Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Kisah Omjay kali ini tentang Langkah ke Masjid yang Mengubah Segalanya. Semoga bermanfaat buat pembaca Kompasiana.
Saat itu suara adzan Subuh dari masjid al maidah ujung kampung Jatibening menembus jendela rumah tembok Omjay. Udara Bekasi masih dingin, embun masih menempel di daun jambu depan rumah.
Omjay duduk di tepi ranjang. Usia Omjay sekarang sudah 55 tahun. Rambut Omjay sudah mulai memutih, punggungnya juga sering pegal karena dulu pernah kerja di proyek bangunan sebelum akhirnya jadi guru. Dulu, waktu masih muda, Omjay sering berpikir: "Shalat mah nanti aja. Yang penting kerja dulu. Di rumah juga bisa."
Pikiran itu lalu berubah setelah suatu malam di bulan puasa. Malam itu Omjay begadang nonton bola piala dunia. Jam 3 pagi Omjay tertidur di sofa.
Tiba-tiba Omjay bermimpi didatangi seseorang berpakaian putih. Wajahnya teduh, tapi suaranya berat. "Waktumu mati tidak kamu tahu kapan. Jaga yang lima itu."
Omjay terbangun dengan jantung berdebar. Keringat dingin keluar dari tubuh. Sejak itu kalimat itu tidak pernah hilang dari kepalanya: manusia tidak tahu kapan Malaikat maut menghampiri kita.
Keesokan harinya Omjay ke masjid Al Maidah. Bukan karena disuruh siapa-siapa. Tapi karena takut. Takut kalau dipanggil dalam keadaan lalai.
https://youtu.be/gCECXnkiWKc?si=7Ja2h8b0sBCoiChV
Awal yang berat
Jujur saja, awal-awal itu berat. Bangun Subuh rasanya seperti perang dengan selimut. Jalan ke masjid 300 meter itu terasa jauh. Lutut Omjay bunyi kriet-kriet. Tetangga sering meledek, "Lho Pak Jay, kok rajin banget sekarang?"