Pendidikan SD hingga SMA di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Kuliah D3 IKIP Negeri Yogyakarta (sekarang UNY) dilanjutkan ke Universitas Terbuka (S1). Bekerja sebagai guru SMA (1987-2004), Kepsek (2004-2017), Pengawas Sekolah jenjang SMP (2017- 2024), dan pensiun PNS sejak 1 Februari 2024.
Perlahan-lahan saya jalankan lagi sepeda motor. Mata saya tidak lepas dari lirikan ke kiri dan kanan jalan. Siapa tahu ada bengkel yang masih buka. Di dekat kantor inspektorat ada bengkel yang lampu depannya menyala. Saya berhenti sebentar untuk melihat aktivitas di sana. Saya perhatikan hanya ada orang yang duduk-duduk di sana. Saya ragu ada tukang bengkel yang bekerja.
Sepeda motor saya jalankan lagi. Tujuan saya hanya satu, segera ke rumah tukang bengkel yang berlokasi di perumahan kami. Ada satu bengkel yang berada di gang dekat masjid Al Muhajirin. Bengkel itu dioperasikan di teras rumahnya.
Saat saya tiba di depan rumahnya, klakson saya bunyikan. Pintu pagar sudah ditutup. Tidak lama kemudian si empunya rumah muncul dari balik pintu. Saya pun mengutarakan maksud kedatangan saya. Tampak orang bengkel itu agak ogah-ogahan melayani.
"Besok saja, bisa?"
"Bisa!"
Kemudian motor saya titipkan. Saya tidak mau membawa pulang. Saat ini mungkin udara dalam ban roda depan masih ada. Jika saya bawa pulang, semalaman, udara dalam ban dalam bisa-bisa sudah habis. Untuk menuntun sepeda motor dari rumah ke tempat bengkel itu, tentu perlu tenaga ekstra.
Tukang bengkel itu pun membuka pintu pagar. Saya segera memasukkan sepeda motor ke teras rumahnya. Saya lihat ada beberapa sepeda motor milik tukang bengkel dan mungkin pula milik orang lain yang sedang diperbaiki.
Hari Senin tanggal tujuh belas Juni 2019 ini saya harus berdebar-debar. Ketinggian air parit besar sudah pada puncaknya. Artinya, air parit di belakanng rumah Pak Edy Prayitno sudah pada batas maksimal. Sebentar hujan deras lagi, air sudah bisa meluap. Untunglah usai subuh, air mulai surut meskipun lambat.
Di bawah hujan gerimis, saya mendatangi rumah bengkel sepeda motor. Saat saya sampai di halaman rumahnya, ia sedang melakukan proses penambalan ban dalam sepeda motor saya. Ban dalam bagian belakang yang ditambal.
"Bocor halus!" ucap si tukang bengkel.
Kami pun mengobrol sebentar. Ia mengerjakan penambalan ban dengan tenang. Prosesnya memang tidak seperti zaman dahulu. Zaman dahulu, untuk menambal ban yang bocor atau berlubang, perlu api pembakaran. Bagian yang berlubang ditempeli potongan ban dalam juga kemudian dipres dan dipanaskan dengan api.