Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Anggaran MBG Tidak Boleh Lagi Diambil Dari Anggaran Pendidikan

30 Juli 2026   22:11 Diperbarui: 31 Juli 2026   07:03 217 5 5

MBG di Rumah/dokpri
MBG di Rumah/dokpri

Anggaran MBG Tidak Boleh Lagi Diambil Dari Anggaran Pendidikan. Kisah Omjay: Ketika Guru Menjaga Amanat Konstitusi, Harapan Pendidikan Indonesia Kembali Menyala.

Kamis, 30 Juli 2026 menjadi salah satu hari yang akan dikenang dalam perjalanan dunia pendidikan Indonesia. Pada hari itu, Mahkamah Konstitusi membacakan putusan mengenai pengujian anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini menjadi perbincangan hangat. 

[FULL] Putusan MK: Program MBG Tak Boleh Lagi Pakai Anggaran Pendidikan di APBN!

Inti putusan tersebut menegaskan bahwa pada masa mendatang pendanaan MBG tidak boleh lagi dibebankan pada porsi anggaran pendidikan sebagaimana amanat Pasal 31 Ayat (4) UUD 1945, sehingga pemerintah perlu menyiapkan sumber pendanaan lain tanpa mengurangi prioritas anggaran pendidikan. Putusan ini sekaligus menegaskan pentingnya menjaga amanat konstitusi mengenai alokasi anggaran pendidikan.

Ketika membaca kabar tersebut, saya langsung teringat pada ribuan guru yang setiap hari berangkat ke sekolah dengan semangat meskipun menghadapi berbagai keterbatasan. 

Saya juga teringat kepada sahabat-sahabat di Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) serta berbagai pihak yang berjuang melalui jalur konstitusi. Mereka tidak sedang melawan program makan bergizi. Mereka memperjuangkan agar pendidikan tetap memperoleh haknya sebagaimana dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945.

Sebagai seorang guru yang telah puluhan tahun mengabdikan diri di dunia pendidikan, saya memahami bahwa sekolah membutuhkan banyak dukungan. Guru membutuhkan pelatihan yang berkualitas. Siswa membutuhkan buku yang baik. 

Sekolah membutuhkan fasilitas yang memadai. Anak-anak Indonesia membutuhkan guru yang sejahtera agar mampu mengajar dengan hati. Semua itu membutuhkan keberpihakan anggaran yang jelas dan berkelanjutan.

Saya percaya bahwa tidak ada guru yang menolak anak-anak mendapatkan makanan bergizi. Justru guru adalah orang pertama yang merasa bahagia ketika melihat peserta didiknya datang ke sekolah dalam keadaan sehat, kuat, dan siap belajar. 

Namun di sisi lain, guru juga memahami bahwa kualitas pendidikan tidak hanya dibangun dari makanan bergizi, melainkan juga dari kualitas pembelajaran, kompetensi guru, sarana pendidikan, beasiswa, serta berbagai program yang mendukung proses belajar mengajar.

Karena itulah perjuangan melalui Mahkamah Konstitusi menjadi pelajaran penting bagi bangsa ini. Ketika ada persoalan yang dianggap menyangkut amanat konstitusi, penyelesaiannya dilakukan melalui jalur hukum, bukan dengan kebencian ataupun permusuhan. 

Inilah wajah demokrasi yang sehat. Perbedaan pandangan tidak harus berakhir dengan perpecahan. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi jalan menemukan kebijakan yang lebih baik bagi seluruh rakyat Indonesia.

Saya membayangkan betapa panjang proses yang dilalui oleh para pemohon. Mereka harus menyiapkan dokumen, menghadirkan argumentasi, mengikuti persidangan demi persidangan, mendengarkan pendapat para ahli, hingga akhirnya menunggu putusan dibacakan. 

Semua itu tentu membutuhkan tenaga, waktu, pikiran, bahkan keberanian. Tidak semua orang bersedia memperjuangkan sesuatu yang hasilnya belum tentu sesuai harapan.

