Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Jejak Pengabdian Ayah Didi Bertemu Presiden Prabowo Subianto

29 April 2026   05:31 Diperbarui: 29 April 2026   09:57 500 4 4

Ayah Didi dkk bertemu presiden Prabowo Subianto/dokpri
Ayah Didi dkk bertemu presiden Prabowo Subianto/dokpri

Jejak Pengabdian Ayah Didi: Ketika Seragam Batik PGRI Menjadi Simbol Kehormatan Guru Indonesia. Inilah kisah Omjay di kompasiana tercinta. Semoga bermanfaat buat pembaca. Ayah Didi bercerita diundang diskusi siang kemarin bersama presiden Prabowo Subianto di istana negara. Siapa ayah Didi? Silahkan dibaca artikel di bawah ini!

Ketika Ayah Didi Belajar Menulis Kepada Murid nya Halaman all - Kompasiana.com

Foto bareng presiden prabowo/dokpri
Foto bareng presiden prabowo/dokpri

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan bangsa yang terus bergerak maju, ada sosok-sosok sederhana yang sejatinya menjadi fondasi utama peradaban. Mereka tidak selalu tampil di layar kaca, tidak selalu disebut dalam pidato-pidato besar, namun jasanya terpatri kuat dalam setiap keberhasilan anak bangsa. Mari kita simak video ayah Didi di bawah ini!

https://youtu.be/sck1JNEsRp0?si=-1QTt8Elu1e0R923

Salah satu sosok itu adalah Ayah Didi atau engkong Didi seorang guru yang dengan bangga mengenakan seragam batik PGRI sebagai simbol pengabdian dan kehormatan profesinya. Mereka yang mengenal ayah Didi pasti akan dibuatkagum dengan perjuangannya.

Ayah Didi bersama Presiden Prabowo/dokpri
Ayah Didi bersama Presiden Prabowo/dokpri

Dalam foto yang beredar, terlihat Ayah Didi berdiri sejajar dengan tokoh nasional, termasuk presiden Prabowo Subianto. Namun yang menarik bukan hanya siapa yang berdiri di sampingnya, melainkan bagaimana Ayah Didi tetap tampil sederhana dengan balutan batik PGRI. Hal inilah yang membuat Omjay bangga pada ayah Didi.

Sebuah pilihan yang sarat makna bahwa identitas sebagai guru tidak pernah beliau lepaskan, bahkan di hadapan kekuasaan sekalipun. Inilah hebatnya ayah Didi yang kami kenal di PGRI. Beliau matang berorganisasi dan aktif di PGRI.

Batik PGRI bukan sekadar pakaian. Ia adalah simbol perjuangan panjang para guru di Indonesia. Setiap motifnya menyimpan cerita tentang dedikasi, pengorbanan, dan cinta tanpa batas terhadap dunia pendidikan. 

Ketika Ayah Didi mengenakan batik tersebut, beliau seakan membawa suara jutaan guru di seluruh penjuru negeri. Mulai dari kota hingga pelosok desa, dari ruang kelas sederhana hingga sekolah modern.

Ayah Didi adalah representasi dari guru sejati. Ia mungkin tidak memiliki gelar panjang atau jabatan tinggi, namun ketulusan dalam mendidik menjadi nilai yang tak tergantikan. Dalam setiap langkahnya, ia mengajarkan bahwa menjadi guru bukan hanya soal mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk karakter, menanamkan nilai, dan menyalakan harapan.

Momen pertemuannya dengan tokoh nasional menjadi bukti bahwa suara guru mulai didengar. Kehadiran Ayah Didi dalam forum penting tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan simbol bahwa guru memiliki posisi strategis dalam pembangunan bangsa. Pendidikan adalah kunci, dan guru adalah penjaganya.

Namun di balik kebanggaan itu, ada realitas yang tidak selalu mudah. Banyak guru di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Hal itu mulai dari kesejahteraan yang belum merata, fasilitas yang terbatas, hingga tuntutan zaman yang terus berubah. Di sinilah sosok seperti Ayah Didi menjadi penting. Ia tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga menjadi inspirasi bagi sesama guru untuk tetap teguh dalam pengabdian.

Seragam batik PGRI yang dikenakan Ayah Didi menjadi pengingat bahwa profesi guru adalah profesi mulia. Ia bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan jiwa. Dalam setiap helai kainnya, tersimpan semangat untuk terus belajar, berinovasi, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Kita sering kali lupa bahwa di balik setiap tokoh besar, ada guru yang pernah membimbingnya. Di balik setiap keberhasilan, ada doa dan usaha dari seorang pendidik. Ayah Didi adalah salah satu dari mereka yang mungkin tidak dikenal luas, namun dampaknya terasa dalam kehidupan banyak orang.

Melihat Ayah Didi berdiri tegak dengan batik PGRI di hadapan tokoh nasional, kita diingatkan bahwa guru tidak boleh dipandang sebelah mata. Mereka adalah pilar utama dalam mencetak generasi masa depan. Sudah seharusnya mereka mendapatkan penghargaan yang layak baik secara moral maupun material.

Artikel kisah Omjay ini bukan hanya tentang Ayah Didi, tetapi tentang semua guru di Indonesia. Tentang mereka yang setiap hari datang ke sekolah dengan semangat, meski kadang lelah. 

Tentang mereka yang tetap tersenyum, meski menghadapi berbagai keterbatasan. Dan tentang mereka yang terus percaya bahwa pendidikan adalah jalan menuju perubahan.

Mari kita belajar dari Ayah Didi yang bijaksana. Bahwa menjadi guru adalah kehormatan. Bahwa mengenakan batik PGRI bukan sekadar seragam, tetapi identitas. Dan bahwa dalam kesederhanaan, terdapat kekuatan yang luar biasa.

Semoga kisah Omjay ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya. Dan bahwa di balik setiap batik PGRI yang dikenakan, ada hati yang tulus mengabdi untuk negeri.

Tak terasa diskusi dengan presiden Prabowo berjalan 1,5 jam. Diskusi berjalan dari masalah MBG, sekolah rakyat, pendidikan gratis hingga PPPK paruh waktu sampai undangan HUT ke 81 PGRI.

Demikianlah kisah omjay tentang Jejak Pengabdian Ayah Didi bertemu presiden Prabowo Subianto di istana negara Jakarta. Semoga bermanfaat buat pembaca.

Inspirasi Pagi: Rabu, 29 April 2026 dari pak Umedi

Berbicara itu Gratis. Tapi kalau salah berbicara kita akan membayar dengan Mahal.
Satu kalimat yang menyakitkan akan membuatmu kehilangan kawan.

"Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan." (HR. Bukhari).

QS. Qaf: 18 → "Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir". Semua ketikan & omongan ada laporannya.

Tetap Semangat.
--------------------
Barakallah fiikum

Salam blogger persahabatan

Omjay/Kakek Jay

Guru blogger indonesia

Blog https://wijayalabs.com

Omjay guru blogger indonesia/dokpri
Omjay guru blogger indonesia/dokpri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3