Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

UKT Tinggi, PNS Menjerit: Ketika Pengabdian Berhadapan dengan Realitas Pendidikan Anak. Inilah kisah Omjay kali ini di kompasiana. Semoga bermanfaat buat pembaca kompasiana dan dibaca oleh para penentu kebijakan negeri ini. Omjay mendapatkan informasinya ketika pulang sekolah naik angkot. Omjay sempat nguping tentang Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang semakin tinggi.
https://youtu.be/SW6Y6Wc3b30?si=hi08ghHdywgyn_d5
Di tengah narasi besar tentang pembangunan sumber daya manusia unggul, ada suara lirih yang kerap luput dari perhatian: suara para aparatur sipil negara (ASN), khususnya PNS, yang tengah berjuang membiayai pendidikan anak-anak mereka.
Mereka bukan kelompok yang tampak di garis depan demonstrasi, bukan pula mereka yang lantang bersuara di media. Namun, kegelisahan mereka nyata, perlahan mengendap, dan kini mulai mencari jalan untuk disampaikan.
Setiap hari, para PNS menjalankan tugas negara dengan penuh tanggung jawab. Mereka memastikan roda administrasi pemerintahan berjalan, kebijakan diterjemahkan menjadi program nyata, dan pelayanan publik tetap hadir untuk masyarakat.
Dari guru di pelosok hingga pegawai administrasi di kantor pemerintahan, mereka semua mengabdikan diri dengan satu kesadaran: bahwa pekerjaan mereka adalah bagian dari pengabdian kepada bangsa.
Namun di balik dedikasi itu, ada realitas yang tidak mudah: biaya pendidikan tinggi yang terus meningkat, khususnya Uang Kuliah Tunggal (UKT). Banyak dari mereka adalah anak seorang PNS yang gajinya tidak besar.
Bagi sebagian masyarakat, UKT mungkin hanya angka yang tercantum dalam lembar tagihan. Tetapi bagi banyak PNS, angka itu adalah beban yang harus diperjuangkan dengan pengorbanan nyata.
Gaji PNS, terutama pada golongan bawah hingga menengah, cenderung stagnan. Kenaikan yang terjadi tidak selalu sebanding dengan laju inflasi dan peningkatan kebutuhan hidup.
Di sisi lain, biaya pendidikan tinggi justru menunjukkan tren yang sebaliknya. Biaya terus meningkat dari tahun ke tahun. Ketimpangan inilah yang kemudian melahirkan dilema: antara mempertahankan kualitas hidup keluarga atau memastikan anak mendapatkan pendidikan terbaik.
Tidak sedikit PNS yang akhirnya harus mengambil langkah-langkah sulit. Ada yang menunda renovasi rumah yang sudah lama rusak, ada yang mengurangi kebutuhan pokok sehari-hari, bahkan ada yang mengorbankan kesehatan karena keterbatasan biaya.
Semua itu dilakukan demi satu tujuan: agar anak-anak mereka tetap bisa kuliah. Mereka ingin semua anaknya kelak menjadi sarjana dan berpendidikan tinggi sehingga menjadi kebanggan keluarga.
Ironisnya, sebagai bagian dari sistem negara, para PNS justru menghadapi kesulitan untuk mengakses pendidikan tinggi yang layak bagi anak mereka sendiri. Padahal, mereka adalah orang-orang yang setiap hari membantu menjalankan kebijakan negara, termasuk kebijakan di bidang pendidikan.
Pertanyaan mendasar pun muncul: di mana letak keadilan itu? Bukankah pendidikan adalah hak setiap warga negara? Bukankah negara seharusnya hadir untuk memastikan bahwa setiap anak bangsa, tanpa terkecuali, memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan melalui pendidikan?
Permasalahan ini bukan sekadar soal angka UKT yang tinggi. Ini adalah persoalan kebijakan yang belum sepenuhnya berpihak pada realitas lapangan. Sistem penentuan UKT yang ada seringkali belum mencerminkan kondisi riil penghasilan keluarga, termasuk keluarga PNS.
Dalam banyak kasus, status sebagai ASN justru dianggap sebagai indikator kemampuan ekonomi yang lebih tinggi, tanpa mempertimbangkan beban nyata yang mereka tanggung.
Padahal, tidak semua PNS hidup dalam kondisi mapan. Banyak di antara mereka yang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar, apalagi jika harus menanggung biaya pendidikan tinggi yang tidak sedikit. Di sinilah pentingnya evaluasi kebijakan yang lebih sensitif dan kontekstual.
Ada beberapa langkah yang layak dipertimbangkan oleh pemerintah.
Pertama, evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme penetapan UKT agar benar-benar berbasis pada kondisi ekonomi riil, bukan sekadar status pekerjaan.
Kedua, penyediaan skema keringanan atau subsidi khusus bagi anak-anak PNS yang membutuhkan.
Ketiga, sinkronisasi antara kebijakan pendidikan dan kebijakan kesejahteraan aparatur negara, sehingga tidak terjadi ketimpangan yang justru merugikan mereka yang berada di dalam sistem itu sendiri.
Lebih dari sekadar solusi teknis, yang dibutuhkan adalah keberpihakan. Keberpihakan pada mereka yang selama ini telah menunjukkan loyalitas dan dedikasi dalam menjalankan tugas negara.
Keberpihakan pada keluarga-keluarga yang berjuang dalam diam, tanpa banyak keluhan, tetapi menyimpan harapan besar akan masa depan anak-anak mereka.
Kekhawatiran terbesar para PNS bukan hanya soal beban ekonomi, tetapi juga dampaknya terhadap semangat pengabdian.
Ketika tekanan hidup semakin berat, bukan tidak mungkin motivasi kerja ikut tergerus. Dan jika itu terjadi, maka pelayanan publik yang menjadi ujung tombak pemerintahan juga bisa terdampak.
Namun di balik semua itu, masih ada harapan. Para PNS percaya bahwa negara tidak akan menutup mata terhadap suara yang datang dari dalam tubuhnya sendiri.
Mereka percaya bahwa kebijakan yang adil dan manusiawi masih bisa diwujudkan. Mereka percaya bahwa pemerintah akan mendengar, memahami, dan mengambil langkah yang tepat.
Tulisan kisah Omjay ini bukan sekadar keluhan. Ini adalah refleksi, sekaligus pengingat bahwa di balik setiap kebijakan, ada manusia-manusia yang merasakannya secara langsung.
Ada keluarga yang berjuang, ada anak-anak yang menggantungkan masa depan, dan ada orang tua yang berusaha sekuat tenaga untuk tidak menyerah.
Sudah saatnya kita melihat persoalan ini dengan lebih jernih dan empatik. Pendidikan bukanlah beban, melainkan investasi. Dan investasi itu seharusnya bisa diakses oleh semua, termasuk oleh mereka yang setiap hari mengabdi untuk negara.
Semoga suara ini sampai kepada hati yang tepat. Dan semoga, dari suara yang sederhana ini, lahir kebijakan yang lebih adil, lebih manusiawi, dan lebih berpihak pada masa depan bangsa.
Salam blogger persahabatan
Omjay/Kakek Jay
Guru blogger Indonesia