Di sinilah saya belajar bahwa perubahan besar selalu dimulai dari orang-orang yang tidak menyerah. Mereka mungkin dikritik. Mereka mungkin disalahpahami. Bahkan mungkin dianggap sedang menghambat sebuah program pemerintah. 

Namun apabila niatnya adalah menjaga amanat konstitusi dan memperkuat pendidikan nasional, perjuangan itu patut dihargai.

Sebagai guru, saya juga belajar bahwa perjuangan tidak selalu dilakukan di ruang kelas. Ada yang berjuang dengan mengajar sepenuh hati. Ada yang berjuang dengan menulis. 

Ada yang berjuang melalui penelitian. Ada pula yang berjuang melalui jalur hukum demi memastikan hak pendidikan tetap terlindungi. Semua memiliki tujuan yang sama, yaitu menghadirkan masa depan Indonesia yang lebih baik.

Saya berharap putusan ini tidak dipandang sebagai kemenangan satu kelompok dan kekalahan kelompok lain. Pendidikan bukan arena menang atau kalah. Pendidikan adalah rumah besar bangsa Indonesia. 

Semua pihak memiliki tanggung jawab untuk menjaganya. Pemerintah tetap dapat menjalankan program-program yang berpihak kepada masyarakat, sementara amanat konstitusi mengenai anggaran pendidikan tetap dihormati sesuai putusan Mahkamah Konstitusi.

Bagi para guru, jangan pernah lelah menjadi penjaga cahaya peradaban. Jangan berkecil hati ketika perjuangan terasa panjang. Sejarah menunjukkan bahwa setiap kemajuan pendidikan selalu lahir dari orang-orang yang memiliki keberanian memperjuangkan kebenaran dengan cara yang bermartabat.

Saya teringat sebuah kalimat sederhana yang selalu saya pegang selama menjadi guru: pendidikan bukan sekadar mengajar anak menjadi pintar, tetapi juga mengajarkan kepada mereka bagaimana menjaga nilai, keadilan, dan kejujuran. 

Hari ini kita mendapatkan contoh nyata bahwa konstitusi hadir untuk melindungi hak setiap warga negara, termasuk hak memperoleh pendidikan yang layak.

Terima kasih kepada semua pihak yang telah mengawal proses ini dengan penuh tanggung jawab. Terima kasih kepada para hakim konstitusi yang telah menjalankan tugasnya sesuai kewenangan. 

Terima kasih kepada organisasi guru, akademisi, orang tua, mahasiswa, dan masyarakat yang terus mengingatkan bahwa pendidikan adalah investasi terbesar sebuah bangsa.

Sebagai Omjay, saya tetap mengajak seluruh guru Indonesia untuk terus menebarkan semangat optimisme. Apa pun dinamika kebijakan yang terjadi, jangan pernah menghentikan langkah kita untuk mendidik. Anak-anak Indonesia menunggu kehadiran guru yang penuh kasih sayang, berintegritas, dan selalu membawa harapan.

Mari kita jadikan momentum ini sebagai pengingat bahwa pendidikan bukan sekadar urusan anggaran, melainkan tentang masa depan bangsa. Setiap rupiah yang digunakan untuk pendidikan harus benar-benar kembali kepada peserta didik, guru, sekolah, dan peningkatan mutu pembelajaran. 

Dengan demikian, Indonesia tidak hanya memiliki generasi yang sehat, tetapi juga generasi yang cerdas, berkarakter, kreatif, dan siap menghadapi tantangan zaman.

Akhirnya, saya ingin menutup tulisan ini dengan kalimat yang selalu saya gaungkan kepada para guru di seluruh Indonesia:

"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi."

Karena melalui tulisan, gagasan akan hidup. Melalui gagasan, perubahan akan lahir. Dan melalui perjuangan yang dilakukan dengan hati, pendidikan Indonesia akan terus berdiri kokoh sebagai fondasi kemajuan bangsa.

Salam Blogger Persahabatan

Omjay/Kakek Jay

Guru Blogger Indonesia

Blog https://wijayalabs.com

Omjay guru blogger Indonesia/dokpri
Omjay guru blogger Indonesia/dokpri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4