Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil OMJAY. Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, Menulis lah di blog Kompasiana Sebelum Tidur. HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Mengapa Rakyat Aceh Marah?

16 Agustus 2026   19:56 Diperbarui: 16 Agustus 2026   20:22 340 4 0

Ilustrasi artikel/chatgpt
Ilustrasi artikel/chatgpt

Aceh Kondusif, tapi Api Itu Belum Padam

Oleh: Omjay Guru Blogger Indonesia Blog https://wijayalabs.com

Pagi itu saya membaca berita tentang Aceh sambil menyeruput Koptagul. Saya berhenti sejenak. Ada sesuatu yang membuat hati saya tidak nyaman. Bukan karena saya ingin memperbesar keributan, tetapi karena Aceh adalah bagian penting dari perjalanan panjang bangsa Indonesia. Aceh punya sejarah, punya luka, punya kebanggaan, dan tentu saja punya cerita perdamaian yang tidak boleh kita lupakan.


Tanggal 15 Agustus 2026 seharusnya menjadi hari yang penuh makna. Tepat 21 tahun sebelumnya, Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menandatangani Nota Kesepahaman atau MoU Helsinki yang mengakhiri konflik bersenjata selama puluhan tahun. Kesepakatan itu menjadi titik balik penting bagi Aceh dan Indonesia.

Namun, peringatan 21 tahun perdamaian Aceh justru diwarnai kericuhan di sekitar Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

Merah Putih diturunkan. Bendera Bulan Bintang dikibarkan. Aparat yang berusaha mengendalikan keadaan mendapat lemparan benda dari massa. Bahkan Wakapolda Aceh yang mencoba masuk ke tengah kerumunan dilaporkan diusir dan dilempari.

Dalam perkembangan berikutnya, kericuhan juga merembet ke kawasan Pendopo Gubernur Aceh. Lambang Garuda menjadi sasaran. Peristiwa seperti ini tentu membuat banyak orang bertanya-tanya: mengapa setelah 21 tahun perdamaian, masih ada suara yang meneriakkan kemerdekaan Aceh?

Jawabannya tidak sederhana.

Kita tidak boleh langsung mengatakan bahwa rakyat Aceh ingin merdeka. Rakyat Aceh bukan satu suara. Ada masyarakat yang merasa sangat Indonesia, ada yang bangga dengan kekhususan Aceh, ada yang masih menyimpan memori konflik, dan tentu ada pula kelompok atau individu yang masih membawa gagasan kemerdekaan.


HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9