Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Judul kisah Omjay kali ini tentang: Naik KRL Bareng Omjay. Melihat Indonesia Maju dari Gerbong Kereta. Semoga bermanfaat buat pembaca kompasiana tercinta.
https://youtu.be/LOnXh_JcmMI?si=Ogt64VxVJHjGV7or
Pagi itu, Stasiun Klender Baru Jakarta Timur masih riuh seperti biasa. Gelombang manusia datang silih berganti, seolah tak pernah berhenti.
Di antara ribuan penumpang yang berdesakan, tampak sosok bersahaja dengan ransel hitam dan topi khasnya: Dr. Wijaya Kusumah, atau yang akrab disapa Omjay.
Guru blogger Indonesia ini melangkah tenang, menyapa petugas, lalu mengetap kartu masuk elektronik. Senyumnya merekah. "KRL sekarang semakin bagus pelayanannya," ujarnya ringan.

Dari gerbong kereta inilah, Omjay melihat wajah Indonesia modern yang terus bergerak, berbenah, dan perlahan maju.
1. Kenangan KRL Zaman Dulu: Sumpek, Panas, dan Penuh Perjuangan
Bagi Omjay, KRL bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah saksi perjalanan hidup. Sejak awal tahun 2000-an, Omjay sudah akrab dengan kerasnya naik kereta rel listrik. Saat itu, KRL sering disebut sebagai "kereta perjuangan."
Gerbong penuh sesak. Penumpang berdiri berhimpitan, bahkan hingga ke pintu. Tidak jarang, orang bergelantungan di sisi luar. AC? Jangan ditanya. Banyak gerbong tanpa pendingin, membuat suasana panas dan pengap. Pedagang asongan keluar-masuk, pengamen bernyanyi tanpa jeda, dan aroma keringat bercampur menjadi satu.

"Kalau bisa duduk, rasanya seperti menang undian," kenang Omjay sambil tersenyum. "Kadang harus berdiri dari Tanah Abang sampai Bogor. Tapi tetap dijalani, karena ada murid yang menunggu."
Saat itu, pilihan transportasi terbatas. Belum ada ojek online, belum ada aplikasi navigasi canggih. KRL adalah satu-satunya harapan agar bisa sampai tepat waktu ke sekolah. Dalam kondisi seperti itu, Omjay justru menemukan inspirasi. Ia menulis pengalaman, refleksi, dan ide-ide pendidikan dari balik gerbong yang penuh sesak.
"Justru dari himpitan itu, saya belajar sabar dan banyak menulis," ujarnya.
2. Transformasi KRL: Dari "Kereta Maut" Menjadi "Kereta Harapan"
Waktu berjalan. Perubahan pun datang. Sejak dikelola oleh KAI Commuter, wajah KRL berubah drastis. Omjay menjadi saksi hidup transformasi tersebut.
Kini, stasiun-stasiun jauh lebih manusiawi. Lantai bersih, tersedia eskalator dan lift, toilet gratis, musala nyaman, hingga ruang laktasi. Petugas berseragam rapi dan sigap membantu penumpang. Antrean masuk dan keluar pun tertib.
Di dalam gerbong, perubahan terasa lebih nyata. AC dingin merata, kursi tertata rapi, dan pengumuman stasiun sudah digital. Tidak ada lagi pedagang asongan atau pengamen. Penumpang bisa membaca buku, bekerja dengan laptop, atau sekadar menikmati perjalanan.
"Sekarang naik KRL itu nyaman. Bisa nulis, bisa baca, bahkan bisa diskusi ringan," kata Omjay.
Keamanan juga meningkat. CCTV terpasang di berbagai sudut, petugas keamanan rutin berpatroli. Sistem pembayaran sudah cashless, menggunakan kartu elektronik maupun aplikasi. Jadwal kereta bisa dipantau secara real-time dari ponsel.
Namun, bagi Omjay, perubahan terbesar bukan hanya fasilitas, melainkan budaya.
Penumpang kini lebih tertib: antre sebelum masuk, mendahulukan yang keluar, dan memberikan kursi kepada lansia, ibu hamil, serta penyandang disabilitas.
"Ini luar biasa," kata Omjay. "Kalau sistemnya baik, manusianya ikut jadi baik."
