketinggian air parit besar sudah pada puncaknya. Artinya, air parit di belakanng rumah Pak Edy Prayitno sudah pada batas maksimal. Sebentar hujan deras lagi, air sudah bisa meluap. Untunglah usai subuh, air mulai surut meskipun lambat.
Di bawah hujan gerimis, saya mendatangi rumah bengkel sepeda motor. Saat saya sampai di halaman rumahnya, ia sedang melakukan proses penambalan ban dalam sepeda motor saya. Ban dalam bagian belakang yang ditambal.
"Bocor halus!" ucap si tukang bengkel.
Kami pun mengobrol sebentar. Ia mengerjakan penambalan ban dengan tenang. Prosesnya memang tidak seperti zaman dahulu. Zaman dahulu, untuk menambal ban yang bocor atau berlubang, perlu api pembakaran. Bagian yang berlubang ditempeli potongan ban dalam juga kemudian dipres dan dipanaskan dengan api.
Tukang bengkel yang sekarang di depan saya, hanya menempelkan semacam plester atau koyo yang ditempelkan pada bagian ban dalam yang berlubang. Seperti kalau kulit tubuh kita kena luka kemudian ditempeli "tensoplas".
"Barapa, Pak?" tanya saya setelah proses penambalan ban selesai.
"Lima belas ribu!" ucapnya pelan.
Untung saya siapkan uang pas sehingga tidak merepotkan tukang bengkel untuk mencarikan uang kembalian. Segera saya berpamitan dan mengucapkan terima kasih. Gerimis masih mengguyur. Saya bersyukur, satu persoalan sudah dapat diatasi.
Pada pagi hari Senin ini saya berkunjung ke SMPN 1 PPU. Lokasi yang cukup dekat dengan rumah dapat mengurangi risiko kehujanan yang parah. Hujan yang turun cukup lama ternyata berdampak luar biasa. Sebagian teras di depan kelas SMPN 1 PPU terendam air. Ada beberapa kelas yang terasnya tergenang air hujan. Saya sempatkan untuk membuat rekaman video situasi saat anak-anak keluar dari kelas. Mereka tidak mengenakan sepatu. Alas kaki mereka itu dilepas di lorong atau koridor dekat ruang guru yang tidak terkena banjir.
Kondisi seperti itu sudah berlangsung cukup lama. Belum ada penanganan khusus dari pihak kabupaten padahal SMP 1 PPU adalah sekolah paling tua dan berada di dekat keramaian (dekat pelabuhan penyeberangan: kapal feri, kapal klotok, dan speedboat). Setiap hujan turun agak lama dan cukup deras, halaman sekolah selalu tergenang air. Teras beberapa kelas juga terendam air. Bahkan, saat hujan turun lebih lama dan air laut sedang pasang, air hujan sering masuk ke kelas-kelas yang masih berada pada posisi rendah (bangunan lama).
Agak lama saya "ngetem" di ruang tamu SMPN 1 PPU. Saya sempat mengobrol dengan beberapa guru, termasuk kepseknya, Pak Edy Prayitno. Banyak hal kami bicarakan, misalnya masalah rotasi guru. Para guru akan dirotasi atau dimutasi dari satu sekolah ke sekolah yang lain. Hal itu dilakukan untuk pemerataan mutu pendidikan.
"Di Kota Malang dan Kota Batu, Jawa Timur sudah dilakukan dalam tiga tahun terahir ini," cerita Pak Edy Prayitno. Percakapan itu muncul setelah kami melihat postingan kadisdikpora dalam grup DIKDAS di WA. Persoalan mutasi atau rotasi pegawai merupakan persoalan yang akan selalu muncul. Sebagian membuat senang dan sebagian membuat sedih. Pegawai yang dimutasi ke tempat yang cocok tentu akan merasa bahagia. Sebaliknya, pegawai yang kena mutasi ke tempat yang tidak disukai, tentu akan menimbulkan rasa duka.
(Bersambung)