Belajar buat artikel sendiri mulai sekarang karena kata bapak Rocky Gerung plagiarisme atau menjiplak adalah kejahatan intelektual.
Masihkah Ada Harapan: Antara Lelah dan Cinta yang Takkan Mati
Cinta sejati sering kali tidak berjalan di jalan yang rata dan mulus. Ia sering kali harus menempuh jalan berbatu, mendaki bukit terjal, dan menyeberangi samudra rindu yang luas. Ada kalanya semangat berkobar membara, namun tak jarang pula rasa lelah dan keraguan datang menghampiri, mengetuk pintu hati dan bertanya: "Untuk apa lagi aku berjuang? Masihkah ada harapan di ujung sana?"
Pertanyaan itulah yang coba saya ungkapkan lewat lagu berjudul "Masihkah Ada Harapan". Lagu ini terinspirasi dari nuansa mendayu dan perasaan mendalam yang melekat pada lagu-lagu legendaris, dikemas dengan rasa yang tulus dari lubuk hati terdalam. Lagu ini juga merupakan bagian dari kisah panjang dalam karya tulis saya "Jejak Rindu Arifbol" yang sudah saya terbitkan di APP KBM, mengisahkan perjalanan seorang kekasih yang menempuh dunia demi menemukan kembali pujaan hatinya, Hanan, yang hilang dibawa takdir.
Berikut adalah lirik lengkapnya:
JUDUL: MASIHKAH ADA HARAPAN
CIPT: Arifbol
Sudah berbulan lamanya aku berjalan
Mencari jejak yang entah ke mana arahnya
Demi nama yang selalu kusebut rindu
Sudah banyak tempat yang telah kulewati
Gunung dan lembah tak lagi jadi penghalang
Namun di mana... di mana kau berada Hanan?
Hanya angin yang menjawab keluh kesahku
Kalau akhirnya takkan pernah bersatu
Masihkah ada harapan ku teruskan langkah ini?
Kalau akhirnya kau milik orang lain
Masihkah ada gunanya kujaga hati ini?
Bukan aku tak cinta, bukan aku tak sayang
Tapi lelah ini terasa makin menyiksa
Namun satu hal yang harus kau ketahui
Cintaku ini takkan berubah sampai mati...
Sudah berbulan lamanya aku berjalan
Menerjang badai dan hujan yang lebat
Mencari jejak yang entah ke mana arahnya
Demi nama yang selalu kusebut rindu
Sudah banyak tempat yang telah kulewati
Gunung dan lembah tak lagi jadi penghalang
Namun di mana... di mana kau berada Hanan?
Hanya angin yang menjawab keluh kesahku
Kalau akhirnya takkan pernah bersatu
Masihkah ada harapan ku teruskan langkah ini?
Kalau akhirnya kau milik orang lain
Masihkah ada gunanya kujaga hati ini?
Bukan aku tak cinta, bukan aku tak sayang
Tapi lelah ini terasa makin menyiksa
Namun satu hal yang harus kau ketahui
Cintaku ini takkan berubah sampai mati...
Biarlah orang bilang aku bermimpi
Mengejar bayang yang tak berujung akhir
Meski raga ini jatuh dan terkapar
Namun tekad ini tetap takkan pudar
Karena kau... satu-satunya di hidupku
Kalau akhirnya takkan pernah bersatu
Masihkah ada harapan ku teruskan langkah ini?
Kalau akhirnya kau milik orang lain
Masihkah ada gunanya kujaga hati ini?
Bukan aku tak cinta, bukan aku tak sayang
Tapi lelah ini terasa makin menyiksa
Namun satu hal yang harus kau ketahui
Cintaku ini takkan berubah sampai mati...
Masihkah ada harapan...
Untuk mencintaimu...
Hanan...
