Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Seorang Ayah Tidak Menyusui Tapi...

31 Juli 2026   16:59 Diperbarui: 1 Agustus 2026   09:45 192 4 1

omjay bersama keluarga/dokpri
omjay bersama keluarga/dokpri

Geli juga kalau seorang ayah ikut menyusui seperti seorang ibu. Inilah Kisah Omjay: Seorang Ayah Tidak Menyusui, Tetapi Bisa Menjadi Mata Air Cinta bagi Anaknya untuk pembaca kompasiana tercinta.

https://youtu.be/znNTOkeOeeA?si=yQhNcYTx_55HPc74

Ketika anak lahir ke dunia, perhatian hampir seluruh keluarga tertuju kepada ibu. Memang benar, ibu adalah sosok yang mengandung selama sembilan bulan, melahirkan dengan mempertaruhkan nyawa, lalu menyusui dengan penuh kasih sayang. 

Tidak ada yang dapat menggantikan peran itu. Namun, ada satu sosok yang sering kali terlupakan, padahal kehadirannya sangat menentukan keberhasilan perjalanan seorang ibu menyusui. Sosok itu adalah ayah.

Saya teringat ketika kedua putri saya masih bayi. Banyak orang mengira tugas seorang ayah hanya bekerja mencari nafkah. Pulang ke rumah membawa uang, lalu selesai. Padahal, menjadi ayah jauh lebih luas daripada sekadar memenuhi kebutuhan ekonomi. 

Seorang ayah memang tidak dapat menyusui bayinya secara biologis, tetapi ia dapat "menyusui" keluarganya dengan perhatian, tenaga, waktu, kesabaran, dan cinta yang tidak pernah habis.

Saat istri terbangun tengah malam karena tangisan bayi, saya belajar untuk ikut terbangun. Ketika istri kelelahan setelah menyusui, saya mengambil alih menggendong bayi agar ia bisa beristirahat sejenak. 

Saya mengganti popok, menyiapkan air hangat, memijat punggung istri yang pegal, bahkan sekadar menyeduhkan segelas teh hangat. Tugas-tugas kecil itu tampak sederhana, tetapi justru di sanalah cinta seorang suami diuji. Dukungan emosional dari suami terbukti membantu ibu lebih tenang dan percaya diri dalam menyusui. Perasaan dicintai dan didukung dapat membantu proses menyusui berjalan lebih baik.

Dari pengalaman itulah saya memahami bahwa membesarkan anak bukan pekerjaan seorang ibu, melainkan proyek besar sebuah keluarga. Anak membutuhkan ASI dari ibunya, tetapi ibu membutuhkan semangat dari suaminya. Bayi membutuhkan pelukan ibunya, tetapi ibu membutuhkan pelukan suaminya agar tetap kuat menjalani hari-hari yang melelahkan.

Sebagai guru, saya sering bertemu orang tua yang begitu sibuk mengejar karier hingga lupa menikmati masa-masa emas pertumbuhan anak. Padahal, waktu tidak pernah bisa diputar kembali. Tangisan bayi yang hari ini terasa melelahkan suatu saat akan dirindukan. Langkah pertama anak yang tertatih-tatih hanya terjadi sekali. Kata "Ayah" yang pertama kali terucap tidak akan pernah terulang dengan cara yang sama.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2