Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Geli juga kalau seorang ayah ikut menyusui seperti seorang ibu. Inilah Kisah Omjay: Seorang Ayah Tidak Menyusui, Tetapi Bisa Menjadi Mata Air Cinta bagi Anaknya untuk pembaca kompasiana tercinta.
https://youtu.be/znNTOkeOeeA?si=yQhNcYTx_55HPc74
Ketika anak lahir ke dunia, perhatian hampir seluruh keluarga tertuju kepada ibu. Memang benar, ibu adalah sosok yang mengandung selama sembilan bulan, melahirkan dengan mempertaruhkan nyawa, lalu menyusui dengan penuh kasih sayang.
Tidak ada yang dapat menggantikan peran itu. Namun, ada satu sosok yang sering kali terlupakan, padahal kehadirannya sangat menentukan keberhasilan perjalanan seorang ibu menyusui. Sosok itu adalah ayah.
Saya teringat ketika kedua putri saya masih bayi. Banyak orang mengira tugas seorang ayah hanya bekerja mencari nafkah. Pulang ke rumah membawa uang, lalu selesai. Padahal, menjadi ayah jauh lebih luas daripada sekadar memenuhi kebutuhan ekonomi.
Seorang ayah memang tidak dapat menyusui bayinya secara biologis, tetapi ia dapat "menyusui" keluarganya dengan perhatian, tenaga, waktu, kesabaran, dan cinta yang tidak pernah habis.
Saat istri terbangun tengah malam karena tangisan bayi, saya belajar untuk ikut terbangun. Ketika istri kelelahan setelah menyusui, saya mengambil alih menggendong bayi agar ia bisa beristirahat sejenak.
Saya mengganti popok, menyiapkan air hangat, memijat punggung istri yang pegal, bahkan sekadar menyeduhkan segelas teh hangat. Tugas-tugas kecil itu tampak sederhana, tetapi justru di sanalah cinta seorang suami diuji. Dukungan emosional dari suami terbukti membantu ibu lebih tenang dan percaya diri dalam menyusui. Perasaan dicintai dan didukung dapat membantu proses menyusui berjalan lebih baik.
Dari pengalaman itulah saya memahami bahwa membesarkan anak bukan pekerjaan seorang ibu, melainkan proyek besar sebuah keluarga. Anak membutuhkan ASI dari ibunya, tetapi ibu membutuhkan semangat dari suaminya. Bayi membutuhkan pelukan ibunya, tetapi ibu membutuhkan pelukan suaminya agar tetap kuat menjalani hari-hari yang melelahkan.
Sebagai guru, saya sering bertemu orang tua yang begitu sibuk mengejar karier hingga lupa menikmati masa-masa emas pertumbuhan anak. Padahal, waktu tidak pernah bisa diputar kembali. Tangisan bayi yang hari ini terasa melelahkan suatu saat akan dirindukan. Langkah pertama anak yang tertatih-tatih hanya terjadi sekali. Kata "Ayah" yang pertama kali terucap tidak akan pernah terulang dengan cara yang sama.
Saya belajar bahwa anak-anak tidak akan mengingat berapa besar gaji ayahnya. Mereka akan mengingat apakah ayah hadir ketika mereka membutuhkan. Mereka akan mengenang siapa yang menemani belajar bersepeda, membacakan dongeng sebelum tidur, mengusap air mata ketika jatuh, atau memeluk mereka ketika takut menghadapi dunia.
Di era modern ini, banyak ayah mulai menyadari bahwa pengasuhan bukan lagi pekerjaan yang dibagi berdasarkan jenis kelamin. Ayah tidak kehilangan wibawa ketika mencuci botol susu, menyiapkan makanan, atau menggendong bayi. Justru di situlah letak kehebatan seorang laki-laki. Ia tetap kuat bekerja di luar rumah, tetapi juga lembut ketika berada di tengah keluarganya.
Saya bersyukur pernah menikmati fase-fase sederhana bersama keluarga. Pengalaman itu mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari rumah yang besar atau kendaraan yang mewah. Kebahagiaan sering hadir dari ruang tamu yang dipenuhi tawa anak-anak, dari makan malam bersama, dari obrolan sederhana sebelum tidur, dan dari rasa saling menguatkan ketika hidup sedang tidak mudah.
Kini anak-anak telah tumbuh dewasa. Mereka memiliki jalan hidup masing-masing. Namun, saya percaya, benih kasih sayang yang ditanam sejak mereka kecil akan terus hidup sepanjang usia. Tidak semua pelajaran diberikan melalui kata-kata. Banyak pelajaran justru lahir dari teladan. Ketika seorang ayah menghormati istrinya, anak belajar menghargai perempuan. Ketika seorang ayah membantu pekerjaan rumah tanpa diminta, anak belajar tentang kerja sama. Ketika seorang ayah hadir dalam suka maupun duka, anak belajar arti tanggung jawab.
Karena itu, saya selalu mengajak para ayah untuk tidak merasa cukup hanya dengan mencari nafkah. Jadilah sahabat bagi istri, teman bermain bagi anak, sekaligus guru pertama yang mengajarkan nilai kehidupan. Seorang ayah memang tidak menyusui bayinya, tetapi ia dapat menguatkan hati ibu, menenangkan rumah, dan menumbuhkan rasa aman bagi seluruh keluarga. Itulah "ASI" terbaik yang hanya bisa diberikan oleh seorang ayah: Aman, Sayang, dan Inspirasi.
Menjadi ayah bukan sekadar status yang tercantum di kartu keluarga. Menjadi ayah adalah pilihan untuk selalu hadir, mendampingi, dan mencintai tanpa syarat. Sebab, pada akhirnya anak-anak tidak membutuhkan ayah yang sempurna. Mereka hanya membutuhkan ayah yang selalu ada ketika mereka memanggil, "Ayah..."
Salam blogger persahabatan
Omjay/Kakek Jay
