Widodo Antonius
Widodo Antonius Guru

Hobi membaca menulis dan bermain musik

Selanjutnya

Tutup

Video

Merilis Luka Lewat Petikan Dawai

24 Februari 2026   22:15 Diperbarui: 24 Februari 2026   22:15 175 15 3


Merilis Luka Lewat Petikan Dawai

Refleksi Video Instrumen "Seperti Rusa Rindu Sungai-Mu"


Oleh: Widodo, S.Pd.

Kehilangan dan ditinggalkan itu sakit. Kalimat ini sederhana, tetapi daya hantamnya luar biasa. Kita bisa kehilangan orang yang kita cintai karena kematian, jarak, perbedaan, bahkan karena perubahan hati. Rasa sakitnya kadang tak bersuara, namun menggema di relung jiwa.

Berangkat dari perenungan itulah saya membuat video instrumen lagu "Seperti Rusa Rindu Sungai-Mu", judul asli As the Deer. Lagu rohani ini diciptakan oleh Martyn J. Nystrom pada tahun 1981, terinspirasi dari Mazmur 42:2: "Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah." Lagu ini telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan dinyanyikan ulang oleh banyak penyanyi rohani, termasuk versi Johan Lumoindong yang dapat ditemukan di Spotify.

Mengapa Lagu Ini?

Ketika saya memilih topik refleksi "Kehilangan dan Ditinggalkan itu Sakit, Bagaimana Merilisnya?", lagu ini terasa begitu pas. Kehilangan sering membuat manusia merasa kosong. Namun kekosongan itu sebenarnya ruang. Ruang yang menunggu diisi kembali oleh sesuatu yang lebih dalam dan lebih kekal.

Saya memilih aransemen gitar klasik sebagai pengiring instrumen. Petikan gitar klasik memiliki karakter lembut namun tegas. Ada nada yang terdengar sendu, ada pula yang menguatkan. Seperti hidup---tidak selalu riuh, tetapi sarat makna.

Tanpa lirik yang dinyanyikan, melodi justru memberi ruang lebih luas bagi pendengar untuk merenung. Setiap orang dapat menaruh kisahnya sendiri di antara nada-nada itu.

Rindu Sebagai Kata Kunci

"Seperti rusa rindu sungai-Mu, jiwaku rindu Engkau..."

Rindu adalah inti dari lagu ini. Rindu bukan sekadar perasaan ingin bertemu. Rindu adalah kesadaran akan kebutuhan terdalam. Seekor rusa yang kehausan mencari sungai bukan karena pilihan, tetapi karena kebutuhan hidup.

Begitu pula manusia. Ketika kita kehilangan seseorang, sering kali kita merasa separuh diri ikut pergi. Namun melalui perenungan, kita disadarkan: jangan sampai kita kehilangan arah, apalagi merasa ditinggalkan oleh Tuhan.

Manusia bisa pergi. Waktu bisa merenggut. Tetapi Tuhan tidak berubah.

Bagaimana Merilis Luka?

Merilis bukan berarti melupakan. Merilis adalah mengizinkan hati berdamai.

Ada beberapa cara sederhana yang saya renungkan melalui proses pembuatan video ini:

  1. Mengakui rasa sakit -- Jangan menyangkal luka. Tangisan bukan kelemahan.
  2. Mencari ruang hening -- Musik instrumental menjadi salah satu jalannya.
  3. Mengalihkan rindu pada Yang Kekal -- Jika rindu hanya diarahkan pada yang fana, kita mudah hancur.
  4. Berserah -- "Engkau kekuatan dan perisaiku, kepada-Mu rohku berserah."

Petikan gitar klasik dalam video ini saya harapkan menjadi ruang sunyi bagi siapa pun yang sedang belajar melepaskan.

Jangan Sampai Ditinggalkan oleh Tuhan

Kita tidak bisa menahan orang untuk tetap tinggal dalam hidup kita. Tetapi kita bisa menjaga relasi kita dengan Tuhan. Lagu ini mengingatkan bahwa hasrat hati terdalam bukanlah sekadar memiliki seseorang, melainkan menyembah dan berserah.

"Kaulah Tuhan hasrat hatiku, kurindu menyembah-Mu..."

Pada akhirnya, kehilangan dapat menjadi pintu pendewasaan iman. Rindu yang diarahkan kepada Tuhan tidak akan pernah sia-sia.

Semoga video instrumen ini bukan sekadar sajian musik, melainkan teman perjalanan bagi jiwa-jiwa yang sedang belajar merilis luka, menata rindu, dan kembali menemukan kekuatan.

Semoga bermanfaat.

 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3