Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Kisah Omjay kali ini tentang Momentum kebangkitan bangsa tidak pernah lahir dari kemewahan. Ia tumbuh dari kesadaran, perjuangan, dan keberanian untuk berubah.
https://www.youtube.com/watch?v=x6yFwxwCtTk
Semangat itulah yang tergambar kuat dalam poster peringatan Hari Kebangkitan Nasional 2026 yang diterbitkan oleh Persatuan Guru Republik Indonesia. Dalam gasmbar atau poster tersebut, tampak jelas pesan besar bahwa guru bukan sekadar pengajar di ruang kelas, tetapi penjaga masa depan bangsa.
Di bagian atas poster tertulis ucapan:
"Selamat Memperingati Hari Kebangkitan Nasional 2026"
Kalimat itu terlihat sederhana, tetapi memiliki makna mendalam. Hari Kebangkitan Nasional bukan hanya seremoni tahunan setiap tanggal 20 Mei. Hari itu adalah pengingat bahwa bangsa Indonesia pernah bangkit dari keterpurukan melalui pendidikan, persatuan, dan kesadaran kolektif sebagai satu bangsa.
Kebangkitan nasional pertama kali ditandai dengan lahirnya Budi Utomo pada tahun 1908. Organisasi itu menjadi simbol lahirnya kesadaran baru kaum terpelajar Indonesia untuk memperjuangkan kemajuan bangsa melalui pendidikan dan persatuan. Dari sana, bangsa Indonesia mulai memahami bahwa penjajahan tidak hanya dilawan dengan senjata, tetapi juga dengan ilmu pengetahuan dan kecerdasan.
Karena itulah, sangat tepat ketika PGRI menjadikan momentum Hari Kebangkitan Nasional sebagai ajakan untuk memperkuat pendidikan nasional. Dalam poster tersebut tertulis pesan yang sangat kuat:
"Mari kita kobarkan semangat kebangkitan dalam diri, perkuat persatuan, tingkatkan kualitas pendidikan, dan berkontribusi nyata untuk Indonesia yang maju, berdaulat, dan bermartabat."
Kalimat itu bukan sekadar slogan. Itu adalah panggilan moral bagi seluruh guru Indonesia.
Di tengah berbagai tantangan pendidikan saat ini, guru memang menjadi ujung tombak kebangkitan bangsa. Dunia berubah sangat cepat. Teknologi berkembang luar biasa. Artificial Intelligence hadir di mana-mana. Informasi bergerak tanpa batas. Anak-anak tumbuh di era digital yang penuh tantangan sekaligus peluang.
Namun di tengah perubahan besar itu, satu hal tidak berubah: bangsa ini tetap membutuhkan guru.
Guru bukan hanya pengajar mata pelajaran. Guru adalah penanam nilai. Guru adalah penjaga karakter bangsa. Guru adalah cahaya yang membantu anak-anak menemukan arah hidupnya.
Poster tersebut juga menampilkan sosok Prof. Dr. Unifah Rosyidi yang selama ini dikenal sebagai tokoh pendidikan dan pejuang guru Indonesia. Kehadiran beliau dalam poster itu memiliki simbol kuat bahwa perjuangan pendidikan membutuhkan kepemimpinan yang konsisten, berani, dan berpihak kepada guru.
Selama bertahun-tahun, banyak guru menghadapi tantangan yang tidak ringan. Masih ada guru honorer dengan penghasilan terbatas. Masih ada sekolah dengan fasilitas minim. Masih ada guru yang harus berjalan jauh demi mengajar anak-anak di daerah terpencil. Bahkan tidak sedikit guru yang bekerja dalam tekanan administratif yang melelahkan.
Namun luar biasanya, banyak guru tetap bertahan.
Mereka datang pagi-pagi ke sekolah. Mereka mengajar dengan hati. Mereka mendampingi siswa yang kesulitan belajar. Mereka menjadi pendengar ketika anak-anak kehilangan arah. Mereka tetap tersenyum walaupun masalah hidup sering menghimpit.
