Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Lidah Kecil, Penentu Nasib Besar. Inilah kisah Omjay dalam Inspirasi sore hari Rabu, 25 Maret 2026. Omjay dapat inspirasi menulisnya setelah bertemu dengan pak Edmu dan istrinya dari Kalteng yang sedang berkunjung ke rumah Omjay di Bandung beberapa waktu lalu.

Di antara sekian banyak nikmat yang Allah berikan kepada manusia, ada satu yang sering kita anggap sepele, padahal dampaknya luar biasa besar yaitu lidah.
Penyanyi Rhoma irama sudah mengingatkan lewat syair lagunya tentang lidah. Yuk kita simak sejenak lagunya!
https://youtu.be/i_mGtSZwv7U?si=k26AYXRXXVzktpnA
Lidah memang kecil, tersembunyi, tidak bertulang, namun kekuatannya mampu mengangkat derajat manusia setinggi langit di awan atau justru menjatuhkannya ke tempat yang paling hina.
Lidah tidak memiliki otot yang kuat seperti tangan, tidak pula sekeras kaki yang mampu melangkah jauh.
Tetapi dari lidah lah keluar kata-kata yang mampu melukai hati, merusak persaudaraan, bahkan menghancurkan kehidupan seseorang.
Sebaliknya, dari lidah pula lahir dzikir, doa, nasihat, dan kalimat-kalimat kebaikan yang menjadi jalan menuju ridha Allah.
Allah telah mengingatkan kita dalam Al-Qur'an:
"Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati? Tentu kalian merasa jijik. Maka bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hujurat: 12)
Perumpamaan ini begitu kuat dan menggugah. Menggunjing atau ghibah diibaratkan seperti memakan bangkai saudara sendiri.
Ini sesuatu yang menjijikkan, menjauhkan nurani, dan merusak hati. Namun ironisnya, banyak dari kita melakukannya tanpa rasa bersalah. Bahkan terkadang dianggap sebagai hal biasa dalam obrolan sehari-hari.
Padahal, setiap kata yang keluar dari lidah tidak pernah luput dari catatan malaikat. Tidak ada yang sia-sia. Semuanya akan dipertanggungjawabkan.
Lidah dan Ujian Kehidupan
Dalam kehidupan sehari-hari, lidah sering menjadi sumber ujian. Saat emosi memuncak, lidah ingin melampiaskan kemarahan. Saat iri menyelimuti hati, lidah tergoda untuk mencela. Saat berkumpul dengan teman, lidah mudah tergelincir dalam ghibah dan fitnah.
Di sinilah letak perjuangan sejati. Bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi menahan ucapan. Bukan hanya menjaga perbuatan, tetapi juga menjaga perkataan.
Betapa banyak hubungan retak karena satu kalimat. Betapa banyak hati terluka karena satu ucapan. Dan betapa banyak penyesalan datang karena lidah yang tidak terjaga.
Namun sebaliknya, satu kata yang baik bisa menjadi penyelamat. Satu nasihat bisa mengubah hidup seseorang. Satu dzikir bisa menenangkan jiwa.
Lidah yang Menghidupkan Hati
Lidah yang digunakan untuk berdzikir akan membawa ketenangan. Mengucap Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar bukan sekadar rutinitas, tetapi energi yang menghidupkan hati yang kering.
Lidah yang membaca Al-Qur'an akan menjadi cahaya. Lidah yang mengucap doa akan membuka pintu langit. Lidah yang memberi semangat akan menguatkan orang lain.
Bayangkan jika setiap pagi kita memulai hari dengan kata-kata baik. Menyapa dengan senyum, mendoakan orang lain, dan menghindari ucapan yang menyakitkan. Dunia ini akan terasa jauh lebih damai.
Belajar Menjaga Lidah
Menjaga lidah bukan perkara mudah, tetapi bukan pula mustahil. Ada beberapa langkah sederhana yang bisa kita lakukan:
Berpikir sebelum berbicara
Tanyakan pada diri sendiri: apakah ini benar? apakah ini bermanfaat? apakah ini menyakitkan?
Perbanyak diam
Rasulullah mengajarkan bahwa diam adalah keselamatan. Tidak semua hal harus diucapkan.
Isi waktu dengan dzikir
Lidah yang sibuk berdzikir akan sulit digunakan untuk hal yang sia-sia.
Ingat akhirat
Setiap kata akan dimintai pertanggungjawaban. Kesadaran ini akan membuat kita lebih berhati-hati.
Penutup: Pilihan di Ujung Lidah
Pada akhirnya, lidah adalah pilihan. Ia bisa menjadi jalan menuju surga atau justru menyeret ke neraka. Semua tergantung bagaimana kita menggunakannya.
Hari ini, mari kita mulai dengan niat sederhana: menjaga ucapan, menghindari ghibah, dan memperbanyak dzikir. Karena bisa jadi, keselamatan kita di akhirat kelak bukan ditentukan oleh seberapa besar amal kita, tetapi oleh seberapa baik kita menjaga lidah.
Tetap semangat memperbaiki diri.
Semoga setiap kata yang keluar dari lisan kita menjadi pahala, bukan dosa.
Barakallahu fiikum. Semoga kisah Omjay sore ini bermanfaat buat pembaca Kompasiana.
Salam blogger persahabatan
Omjay/Kakek Jay
Guru blogger Indonesia