Makna di Balik Keraguan yang Menyayat Hati
Ada rasa yang paling berat dalam mencintai: yaitu saat kita berjuang habis-habisan, namun kita tidak tahu apakah perjuangan itu akan berujung bahagia atau sia-sia. Di awal lirik saya tulis: "Sudah berbulan lamanya aku berjalan, mencari jejak yang entah ke mana arahnya". Ini menggambarkan betapa panjangnya waktu yang dilalui, betapa banyak tenaga yang terkuras, namun tujuan yang dicari masih samar, masih tertutup kabut ketidakpastian.
Baris ikonik menurut saya: "Namun di mana... di mana kau berada Hanan? Hanya angin yang menjawab keluh kesahku", menjadi puncak dari rasa kesepian itu. Saat kita memanggil, saat kita merindu, tak ada jawaban yang kembali. Hanya keheningan dan suara angin yang seolah mengejek atau sekadar lewat tanpa membawa kabar. Di sinilah benih keraguan mulai tumbuh.
Di bagian reff, pertanyaan besar saya lontarkan: "Kalau akhirnya takkan pernah bersatu, masihkah ada harapan ku teruskan langkah ini?". Ini adalah momen ketika logika mulai bertarung dengan perasaan. Logika berkata: "Berhentilah, percuma saja jika tak ditakdirkan". Namun hati berkata lain: "Tetaplah bertahan, karena kau mencintainya bukan karena hasil akhirnya, tapi karena dia memang orang yang kau cintai".
Kalimat "Bukan aku tak cinta, bukan aku tak sayang, tapi lelah ini terasa makin menyiksa" adalah pengakuan yang sangat jujur. Sering kali orang salah mengira bahwa rasa lelah berarti berkurangnya rasa cinta. Padahal tidak. Rasa lelah itu muncul justru karena rasa cinta itu terlalu besar, sehingga berat untuk dipikul sendirian dalam waktu yang lama.
Ketika Tekad Lebih Kuat dari Keraguan
Meskipun laguku ini penuh dengan pertanyaan dan keraguan, ada satu hal yang tak tergoyahkan sampai akhir. Di bagian jembatan lagu tertulis:
"Biarlah orang bilang aku bermimpi
Mengejar bayang yang tak berujung akhir
Meski raga ini jatuh dan terkapar
Namun tekad ini tetap takkan pudar
Karena kau... satu-satunya di hidupku"
Di sini terlihat jelas inti dari cinta sejati. Cinta sejati itu pilihan hati. Ia tetap bertahan meski akal sehat berkata mustahil. Ia tetap setia meski orang lain menganggapnya gila atau bermimpi. Karena bagi pencinta sejati, orang yang dicintai bukanlah sekadar pilihan, melainkan satu-satunya tujuan hidup.
Dan di akhir lagu saya, meski pertanyaan "Masihkah ada harapan?" kembali terucap, ada jawaban diam yang tersirat dalam kalimat penutup: "Untuk mencintaimu... Hanan...". Jawabannya adalah: Selama aku masih mencintaimu, harapan itu akan selalu ada. Harapan bukan hanya soal bersatu kembali, tapi harapan untuk terus bisa mencintai, terus bisa berjuang, dan terus bisa setia sampai napas terakhir.
Pesan untuk Hati yang Sedang Berjuang
Lagu "Masihkah Ada Harapan" ini saya persembahkan untuk siapa saja yang sedang berada di persimpangan jalan cinta. Bagi kalian yang sudah berjuang lama, yang sudah menunggu bertahun-tahun, atau yang sudah berkorban banyak namun hasilnya belum terlihat.
Wajar jika kalian lelah. Wajar jika kalian bertanya-tanya. Wajar jika kalian ragu. Itu manusiawi. Tapi ingatlah satu hal: Cinta yang hebat adalah cinta yang mampu bertahan melewati masa-masa sulit. Cinta yang indah adalah cinta yang tetap ada meski raga ini lelah terkapar.
Jadi, masihkah ada harapan?
Jawabannya ada di hatimu sendiri. Selama cintamu belum mati, selama namanya masih ada di doamu, maka harapan itu takkan pernah hilang. Tetaplah melangkah, tetaplah mencinta, dan biarkan waktu yang menjawab segalanya.
Masihkah ada harapan? Selama aku bernapas, masih ada.