Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Artikel opini di harian kompas hari ini yang ada di harian kompas di https://www.kompas.id/artikel/ketika-mobil-listrik-mogok-di-atas-rel?open_from=Section_Terbaru, sangat menarik perhatian Omjay. Kisqh omjay kali ini tak jauh dari topik itu.

Ketika Rel Menguji Takdir: Catatan Omjay dari Tragedi Bekasi yang Menggetarkan Hati
Senin malam, 27 April 2026, menjadi malam yang tak akan mudah dilupakan oleh banyak orang, termasuk saya-Omjay.
Di tengah kesibukan sebagai guru dan pegiat literasi, kabar dari Bekasi itu datang seperti petir di langit cerah.
Sebuah taksi listrik mogok di pelintasan sebidang Jalan Ampera. Dalam hitungan detik, KRL Commuter Line menghantamnya, menyeretnya sejauh puluhan meter. Namun, ternyata itu baru awal dari tragedi panjang yang mengguncang nurani bangsa.
Saya membayangkan detik-detik mencekam itu. Sopir berhasil menyelamatkan diri, tetapi rel tak pernah memberi ruang untuk kesalahan kecil. Sistem terganggu.
Sensor persinyalan rusak. Di tengah kekacauan itu, dari arah berlawanan melaju KA Argo Bromo Anggrek. Sebuah kereta jarak jauh yang tak sempat mengerem. Tabrakan pun tak terelakkan. Gerbong hancur, jeritan terdengar, dan nyawa melayang.
Sebagai seorang guru, hati saya tak hanya sedih, tetapi juga bertanya: apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa sebuah mobil listrik bisa tiba-tiba mati di tengah rel?
Dalam dunia pendidikan, kita diajarkan untuk tidak langsung menyimpulkan tanpa data. Begitu pula dalam tragedi ini. Banyak yang langsung mengaitkan dengan medan elektromagnetik dari rel kereta.
Memang, secara teori, rel elektrifikasi memiliki gangguan elektromagnetik yang tinggi. Bahkan, dalam berbagai kajian ilmiah, lingkungan rel disebut tidak "netral" bagi sistem elektronik.
Namun, sebagai pendidik, saya belajar untuk membedakan antara kemungkinan dan fakta. Hingga saat ini, belum ada bukti ilmiah yang benar-benar memastikan bahwa medan elektromagnetik dari rel dapat mematikan kendaraan listrik.
Hal Ini penting. Jangan sampai kita terjebak pada asumsi, lalu melupakan akar masalah yang sebenarnya.
Saya teringat ketika mengajar di kelas tentang berpikir kritis. Saya selalu mengatakan kepada siswa: "Jangan hanya melihat yang tampak. Gali lebih dalam." Dan dalam kasus ini, semakin saya renungkan, semakin jelas bahwa persoalannya jauh lebih kompleks.
Ada kemungkinan gangguan pada baterai 12 volt---komponen kecil tapi vital dalam kendaraan listrik. Ada juga kemungkinan sistem keselamatan kendaraan justru "terlalu cerdas", seperti fitur pengereman otomatis yang salah membaca situasi. Bahkan, faktor manusia---kepanikan, kesalahan kecil---bisa menjadi pemicu yang berujung besar.
Dan di sinilah saya merasa tersentuh.
Karena tragedi ini bukan sekadar tentang teknologi. Ini tentang manusia. Tentang keputusan dalam sepersekian detik. Tentang sistem yang belum sempurna. Tentang kebijakan yang belum tuntas.
Data yang ada menunjukkan bahwa kecelakaan di pelintasan sebidang bukanlah hal baru. Bahkan sebelum kendaraan listrik hadir, insiden serupa sudah sering terjadi. Ratusan kejadian setiap tahun. Artinya, masalah ini sudah lama ada---hanya saja kini hadir dengan wajah baru.
Sebagai Omjay, saya melihat ini sebagai pelajaran besar bagi kita semua.
Bagi pengemudi, ini adalah pengingat bahwa rel kereta bukan tempat untuk ragu. Sekali melintas, pastikan aman. Tidak ada ruang untuk berhenti, apalagi panik.
Bagi produsen kendaraan, ini adalah alarm keras bahwa teknologi harus diuji dalam kondisi paling ekstrem. Jangan hanya mengandalkan simulasi ideal. Dunia nyata jauh lebih kompleks.
Dan bagi pemerintah serta operator seperti PT Kereta Api Indonesia (Persero), ini adalah momentum untuk mempercepat perubahan. Pelintasan sebidang harus dievaluasi, bahkan jika perlu dihapus secara bertahap. Keselamatan tidak boleh ditawar.
Namun, di balik semua itu, ada sisi kemanusiaan yang tak boleh dilupakan.
Saya membayangkan keluarga korban. Anak yang kehilangan orang tua. Orang tua yang kehilangan anak. Tangis yang tak terdengar di balik berita. Sebagai guru, saya merasa ini bukan hanya tragedi transportasi, tetapi juga tragedi kemanusiaan.
Dan di sinilah literasi menjadi penting.
Kita tidak boleh hanya membaca berita, lalu lupa. Kita harus memahami, mengambil pelajaran, dan menyebarkan kesadaran. Karena bisa jadi, satu pemahaman yang benar hari ini bisa menyelamatkan nyawa di masa depan.
Tragedi Bekasi mengajarkan saya satu hal: hidup ini sering kali ditentukan oleh hal-hal kecil yang kita anggap sepele. Sebuah kendaraan yang berhenti beberapa detik. Sebuah sensor yang terganggu. Sebuah keputusan yang terlambat.
Namun dari hal kecil itu, dampaknya bisa begitu besar.
Sebagai Omjay, saya ingin mengajak kita semua untuk tidak hanya berduka, tetapi juga belajar. Karena setiap peristiwa, seberat apa pun, selalu membawa pesan.
Dan malam itu, rel di Bekasi tidak hanya menjadi saksi tabrakan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa keselamatan adalah tanggung jawab bersama. Semoga kita tidak hanya mengingat tragedinya, tetapi juga mengambil hikmahnya.
Salam Blogger Persahabatan
Omjay/Kakek Jay
Guru Blogger Indonesia
