Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Memang, secara teori, rel elektrifikasi memiliki gangguan elektromagnetik yang tinggi. Bahkan, dalam berbagai kajian ilmiah, lingkungan rel disebut tidak "netral" bagi sistem elektronik.
Namun, sebagai pendidik, saya belajar untuk membedakan antara kemungkinan dan fakta. Hingga saat ini, belum ada bukti ilmiah yang benar-benar memastikan bahwa medan elektromagnetik dari rel dapat mematikan kendaraan listrik.
Hal Ini penting. Jangan sampai kita terjebak pada asumsi, lalu melupakan akar masalah yang sebenarnya.
Saya teringat ketika mengajar di kelas tentang berpikir kritis. Saya selalu mengatakan kepada siswa: "Jangan hanya melihat yang tampak. Gali lebih dalam." Dan dalam kasus ini, semakin saya renungkan, semakin jelas bahwa persoalannya jauh lebih kompleks.
Ada kemungkinan gangguan pada baterai 12 volt---komponen kecil tapi vital dalam kendaraan listrik. Ada juga kemungkinan sistem keselamatan kendaraan justru "terlalu cerdas", seperti fitur pengereman otomatis yang salah membaca situasi. Bahkan, faktor manusia---kepanikan, kesalahan kecil---bisa menjadi pemicu yang berujung besar.
Dan di sinilah saya merasa tersentuh.
Karena tragedi ini bukan sekadar tentang teknologi. Ini tentang manusia. Tentang keputusan dalam sepersekian detik. Tentang sistem yang belum sempurna. Tentang kebijakan yang belum tuntas.
Data yang ada menunjukkan bahwa kecelakaan di pelintasan sebidang bukanlah hal baru. Bahkan sebelum kendaraan listrik hadir, insiden serupa sudah sering terjadi. Ratusan kejadian setiap tahun. Artinya, masalah ini sudah lama ada---hanya saja kini hadir dengan wajah baru.
Sebagai Omjay, saya melihat ini sebagai pelajaran besar bagi kita semua.
Bagi pengemudi, ini adalah pengingat bahwa rel kereta bukan tempat untuk ragu. Sekali melintas, pastikan aman. Tidak ada ruang untuk berhenti, apalagi panik.
Bagi produsen kendaraan, ini adalah alarm keras bahwa teknologi harus diuji dalam kondisi paling ekstrem. Jangan hanya mengandalkan simulasi ideal. Dunia nyata jauh lebih kompleks.