3. KRL sebagai Ruang Belajar dan Berkarya
Bagi sebagian orang, KRL hanyalah alat menuju tempat kerja. Tapi bagi Omjay, KRL adalah ruang belajar berjalan.
Pagi itu, ia membuka laptop kecilnya. Di tengah perjalanan, ia mulai menulis artikel. Ide-ide mengalir begitu saja, seiring suara roda kereta yang berirama. Sesekali ia melihat keluar jendela, menyaksikan kota yang perlahan hidup.
Di sampingnya, seorang mahasiswa membaca buku tebal. Di depan, dua ibu berbincang hangat tentang keluarga. Di sudut lain, seorang karyawan fokus pada layar ponselnya.
"Lihat, ini miniatur Indonesia," bisik Omjay. "Semua ada di sini lengkap seperti guru, pelajar, pekerja, ibu rumah tangga. Semua bergerak bersama."
Omjay percaya, transportasi publik yang baik adalah fondasi kemajuan bangsa. Ketika masyarakat bisa bepergian dengan nyaman, aman, dan tepat waktu, produktivitas meningkat.
"Guru yang tidak kelelahan di jalan akan mengajar lebih baik. Murid pun mendapat energi positifnya," jelasnya.
Ia bahkan sering membalas pesan dari komunitas guru saat di KRL. Banyak yang mengeluh soal macet. Dengan santai, Omjay memberi solusi sederhana:
"Coba naik KRL. Murah, cepat, dan bisa sambil berkarya."
4. Pesan Omjay: Murah, Cepat, dan Pelayanan Prima
Di tengah refleksinya, Omjay menegaskan satu hal penting. Naik KRL bukan hanya soal berpindah tempat, tapi juga soal pilihan cerdas.
"Naik KRL itu enak," katanya tegas. "Harganya murah, waktunya jelas, dan pelayanannya sekarang sudah sangat prima."
Ia membandingkan dengan perjalanan menggunakan kendaraan pribadi yang sering terjebak macet berjam-jam. Dengan KRL, waktu tempuh lebih pasti. Tidak perlu stres menghadapi kemacetan atau biaya bahan bakar yang terus naik.
"Kita bisa sampai tujuan lebih cepat, lebih hemat, dan lebih tenang," lanjutnya.
Menurut Omjay, pelayanan dari KAI Commuter patut diapresiasi. Perbaikan yang dilakukan bukan sekadar kosmetik, tetapi menyentuh kebutuhan dasar penumpang.
"Ini bukti bahwa pelayanan publik di Indonesia bisa maju. Tinggal kita jaga bersama."
5. PR Bersama: Menjaga yang Sudah Baik
Meski banyak kemajuan, Omjay tidak menutup mata bahwa masih ada tantangan. Jam sibuk tetap padat. Masih ada penumpang yang kurang disiplin.
Namun ia tidak ingin hanya mengkritik. Omjay mengajak semua pihak untuk ikut menjaga.
"KRL ini milik kita bersama. Jangan rusak dengan sikap tidak peduli," pesannya.
Omjay mengingatkan hal-hal sederhana: tidak membuang sampah sembarangan, tidak dorong-dorongan, dan saling menghormati.
"Kalau kita ingin Indonesia maju, mulailah dari kebiasaan kecil di tempat umum seperti KRL."
Penutup: Bangga Naik KRL
Kereta akhirnya tiba di Stasiun Bogor. Omjay turun dengan langkah ringan. Di pundaknya, ransel penuh buku. Di hatinya, penuh rasa syukur.
"Dulu naik KRL karena terpaksa," katanya. "Sekarang naik KRL karena bangga."
Perjalanan hari itu bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan batin. Dari gerbong kereta, Omjay melihat harapan. Bahwa Indonesia bisa berubah, jika ada kemauan dan kerja nyata.
KRL hari ini bukan lagi sekadar transportasi. Ia adalah simbol kemajuan, cermin peradaban, dan ruang belajar tanpa batas.
Dan dari sana, Omjay mengajarkan kita satu hal sederhana namun bermakna:
Indonesia maju dimulai dari pelayanan publik yang baik, dan masyarakat yang mau menjaganya bersama.
Salam blogger persahabatan
Omjay/Kakek Jay
Guru Blogger Indonesia