Itulah sebabnya, ketika kita berbicara tentang kebangkitan nasional, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang kebangkitan guru Indonesia.
Sebab tidak ada bangsa besar tanpa pendidikan yang kuat. Dan tidak ada pendidikan yang kuat tanpa guru yang dihargai.
Bagian paling menarik dalam poster tersebut adalah kalimat:
"Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara."
Kalimat itu sangat dalam maknanya.
"Tunas bangsa" adalah anak-anak Indonesia hari ini. Mereka adalah generasi penerus yang kelak menentukan arah masa depan Indonesia. Jika tunas bangsa dirawat dengan baik melalui pendidikan berkualitas, maka bangsa ini akan tumbuh kuat. Sebaliknya, jika pendidikan diabaikan, maka masa depan bangsa juga akan rapuh.
Kedaulatan negara ternyata tidak hanya dijaga oleh tentara di perbatasan. Kedaulatan bangsa juga dijaga oleh guru di ruang kelas.
Guru menjaga kedaulatan bangsa melalui ilmu pengetahuan. Guru menjaga kedaulatan bangsa melalui pendidikan karakter. Guru menjaga kedaulatan bangsa dengan menanamkan cinta tanah air kepada peserta didik.
Karena itu, perjuangan guru sejatinya adalah perjuangan kebangsaan.
Poster tersebut juga memperlihatkan beberapa guru muda mengangkat tangan penuh semangat sambil membawa bendera Merah Putih. Gambar itu melambangkan optimisme. Bahwa pendidikan Indonesia masih memiliki harapan besar jika seluruh elemen bangsa bersatu.
Semangat kebangkitan nasional tidak boleh berhenti menjadi seremoni tahunan. Semangat itu harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Sekolah harus menjadi tempat yang menyenangkan bagi siswa. Guru harus terus belajar dan berkembang. Pemerintah harus lebih serius memperhatikan kesejahteraan guru. Orang tua harus mendukung pendidikan anak-anaknya. Masyarakat harus kembali menghormati profesi guru.
Kita tidak bisa membangun Indonesia maju jika pendidikan hanya dijadikan pelengkap kebijakan. Pendidikan harus menjadi prioritas utama bangsa.
Sebagaimana dahulu para pendiri bangsa bangkit melalui pendidikan, hari ini Indonesia juga membutuhkan kebangkitan baru. Kebangkitan moral. Kebangkitan literasi. Kebangkitan karakter. Kebangkitan budaya belajar. Dan semua itu dimulai dari ruang kelas.
Sebagai Dr. Wijaya Kusumah atau Omjay sering sampaikan dalam berbagai tulisan dan pelatihan, guru sejatinya bukan hanya mengajar pelajaran, tetapi juga menyalakan harapan. Satu kata dari guru bisa mengubah masa depan seorang anak. Satu perhatian kecil dari guru bisa menyelamatkan siswa yang hampir menyerah.
Itulah kekuatan pendidikan.
Hari Kebangkitan Nasional 2026 menjadi momentum penting untuk kembali menyadarkan kita bahwa pendidikan adalah fondasi utama bangsa. Jika ingin Indonesia maju, maka bangkitkan dulu kualitas pendidikannya. Jika ingin Indonesia berdaulat, maka muliakan dulu gurunya.
Mari kita jadikan Hari Kebangkitan Nasional bukan sekadar upacara dan ucapan di media sosial. Jadikan momentum ini sebagai gerakan bersama untuk membangun pendidikan Indonesia yang lebih manusiawi, berkualitas, dan bermartabat.
Sebab bangsa yang besar bukan bangsa yang hanya kaya sumber daya alam, tetapi bangsa yang mampu mendidik generasi mudanya dengan baik.
Dan di balik lahirnya generasi hebat Indonesia, selalu ada guru yang bekerja dengan hati.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay -- Kakek Jay
Guru blogger indonesia
