Surat Undangan Sunyi Sepi Sendiri: Ketika Musik Menjadi Ruang Berdamai
Oleh: Widodo, S.Pd.
Saya membaca sebuah artikel pilihan di Kompasiana dengan tema "Diundang Kawinan Mantan, Datang atau Tidak?". Tema itu sederhana, namun menghantam pelan-pelan ke ruang ingatan yang lama saya kunci. Ada perasaan yang pernah saya kenal: ditinggalkan cinta pertama, bukan karena kurang rasa, melainkan karena waktu dan keadaan yang tak berpihak.
Ia tidak mau menunggu.
Ia memilih menikah dengan pria lain yang telah lebih dahulu mapan---seorang pelaut, dengan pekerjaan tetap dan harta yang cukup.
Saya? Masih di tahap menata hidup, menunggu giliran.
Dari sanalah ingatan itu bergerak. Tidak ribut. Tidak meledak. Ia datang sunyi---seperti lagu lama yang diputar pelan di sore hari.
Lagu Lama, Luka yang Tetap Relevan
Lagu "Surat Undangan" dengan potongan lirik ikonik "...sunyi sepi sendiri..." merupakan karya cipta Jules Fioole. Lagu lawas Indonesia ini pernah dipopulerkan oleh sejumlah penyanyi besar seperti Rafika Duri, Yuni Shara, dan Titiek Sandhora. Meski telah puluhan tahun berlalu, isinya tetap relevan: tentang seseorang yang menerima undangan pernikahan dari orang yang pernah menjadi pusat hidupnya.
Lagu ini bukan tentang cemburu yang meledak-ledak.
Ia tentang keheningan.
Tentang menerima kabar bahagia orang lain, sambil menata sisa rasa di dalam diri.
Video Instrumen sebagai Bahasa Perasaan
Berangkat dari perasaan itu, saya membuat sebuah video pendek berupa instrumen musik dengan judul "Surat Undangan Sunyi Sepi Sendiri". Tidak ada vokal. Tidak ada kata-kata. Hanya nada yang berjalan pelan, memberi ruang bagi pendengar untuk menafsirkan sendiri.
Video ini mungkin tidak seberapa menarik secara visual. Tidak penuh efek. Tidak dibuat untuk viral. Namun bagi saya, video ini bermakna mendalam. Ia menjadi teman sunyi, pengusir kesepian---baik pada masa lalu maupun hari ini.
Instrumen ini saya anggap sebagai surat balasan yang tak pernah dikirim.
Balasan kepada undangan.
Balasan kepada kenangan.
Balasan kepada diri sendiri.
Musik sebagai Cara Berdamai
Saya percaya, tidak semua kesedihan perlu diceritakan dengan kata. Ada perasaan yang justru lebih jujur ketika dilepaskan lewat nada. Musik, dalam bentuk paling sunyi sekalipun, mampu menjadi ruang aman untuk berdamai.
Melalui video ini, saya belajar satu hal:
kesepian tidak selalu harus diusir, kadang cukup ditemani.
Dan mungkin, di titik tertentu, sunyi sepi sendiri bukan lagi luka---melainkan fase untuk memahami diri dengan lebih utuh.